Sebelum menjawab pernyataan ini, kita akan analisis dulu kata “kapan”. Kata “kapan” ini secara otomatis merujuk pada waktu, yaitu keberwaktuan suatu kejadian. Artinya, pertanyaan “sejak kapan?” hendak meminta penjelasan tentang bagaimana sesuatu dinisbatkan pada waktu.
Namun, hakikat waktu itu sendiri masih diperdebatkan oleh para pakar. Bahkan, soal keberadaan waktu itu sendiri, mereka masih bersilang pendapat. Apakah waktu itu benar-benar ada, atau dia hanya sekadar ilusi belaka?
Setingkat Imam Ar-Razi saja, dalam Al-Mabahits al-Masyriqiyah, sebagaimana dikutip Muhammad Nuruddin, masih mengaku bahwa dia masih belum sampai pada kesimpulan final yang memuaskan tentang hakikat waktu. Memang tak mudah mendefinisikan istilah waktu. Meskipun kita sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Dalam perspektif para teolog, waktu itu diartikan dengan:
متجدد معلوم، يقدر به متجدد موهوم
"Suatu hal baru yang diketahui, yang dengannya sesuatu yang lain yang masih samar itu bisa diketahui.”
Lebih jelasnya, para teolog memandang waktu itu sebagai sebuah ilusi, atau makna ilusif yang dihasilkan dari pengamatan kita atas kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa tertentu. Tapi, bukan kejadian itu sendiri.
Misalnya, ada orang bertanya kepadaku: “kapan kamu nikah?” Saya jawab, “setelah lulus S-1”. Kesamaran pernikahan saya dijelaskan oleh kelulusan S-1. Lalu mana yang disebut waktu? Yang dimaksud waktu bukan kejadian nikah, juga bukan hubungan antara kejadian nikah, melainkan makna ilusif yang ditangkap dari keberinginan dua kejadian tersebut.
Frase “setelah lulus S-1” itu menunjukkan makna waktu. Istilah itu diutarakan untuk menjelaskan terjadinya pernikahan saya yang masih samar. Dan itulah, kata para teolog, yang dimaksud waktu. Definisi ini diamini secara luas oleh ulama Asy'ariyah.
Contoh lain, ada orang bertanya: “kapan kamu beli tripod ini?”. Saya jawab: “Tadi pagi di Pasar Sore Pamekasan!” Jawaban saya ini berfungsi sebagai penjelas dan penentu atas hal yang masih samar, yang dalam hal ini adalah pembelian saya atas tripod itu.
Pembelian tripod tadi masih samar, lalu diperjelas dengan ungkapan “tadi pagi di Pasar Sore Pamekasan”. Setelah itu nalar kita menangkap suatu makna dari ke-beriringan dua kejadian tersebut. Dan itulah yang disebut waktu.
Jadi, waktu itu, kata para teolog, hanyalah ilusi, atau makna ilusif yang ditangkap oleh nalar dari pengamatan kita atas ke-beriringan atau keber-urutan antara kejadian-kejadian. Karena itu, dalam pandangan mereka, waktu itu tidak ada “wujud eksternalnya”. Dia hanya sekadar makna yang ditangkap oleh nalar manusia. Apakah di alam nyata ada sesuatu yang bernama waktu? Mereka akan menjawab tidak ada. Karena waktu adalah sesuatu ungkapan saja.
Setelah ini, kita kembali ke pertanyaan awal: “Sejak kapan Tuhan ada?”
Pertanyaan ini sebenarnya berangkat dari logika waktu yang biasa kita pakai untuk makhluk. Padahal, Tuhan tidak bisa diukur dengan standar waktu, sebab waktu itu sendiri adalah makhluk ciptaan Tuhan.
Tuhan itu bukan makhluk semacam waktu, dan Dia tidak terikat oleh waktu. Waktu itu baru ada setelah alam semesta ada. Keberadaan waktu bersamaan dengan keberadaan alam. Jadi, Tuhan itu sudah ada sebelum waktu ada. Karena pada hakikatnya Tuhanlah yang menciptakan alam dan waktu.
Tuhan itu ada dengan Dzat-Nya sendiri. Dan keberadaan Tuhan bersifat qidam (tak ber-awal). Ketika Tuhan tidak memiliki permulaan, maka Dia tidak berwaktu. Dan kalau kita sepakat bahwa Tuhan tak berwaktu, maka secara otomatis kita akan sadar bahwa pertanyaan “sejak kapan Tuhan ada” itu adalah pertanyaan keliru.

Komentar