Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Santet Itu Imajinasi!

Sudah saatnya kita bersuara lantang menyampaikan bahwa santet itu tak perlu ditakuti. Mengingat santet itu hanya imajinasi dan tidak bisa memberikan efek apapun pada orang lain. Secara hakiki, yang menciptakan efek itu bukan santetnya, melainkan Tuhan. Santet hanyalah sebab yang Tuhan jadikan.  Santet, sihir, guna-guna, jampi-jampi, atau apapun namanya, tidak dapat memberikan efek apapun, kecuali atas izin Tuhan. Dan inilah tauhid yang benar. Tauhid yang benar adalah meyakini bahwa Tuhanlah Sang Pengatur Sejati. Tanpa Tuhan kehendaki, apapun tak akan terjadi. Orang kena virus ya mati. Kena bacok bisa mati. Minum sampai overdosis juga mati. Ditabrak mobil juga mati. Begitu juga dengan santet/sihir. Jadi, santet itu tak perlu ditakuti sedemikian rupa. Yang mematikan kita sebenarnya adalah Tuhan, bukan benda-benda itu. Hakikat sihir itu sendiri masih terjadi silang pendapat di antara para ulama. Apakah sihir itu benar-benar ada atau tidak. Mayoritas Ahlusunah menyatakan bahwa sihir me...

Jika Tuhan Ada, Sejak Kapan Dia Ada?

Sebelum menjawab pernyataan ini, kita akan analisis dulu kata “kapan”. Kata “kapan” ini secara otomatis merujuk pada waktu, yaitu keberwaktuan suatu kejadian. Artinya, pertanyaan “sejak kapan?” hendak meminta penjelasan tentang bagaimana sesuatu dinisbatkan pada waktu.  Namun, hakikat waktu itu sendiri masih diperdebatkan oleh para pakar. Bahkan, soal keberadaan waktu itu sendiri, mereka masih bersilang pendapat. Apakah waktu itu benar-benar ada, atau dia hanya sekadar ilusi belaka? Setingkat Imam Ar-Razi saja, dalam Al-Mabahits al-Masyriqiyah, sebagaimana dikutip Muhammad Nuruddin, masih mengaku bahwa dia masih belum sampai pada kesimpulan final yang memuaskan tentang hakikat waktu. Memang tak mudah mendefinisikan istilah waktu. Meskipun kita sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Dalam perspektif para teolog, waktu itu diartikan dengan: متجدد معلوم، يقدر به متجدد موهوم "Suatu hal baru yang diketahui, yang dengannya sesuatu yang lain yang masih samar itu bisa diketah...

Apakah Tuhan “Nganggur” Sebelum Mencipta Alam?

Sebelum menjawab kata “nganggur”, kita analisis dulu kata “sebelum” dari pernyataan di atas. Sejak awal, pertanyaan: “apakah Tuhan nganggur sebelum mencipta alam” itu problematik. Di mana letak problemnya? Tepatnya pada kata “sebelum”.  Kata “sebelum” itu hanya bisa diletakkan pada sesuatu yang berwaktu. Karena, ke-sebelum-an itu sendiri merupakan konsep waktu. Sedangkan, kita semua tahu bahwa waktu itu adalah makhluk, bukan azali. Dalam pandangan teologi Islam, waktu itu tercipta bersamaan dengan makhluk. Alam ini tidak diciptakan dalam waktu, tapi ketika alam tercipta, maka waktu juga tercipta. Artinya, waktu itu baru ada seiring dengan terciptanya alam. Siapa pencipta waktu dan alam? Jawabannya pasti Tuhan. Karena Tuhan yang menciptakan waktu, maka tidak logis jika Tuhan dikatakan sebagai sesuatu yang berwaktu. Sebab, waktu itu makhluk, Tuhan bukan makhluk.  Nah, Tuhan itu qadim (ada tanpa permulaan). Tuhan ada tanpa terikat oleh waktu, artinya Tuhan bukan makhluk. Bagaiman...

Mu'tazilah Itu Percaya Sifat-sifat Tuhan!

Mu'tazilah tidak “mengingkari sifat-sifat Allah” dalam arti menolak seluruh predikat/sifat yang dinisbahkan kepada Allah. Mereka justru menerima bahwa Allah mempunyai sifat-sifat, seperti sifat kekuasaan, kehendak, ilmu, hidup, pendengaran, penglihatan, dan kalam.  Namun, mereka mengatakan bahwa “semua sifat itu adalah dzat itu sendiri” (al-shifat ‘ain al-dzat). Sifat ma'ani adalah dzat, bukan sifat.  Pemahaman Mu'tazilah ini, tentu berbeda dengan sekte Ahlusunah yang mengatakan bahwa “sifat ma'ani itu bukan dzat”. Dzat/esensi adalah hal lain, dan sifat/atribut adalah hal yang lain pula. Kata Ahlusunah, dzat dan sifat adalah dua hal yang berbeda. Dzat adalah sesuatu yang memiliki sifat, sementara sifat adalah sesuatu yang berada dalam dzat. Dzat dan sifat adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dan perlu diperhatikan, bahwa sesuatu dikatakan dzat bukan karena dia terlihat, melainkan karena dia memiliki sifat. Jin itu dzat apa bukan? Dia dzat. Terlihat atau tid...

