Mu'tazilah tidak “mengingkari sifat-sifat Allah” dalam arti menolak seluruh predikat/sifat yang dinisbahkan kepada Allah. Mereka justru menerima bahwa Allah mempunyai sifat-sifat, seperti sifat kekuasaan, kehendak, ilmu, hidup, pendengaran, penglihatan, dan kalam.
Namun, mereka mengatakan bahwa “semua sifat itu adalah dzat itu sendiri” (al-shifat ‘ain al-dzat). Sifat ma'ani adalah dzat, bukan sifat.
Pemahaman Mu'tazilah ini, tentu berbeda dengan sekte Ahlusunah yang mengatakan bahwa “sifat ma'ani itu bukan dzat”. Dzat/esensi adalah hal lain, dan sifat/atribut adalah hal yang lain pula.
Kata Ahlusunah, dzat dan sifat adalah dua hal yang berbeda. Dzat adalah sesuatu yang memiliki sifat, sementara sifat adalah sesuatu yang berada dalam dzat. Dzat dan sifat adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Dan perlu diperhatikan, bahwa sesuatu dikatakan dzat bukan karena dia terlihat, melainkan karena dia memiliki sifat. Jin itu dzat apa bukan? Dia dzat. Terlihat atau tidak? Tidak. Apakah jin punya sifat? Iya punya. Dengan demikian sesuatu yang memiliki sifat itu kita namai sebagai dzat. Dan sesuatu yang berada dalam dzat itu kita namai sebagai sifat.
Pertengkaran antara sekte Mu'tazilah dan Ahlusunah terletak pada "sifat ma'ani" yang tujuh itu. Mu'tazilah berpandangan bahwa sifat ma'ani adalah dzat itu sendiri (‘ain al-dzat). Sebaliknya, Ahlusunah berpandangan bahwa sifat ma'ani itu adalah sifat, bukan dzat.
Singkatnya, kata Mu'tazilah, sifat ma'ani adalah dzat itu sendiri, sedangkan kata Ahlusunah, sifat ma'ani itu berbeda dengan dzat. Sifat itu bukan dzat, dari sudut maknanya, juga bukan selain dzat, dari sudut wujudnya.
Namun, sekeras apapun perdebatan antara sekte Mu'tazilah dan Ahlusunah, perdebatan itu hanya terjadi dalam “soal sifat” saja. Bukan dalam “soal dzat”. Soal dzat keduanya sepakat bahwa dzat Allah itu hanya ada satu, tidak lebih. Dzat Allah tidak berbilang.
Mengapa Mu'tazilah berpandangan bahwa sifat ma'ani itu adalah dzat itu sendiri? Karena dalam bayangan mereka, sifat-sifat itu jumlahnya sangat banyak. Jika semua sifat itu diyakini qadim (tidak memiliki permulaan), maka konsekuensinya adalah ada banyak sifat-sifat Tuhan yang diyakini qadim. Dan itu mustahil.
Kita tahu, Mu'tazilah itu adalah kelompok yang sangat menjunjung tinggi tauhid (keesaan Tuhan). Jika sifat-sifat itu diyakini qadim, dan sifat itu jumlahnya banyak, maka konsekuensinya ada banyak sesuatu yang qadim. Dan keyakinan seperti itu, kata Mu'tazilah, hampir mirip dengan orang Kristen, dimana mereka meyakini keberbilangan Tuhan.
Nah, yang qadim itu, kata Mu'tazilah, hanya ada satu. Tidak lebih. Karenanya, mereka bersuara lantang bahwa sifat ma'ani itu bukan sesuatu yang berbeda dengan dzat, melainkan dzat itu sendiri. Mereka mengira bahwa itu keyakinan yang senafas dengan tauhid (keesaan Tuhan).
Jadi, sebenarnya ada khawatiran dari kelompok Mu'tazilah. Mereka khawatir, jika sifat-sifat itu dianggap berbeda dari dzat dan masing-masing bersifat qadim, maka akan ada banyak hal yang qadim.
Menurut Mu‘tazilah, hal ini akan merusak tauhid, bahkan bisa menyerupai keyakinan Kristen tentang keberbilangan Tuhan.
Oleh: Moh. Nurulloh

Komentar