Sudah saatnya kita bersuara lantang menyampaikan bahwa santet itu tak perlu ditakuti. Mengingat santet itu hanya imajinasi dan tidak bisa memberikan efek apapun pada orang lain. Secara hakiki, yang menciptakan efek itu bukan santetnya, melainkan Tuhan. Santet hanyalah sebab yang Tuhan jadikan.
Santet, sihir, guna-guna, jampi-jampi, atau apapun namanya, tidak dapat memberikan efek apapun, kecuali atas izin Tuhan. Dan inilah tauhid yang benar. Tauhid yang benar adalah meyakini bahwa Tuhanlah Sang Pengatur Sejati. Tanpa Tuhan kehendaki, apapun tak akan terjadi.
Orang kena virus ya mati. Kena bacok bisa mati. Minum sampai overdosis juga mati. Ditabrak mobil juga mati. Begitu juga dengan santet/sihir. Jadi, santet itu tak perlu ditakuti sedemikian rupa. Yang mematikan kita sebenarnya adalah Tuhan, bukan benda-benda itu.
Hakikat sihir itu sendiri masih terjadi silang pendapat di antara para ulama. Apakah sihir itu benar-benar ada atau tidak. Mayoritas Ahlusunah menyatakan bahwa sihir memiliki hakikat dan dampak nyata. Sebaliknya, kelompok minoritas Ahlusunah menyatakan bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat dan dampak nyata.
فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ إِلَى أَنَّ السِّحْرَ لَهُ حَقِيقَةٌ وَتَأْثِيرٌ. وَذَهَبَ الْمُعْتَزِلَةُ وَبَعْضُ أَهْلِ السُّنَّةِ إِلَى أَنَّ السِّحْرَ لَيْسَ لَهُ حَقِيقَةٌ فِي الْوَاقِعِ، وَإِنَّمَا هُوَ خِدَاعٌ، وَتَمْوِيهٌ، وَتَضْلِيلٌ، وَأَنَّهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الشَّعْوَذَةِ، وَهُوَ عِنْدَهُمْ عَلَى ضُرُوبٍ.
(روائع البيان في تفسير القرآن، للإمام الصابوني)
Kalangan Mu’tazilah dan Abu Ja’far Al-Istirabadzi dari mazhab Syafi’i juga menyatakan bahwa sihir itu tidak memiliki hakikat dan dampak nyata. Menurut mereka sihir itu hanyalah imajinasi yang tidak nyata.
وَمَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّهُ حَقٌّ وَلَهُ حَقِيقَةٌ وَيَكُونُ بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَيُؤْلِمُ وَيُمْرِضُ وَيَقْتُلُ وَيُفَرِّقُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ، وَقَالَ الْمُعْتَزِلَةُ وَأَبُو جَعْفَرٍ الإستراباذي بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ أَنَّ السِّحْرَ لَا حَقِيقَةَ لَهُ إنَّمَا هُوَ تَخْيِيلٌ
(حاشية الجمل، للشيخ سليمان جمال)
Santet itu imajinasi. Apakah imajinasi itu ada? Ada. Kata Al-Ghazali, imajinasi adalah bagian dari hirarki wujud (ada). Ada “lima tingkatan wujud” dalam perspektif Al-Ghazali. Pertama, wujud dzati (eksistensi), wujud hissiy (inderawi), wujud khayali (imajinasi), wujud aqli (rasional), dan wujud syabahi (perumpamaan).
Jadi, kalau ditanya, apakah sihir/santet itu ada? Jawabannya ada. Karena santet itu masuk kategori wujud khayali (imajinasi). Tapi, yang jelas di sini adalah bahwa santet tidak dapat memberikan efek nyata, kecuali atas izin Tuhan. Sama dengan benda-benda lain, seperti ditusuk dengan pisau, ditembak dengan peluru, ditabrak mobil, dan lainnya.
Soal santet ini, Gus Baha pernah menyampaikan: “Umpama saya diberitahu, saya sekarang disantet, saya baca doa tolak santet itu malu. Karena bagi saya tidak ada apa-apa. Lha kalau tembus betul Gus? Umpama mati beneran, maka keyakinan saya ya dimatikan oleh Allah,” ungkapnya.
“Saya tidak mau mati menyedihkan. Artinya apa? Tetap mati, tapi mati syirik. Karena nyatanya mati keok, tapi meyakini yang membunuh itu sihir atau santet. Akibatnya sudah mati, tapi matinya campur syirik,” imbuhnya.
Pernyataan Gus Baha itu tampaknya berangkat dari keprihatinan beliau pada apa yang terjadi di tengah masyarakat. Keyakinan masyarakat tentang santet sangatlah tinggi. Akibatnya, kekhawatiran dan ketakutan pada santet juga tinggi. Gus Baha juga sering menyampaikan bahwa kita tidak boleh takut dengan santet.
Dalam kajian Gus Baha yang lain, beliau juga menyampaikan begini: “Santet bisa menyebabkan kematian itu tidak ada. Makanya, semisal saya disantet, saya tidak baca doa anti-santet. Karena menurut saya, santet itu tidak ada.”
“Tapi ada Gus, orang mati dengan jarum di dalam perutnya? Itu cuma jarum, bukan santet namanya. Hanya sekadar jarum di perutnya. Kalau kamu mati kena santet itu biasa. Ketabrak truk pun kamu mati. Terserang virus juga mati. Bagi saya, dibunuh pakai santet itu lambat. Kadang tiga hari baru mat. Jauh lebih mematikan truck. Apalagi pesawat,” lanjutnya.
Jadi, kata Gus Baha, santet, sihir, guna-guna, dan lainnya, itu tidak ada.
Inilah keyakinan dan sikap yang benar. Tauhid kita tak boleh terkontaminasi dengan keyakinan kotor. Dikit-dikit kena santet, sakit perut kena santet, pusing dikit kena santet, ada meteor kecil dikira santet, ada ini itu santet.
Saya pribadi, lebih condong pada pendapat yang mengatakan bahwa santet, sihir, guna-guna, jampi-jampi, dan lainnya itu sekadar khayal (imajinasi) belaka. Ia tidak dapat memberikan efek apapun. Tauhid kita mesti dijaga. Jangan biarkan keyakinan terhadap "daya santet" mencampuri iman.

Komentar