Langsung ke konten utama

Mu'tazilah Itu Percaya Sifat-sifat Tuhan!


Mu'tazilah tidak “mengingkari sifat-sifat Allah” dalam arti menolak seluruh predikat/sifat yang dinisbahkan kepada Allah. Mereka justru menerima bahwa Allah mempunyai sifat-sifat, seperti sifat kekuasaan, kehendak, ilmu, hidup, pendengaran, penglihatan, dan kalam. 

Namun, mereka mengatakan bahwa “semua sifat itu adalah dzat itu sendiri” (al-shifat ‘ain al-dzat). Sifat ma'ani adalah dzat, bukan sifat. 

Pemahaman Mu'tazilah ini, tentu berbeda dengan sekte Ahlusunah yang mengatakan bahwa “sifat ma'ani itu bukan dzat”. Dzat/esensi adalah hal lain, dan sifat/atribut adalah hal yang lain pula.

Kata Ahlusunah, dzat dan sifat adalah dua hal yang berbeda. Dzat adalah sesuatu yang memiliki sifat, sementara sifat adalah sesuatu yang berada dalam dzat. Dzat dan sifat adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Dan perlu diperhatikan, bahwa sesuatu dikatakan dzat bukan karena dia terlihat, melainkan karena dia memiliki sifat. Jin itu dzat apa bukan? Dia dzat. Terlihat atau tidak? Tidak. Apakah jin punya sifat? Iya punya. Dengan demikian sesuatu yang memiliki sifat itu kita namai sebagai dzat. Dan sesuatu yang berada dalam dzat itu kita namai sebagai sifat.

Pertengkaran antara sekte Mu'tazilah dan Ahlusunah terletak pada "sifat ma'ani" yang tujuh itu. Mu'tazilah berpandangan bahwa sifat ma'ani adalah dzat itu sendiri (‘ain al-dzat). Sebaliknya, Ahlusunah berpandangan bahwa sifat ma'ani itu adalah sifat, bukan dzat.

Singkatnya, kata Mu'tazilah, sifat ma'ani adalah dzat itu sendiri, sedangkan kata Ahlusunah, sifat ma'ani itu berbeda dengan dzat. Sifat itu bukan dzat, dari sudut maknanya, juga bukan selain dzat, dari sudut wujudnya.

Namun, sekeras apapun perdebatan antara sekte Mu'tazilah dan Ahlusunah, perdebatan itu hanya terjadi dalam “soal sifat” saja. Bukan dalam “soal dzat”. Soal dzat keduanya sepakat bahwa dzat Allah itu hanya ada satu, tidak lebih. Dzat Allah tidak berbilang.

Mengapa Mu'tazilah berpandangan bahwa sifat ma'ani itu adalah dzat itu sendiri? Karena dalam bayangan mereka, sifat-sifat itu jumlahnya sangat banyak. Jika semua sifat itu diyakini qadim (tidak memiliki permulaan), maka konsekuensinya adalah ada banyak sifat-sifat Tuhan yang diyakini qadim. Dan itu mustahil.

Kita tahu, Mu'tazilah itu adalah kelompok yang sangat menjunjung tinggi tauhid (keesaan Tuhan). Jika sifat-sifat itu diyakini qadim, dan sifat itu jumlahnya banyak, maka konsekuensinya ada banyak sesuatu yang qadim. Dan keyakinan seperti itu, kata Mu'tazilah, hampir mirip dengan orang Kristen, dimana mereka meyakini keberbilangan Tuhan.

Nah, yang qadim itu, kata Mu'tazilah, hanya ada satu. Tidak lebih. Karenanya, mereka bersuara lantang bahwa sifat ma'ani itu bukan sesuatu yang berbeda dengan dzat, melainkan dzat itu sendiri. Mereka mengira bahwa itu keyakinan yang senafas dengan tauhid (keesaan Tuhan).

Jadi, sebenarnya ada khawatiran dari kelompok Mu'tazilah. Mereka khawatir, jika sifat-sifat itu dianggap berbeda dari dzat dan masing-masing bersifat qadim, maka akan ada banyak hal yang qadim.

Menurut Mu‘tazilah, hal ini akan merusak tauhid, bahkan bisa menyerupai keyakinan Kristen tentang keberbilangan Tuhan.

Oleh: Moh. Nurulloh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...