Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2024

Islam dan Perempuan I

Setelah menelaah sejarah, saya berkesimpulan bahwa dari semua agama dan peradaban, yang paling menghormati perempuan adalah Islam. Islam adalah solusi terbaik bagi kaum perempuan. Islam hadir untuk membela kaum perempuan yang terdiskriminasi dan tertindas. Menghapus perbudakan. Mendelete tradisi penguburan bayi perempuan hidup-hidup. Melenyapkan asumsi dan ajaran yang menafikan perempuan memperoleh warta warisan. Menolak penempatan kedudukan perempuan di bawah kedudukan laki-laki. Dalam tradisi Arab Jahiliah, apabila seorang suami meninggal, maka anak yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi istri ayahnya tersebut, atau janda dari ayahnya itu. Janda tersebut boleh dinikahi oleh dirinya sendiri atau dinikahkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak diperkenankan menikah lagi. Islam hadir untuk menghapus adat bejat tersebut. Allah secara tegas menolak adat Arab Jahiliah itu dengan menurunkan ayat yang termaktub dalam surat An-Nisa' ayat 19. Aya...

Dzat dan Sifat Allah: Perspektif Al-Asy'ari, Asy'ariyah, Muktazilah

Dzat adalah esensi dari dzat itu sendiri, atau dirinya dzat. Jika disebut “dzat Allah”, maka maksudnya adalah Allah itu sendiri, atau dirinya Allah. Jika disebut “dzat gelas”, maksudnya adalah g elas itu sendiri. Samakan dengan contoh lainnya. Sifat adalah sesuatu yang melekat pada dzat dan tidak bisa dipisahkan dari dzat. Sifat merupakan sesuatu yang bertambah pada dzat tapi bukan dzat itu sendiri. Dzat dan sifat itu menyatu dan tidak bisa dipisahkan. Dalam pandangan Asyariyah, dzat dan sifat itu berbeda, tapi keduanya melekat dan tidak bisa dipisahkan. Lantas, bagaimana cara memahami dzat Allah dan sifat wujud Allah. Ulama selain Al-Asyari dan pengikutnya berkomentar bahwa wujud itu al-haal/suatu keadaan yang wajib bagi dzat selama dzat itu tetap. Al-Haal ini tidak dikarenakan yang lain/illat. Artinya, wujud itu suatu keadaan yang ada pada dzat yang tidak naik pada kedudukan ada hingga dapat terlihat, dan tidak turun pada kedudukan tidak ada hingga benar-benar tidak tetap. Wujud itu...

Benarkah Allah Punya Tangan?

Pertanyaan: Sesi tanya-jawab tadi malam ada santri tanya begini, "saya minta dalil rasional tentang "yad Allah", soalnya Salafi meyakini Allah punya tangan tapi tidak sama dengan tangan makhluknya. Ketidaksamaan antara tangan Allah dan tangan makhluk di situ sudah ada sifat "mukhalafatu lil-hawaditsi", artinya tangan Allah tidak sama dengan makhluknya". Apakah pernyataan Salafi ini bisa dibenarkan? Jawaban: Konsep "mukhalafatu lil-hawaditsi" yang diajukan Salafi itu tidak bersifat mutlak, masih ada celahnya. Tidak seratus persen. Mereka kelompok Salafi mengajukan perbedaan namun masih ada sisi persamaan. Sisi persamaannya di mana, yaitu "sama-sama memiliki tangan". Konsep "mukhalafatu lil-hawaditsi" yang benar adalah tidak ada persamaan sama sekali antara Allah dan makhluknya. Jika mengajukan konsep tersebut namun masih menyimpan sisi kesamaan, maka di situ tidak bisa disebut "mukhalafatu lil-hawaditsi". Saya analogi...