Langsung ke konten utama

Santet Itu Imajinasi!

Sudah saatnya kita bersuara lantang menyampaikan bahwa santet itu tak perlu ditakuti. Mengingat santet itu hanya imajinasi dan tidak bisa memberikan efek apapun pada orang lain. Secara hakiki, yang menciptakan efek itu bukan santetnya, melainkan Tuhan. Santet hanyalah sebab yang Tuhan jadikan. 

Santet, sihir, guna-guna, jampi-jampi, atau apapun namanya, tidak dapat memberikan efek apapun, kecuali atas izin Tuhan. Dan inilah tauhid yang benar. Tauhid yang benar adalah meyakini bahwa Tuhanlah Sang Pengatur Sejati. Tanpa Tuhan kehendaki, apapun tak akan terjadi.

Orang kena virus ya mati. Kena bacok bisa mati. Minum sampai overdosis juga mati. Ditabrak mobil juga mati. Begitu juga dengan santet/sihir. Jadi, santet itu tak perlu ditakuti sedemikian rupa. Yang mematikan kita sebenarnya adalah Tuhan, bukan benda-benda itu.

Hakikat sihir itu sendiri masih terjadi silang pendapat di antara para ulama. Apakah sihir itu benar-benar ada atau tidak. Mayoritas Ahlusunah menyatakan bahwa sihir memiliki hakikat dan dampak nyata. Sebaliknya, kelompok minoritas Ahlusunah menyatakan bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat dan dampak nyata. 

فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ إِلَى أَنَّ السِّحْرَ لَهُ حَقِيقَةٌ وَتَأْثِيرٌ. وَذَهَبَ الْمُعْتَزِلَةُ وَبَعْضُ أَهْلِ السُّنَّةِ إِلَى أَنَّ السِّحْرَ لَيْسَ لَهُ حَقِيقَةٌ فِي الْوَاقِعِ، وَإِنَّمَا هُوَ خِدَاعٌ، وَتَمْوِيهٌ، وَتَضْلِيلٌ، وَأَنَّهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الشَّعْوَذَةِ، وَهُوَ عِنْدَهُمْ عَلَى ضُرُوبٍ.

(روائع البيان في تفسير القرآن، للإمام الصابوني)

Kalangan Mu’tazilah dan Abu Ja’far Al-Istirabadzi dari mazhab Syafi’i juga menyatakan bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat dan dampak nyata. Menurut mereka sihir itu hanyalah imajinasi yang tidak nyata.

وَمَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّهُ حَقٌّ وَلَهُ حَقِيقَةٌ وَيَكُونُ بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَيُؤْلِمُ وَيُمْرِضُ وَيَقْتُلُ وَيُفَرِّقُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ وَأَبُو جَعْفَرٍ الإستراباذي بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ أَنَّ السِّحْرَ لَا حَقِيقَةَ لَهُ إنَّمَا هُوَ تَخْيِيلٌ

(حاشية الجمل، للشيخ سليمان جمال)

Santet itu imajinasi. Apakah imajinasi itu ada? Ada. Kata Al-Ghazali, imajinasi adalah bagian dari hirarki wujud (ada). Ada “lima tingkatan wujud” dalam perspektif Al-Ghazali. Pertama, wujud dzati (eksistensi), wujud hissiy (inderawi), wujud khayali (imajinasi), wujud aqli (rasional), dan wujud syabahi (perumpamaan). 

Jadi, kalau ditanya, apakah sihir/santet itu ada? Jawabannya ada. Karena santet itu masuk kategori wujud khayali (imajinasi). Tapi, yang jelas di sini adalah bahwa santet tidak dapat memberikan efek nyata, kecuali atas izin Tuhan. Sama dengan benda-benda lain, seperti ditusuk dengan pisau, ditembak dengan peluru, ditabrak mobil, dan lainnya. 

Soal santet ini, Gus Baha pernah menyampaikan: “Umpama saya diberitahu, saya sekarang disantet, saya baca doa tolak santet itu malu. Karena bagi saya tidak ada apa-apa. Lha kalau tembus betul Gus? Umpama mati beneran, maka keyakinan saya ya dimatikan oleh Allah,” ungkapnya. 

“Saya tidak mau mati menyedihkan. Artinya apa? Tetap mati, tapi mati syirik. Karena nyatanya mati keok, tapi meyakini yang membunuh itu sihir atau santet. Akibatnya sudah mati, tapi matinya campur syirik,” imbuhnya.

Pernyataan Gus Baha itu tampaknya berangkat dari keprihatinan beliau pada apa yang terjadi di tengah masyarakat. Keyakinan masyarakat tentang santet sangatlah tinggi. Akibatnya, kekhawatiran dan ketakutan pada santet juga tinggi. Gus Baha juga sering menyampaikan bahwa kita tidak boleh takut dengan santet. 

Dalam kajian Gus Baha yang lain, beliau juga menyampaikan begini: “Santet bisa menyebabkan kematian itu tidak ada. Makanya, semisal saya disantet, saya tidak baca doa anti-santet. Karena menurut saya, santet itu tidak ada.”

“Tapi ada Gus, orang mati dengan jarum di dalam perutnya? Itu cuma jarum, bukan santet namanya. Hanya sekadar jarum di perutnya. Kalau kamu mati kena santet itu biasa. Ketabrak truk pun kamu mati. Terserang virus juga mati. Bagi saya, dibunuh pakai santet itu lambat. Kadang tiga hari baru mat. Jauh lebih mematikan truck. Apalagi pesawat,” lanjutnya. 

Jadi, kata Gus Baha, santet, sihir, guna-guna, dan lainnya, itu tidak ada. 

Inilah keyakinan dan sikap yang benar. Tauhid kita tak boleh terkontaminasi dengan keyakinan kotor. Dikit-dikit kena santet, sakit perut kena santet, pusing dikit kena santet, ada meteor kecil dikira santet, ada ini itu santet. 

Saya pribadi, lebih condong pada pendapat yang mengatakan bahwa santet, sihir, guna-guna, jampi-jampi, dan lainnya itu sekadar khayal (imajinasi) belaka. Ia tidak dapat memberikan efek apapun. Tauhid kita mesti dijaga. Jangan biarkan keyakinan terhadap "daya santet" mencampuri iman. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...