Ketakterbatasan Tuhan dan Keterbatasan Definisi: Mengapa Tuhan Tak Bisa Didefinisikan?

Dalam ilmu logika, pertanyaan manusia dapat dibagi menjadi dua bentuk utama: Pertama, pertanyaan yang menggunakan kata “apa” yang ditujukan untuk menyingkap esensi atau hakikat sesuatu (mahiyyah). Jawaban yang tepat dari pertanyaan "apa" adalah bersifat tunggal dan menunjukkan batasan hakikat sesuatu. Kedua, pertanyaan yang menggunakan kata “siapa” yang ditujukan untuk mengenal atribut, sifat, identitas, atau predikat yang melekat pada sesuatu. Jawaban yang tepat dari pertanyaan "siapa" adalah bisa bermacam-macam, tergantung sudut pandang orang yang menjawab. Dengan demikian, kata “apa” dipakai untuk menyingkap hakikat sesuatu, sementara kata “siapa” dipakai untuk mengenal sifat atau aksiden sesuatu. Misalnya, ada orang bertanya: "apa itu Ronaldo?" Maka, jawaban yang tepat hanya ada satu, yaitu manusia. Ronaldo adalah manusia. Karena kata “manusia” dengan sendirinya sudah menjelaskan esensi utuh dari seorang Ronaldo. Tapi, ketika orang bertanya: “siapa itu...

Guru Gembul Berulah Lagi: Menyeret Pesantren ke Tradisi Hindu-Buddha.

Pada tanggal 29 Juli 2025, di kanal YouTube IndonesiaSadar, Guru Gembul kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ia menjawab pertanyaan netizen dengan jawaban yang parsial dan cenderung menyederhanakan sejarah. Guru Gembul mengklaim bahwa tradisi mondok berasal dari masyarakat Nusantara, tepatnya dari tradisi Hindu-Buddha, bukan dari tradisi Islam. Menurutnya, orang-orang Islam melihat tradisi itu bagus, lalu menerapkannya di Indonesia hingga lahirlah pondok pesantren. Tulisan kali ini bertujuan untuk mengkritik sekaligus meluruskan kesalahpahaman Guru Gembul atas klaim tersebut. Saya akan mengulas pernyataan Guru Gembul satu per satu, lalu menutup dengan kesimpulan akhir. Klaim pertama Guru Gembul, "Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara." Pernyataan ini hanya klaim buta. Tanpa dasar, dan tanpa data. Tradisi mondok (tinggal di tempat belajar) itu sudah ada sejak masa Nabi Muhammad. Pondok pesantrennya ...

Nabi Muhammad: Murid Kehidupan, Guru Kemanusiaan

Beliau lahir dalam keadaan yatim, tanpa didampingi dan dibimbing seorang ayah. 6 tahun usia, ibunya pun pergi tuk selamanya. Beliau pun menjadi yatim piatu di tengah gurun pasir yang tandus. Seakan-akan takdir sedang menyiapkan seorang anak didik khusus, seorang murid yang digembleng langsung oleh kehidupan itu sendiri.  Beliau tidak tumbuh di pusat peradaban besar, seperti Yunani, Romawi, Mesir, dan India. Beliau tumbuh di lingkungan Arab-Mekkah, yang kala itu hanyalah titik kering di padang pasir, dengan masyarakat yang masih terikat tradisi jahiliah.  Beliau tidak mengenyam pendidikan formal sebagaimana yang kita kenal hari ini. Tidak pula seorang murid dari sekolah-sekolah besar, tidak pula duduk di majelis para filsuf atau ilmuwan. Beliau adalah penggembala kambing, sebuah profesi sederhana namun sarat latihan kesabaran, dan ketekunan.  Setelah itu, beliau beranjak menjadi pedagang, belajar tentang kejujuran, kecermatan, dan tanggung jawab melalui interaksi dagang. S...

Al-Quran, Hadis Qudsi, Hadis Nabi: Sama, Tapi Tidak Sama

Sebagian pemikir liberalis dan orientalis, sering mengajukan pandangan bahwa Al-Quran itu seratus persen kalam Allah, juga seratus persen kalam Nabi. Mereka mengklaim bahwa Al-Quran itu maknanya dari Allah, sedangkan lafadznya dari Nabi Muhammad. Nabi Muhammad sendiri yang merangkai lafadz dan mengubah makna non-verbal itu menjadi ucapan manusia. Para liberalis seringkali menunjukkan bahwa wahyu yang disampaikan kepada Nabi itu bersifat non-verbal (bukan ucapan atau ungkapan), dan peran Nabi memverbalkannya dengan lafadz dan bunyi. Jika klaim mereka ini diterima, maka secara otomatis Al-Quran itu tidak ada bedanya dengan hadis, baik hadis qudsi atau hadis nabawi. Karena hadis itu, maknanya dari Allah, dan lafadznya dari Nabi Muhammad. Lantas apa bedanya antara hadis dan Al-Quran, semua sama-sama dari ucapan manusia, sama-sama dari seorang manusia yang merangkai lafadznya? Al-Quran dan hadis –selain ijma’ dan qiyas– merupakan sumber primer hukum Islam menurut paham Ahlusunah Waljamaah. ...