Dalam ilmu logika, pertanyaan manusia dapat dibagi menjadi dua bentuk utama:
Pertama, pertanyaan yang menggunakan kata “apa” yang ditujukan untuk menyingkap esensi atau hakikat sesuatu (mahiyyah). Jawaban yang tepat dari pertanyaan "apa" adalah bersifat tunggal dan menunjukkan batasan hakikat sesuatu.
Kedua, pertanyaan yang menggunakan kata “siapa” yang ditujukan untuk mengenal atribut, sifat, identitas, atau predikat yang melekat pada sesuatu. Jawaban yang tepat dari pertanyaan "siapa" adalah bisa bermacam-macam, tergantung sudut pandang orang yang menjawab.
Dengan demikian, kata “apa” dipakai untuk menyingkap hakikat sesuatu, sementara kata “siapa” dipakai untuk mengenal sifat atau aksiden sesuatu.
Misalnya, ada orang bertanya: "apa itu Ronaldo?" Maka, jawaban yang tepat hanya ada satu, yaitu manusia. Ronaldo adalah manusia. Karena kata “manusia” dengan sendirinya sudah menjelaskan esensi utuh dari seorang Ronaldo.
Tapi, ketika orang bertanya: “siapa itu Ronaldo?” Maka, jawabannya bisa beragam. Tergantung sejauh mana seseorang mengenal sosok Ronaldo. Orang itu bisa menjawab, Ronaldo adalah pesepak bola yang handal. Ronaldo adalah ayah dari tiga anak. Ronaldo adalah laki-laki yang dikagumi banyak orang.
Artinya, jika memang fokus pertanyaannya pada atribut, predikat atau aksiden, maka semua jawaban di atas bisa digunakan. Sebab, semua jawaban itu memang untuk menyingkap sifat, atribut, dan predikat Ronaldo. Bukan hakikat Ronaldo.
Begitu juga ketika ada orang bertanya tentang Tuhan. Sebelum memberikan jawaban, kita perlu bertanya terlebih dahulu. Apakah pertanyaan tersebut bertujuan untuk menyingkap hakikat Tuhan, atau hanya menanyakan sifat-sifat Tuhan?
Jika pertanyaannya berbunyi “apa itu Tuhan?”, maka ini berarti menuntut definisi hakikat Tuhan.
Pertanyaannya, apakah hakikat/esensi Tuhan bisa didefinisikan? Jawabannya tidak. Hakikat Tuhan itu tidak bisa didefinisikan. Sebab, definisi adalah kreasi nalar manusia. Nalar manusia itu terbatas. Sesuatu yang terbatas tidak bisa menjangkau sesuatu yang sifatnya tidak terbatas. Tuhan tidak terbatas. Maka, Tuhan tidak bisa didefinisikan.
Jika Tuhan dipaksa untuk didefinisikan, maka gugurlah sudah aspek ketuhanannya. Sebab, Tuhan sudah bisa dijangkau oleh sesuatu yang terbatas, yaitu nalar manusia. Dan sesuatu yang terbatas, tidak bisa dikatagorikan sebagai Tuhan.
Logikanya sederhana, ibarat orang ingin memasukkan “air laut” ke dalam sebuah gelas kecil. Air laut yang luas, dalam, dan tak terbatas volumenya tidak akan pernah bisa tertampung dalam wadah kecil itu. Gelas di sini ibarat akal manusia, sedangkan air laut adalah hakikat Tuhan.
Gelas hanya bisa menampung sedikit air, tidak keseluruhan. Demikian pula akal manusia: ia bisa memahami sebagian dari tanda-tanda dan sifat-sifat Tuhan (melalui wahyu dan ciptaan-Nya), tetapi tidak mungkin mencakup keseluruhan hakikat-Nya.
Atau ibarat layar TV yang hanya bisa menampilkan gambar dunia nyata dalam bentuk terbatas. Layar TV hanya berupa dua dimensi, berupa ukuran kecil, dan warna tertentu. Padahal dunia nyata jauh lebih luas dan kompleks. Begitu pula, kreasi nalar manusia, hanya bisa “menggambarkan” sebagian kecil dari kebesaran Allah, tetapi tidak mungkin menghadirkan hakikat-Nya secara utuh.
Namun, jika pertanyaannya berbunyi “siapa itu Tuhan?”, maka ini berarti meminta pengenalan terhadap sifat-sifat atau atribut Tuhan.
Pertanyaan semacam ini diperbolehkan, sebab Al-Quran dan hadis memberi kita jalan untuk mengenal-Nya melalui nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang wajib, jaiz, dan mustahil. Bahkan bertanya untuk mengenal sifat-sifat Tuhan ini diperintahkan, sebab dengan mengenal sifat-sifat Tuhan, kita bisa meneguhkan dan memperkokoh iman serta menghindari kesalahpahaman.
Oleh: Moh. Nurulloh

Komentar