Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2024

Pokok-pokok Ajaran Aswaja

Ada empat ciri utama cara berpikir Ahlusunah Waljamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya:  Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan, tidak liberal dan tidak pula radikal. Ini didasarkan pada firman Allah:  وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلٰى النَّاسِ  "Dan demikianlah Kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia.." (Qs. al-Baqarah: 143) Sebagai contoh, perbedaan pendapat mengenai status pelaku dosa besar: A. Khawarij berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir. Atau meninggalkan amaliah agama menyebabkan seorang mukmin menjadi kafir. Landasan mereka adalah karena amaliah termasuk bagian dari iman. B. Muktazilah berpendapat bahwa pelaku dosa besar bukan Islam dan bukan pula kafir. Ia berada di anta...

Sekilas Tentang Sejarah Aswaja

Gambar: Daurah Annajah Ramadan  S e belum al-As'ary dan al-Maturidi muncul, banyak ulama salaf yang tetap konsisten membela akidah yang benar. Mereka tetap berpegang teguh dan menolak aliran-aliran menyimpang kala itu. Seperti Imam Malik bin Anas (sahabat nabi), Imam Ahmad bin Hanbal, Sofyan ats-Tsauri, Daud bin Ali al-Ashfihani, dan orang yang mengikuti mereka dari belakang seperti Abdullah bin Said al-Kilabi, Abu Abbas al-Qalanisi, dan Harits al-Muhasibi.  Mereka yang namanya disebutkan di atas termasuk di antara ulama salaf yang banyak terlibat dalam kepenulisan ilmu kalam. Dalam mempertahankan akidah, mereka mengunakan argumentasi yang biasanya dipergunakan ahli Ushul Fikih. Banyak di antara mereka yang menulis buku-buku khusus untuk mempertahankan akidah ulama salaf dan membuka pengajian-pengajian untuk menyebarkan akidah salaf. Dalam kitab, al-Milal wa an-Nihal , karya as-Syahrastani disebutkan bahwa ada empat mazhab di kalangan umat muslim. Pertama, Syi'ah, Qadariyah, S...

Kebutuhan Bukan Tujuan

Orang yang senang harta dunia dan orang yang tidak senang, sama-sama diberi oleh Allah. Tetapi Allah tidak memberi agama Islam, ilmu agama, amal saleh, kecuali kepada orang menyenanginya. Nabi Sulaiman dan Zulkarnain diberikan seluruh kekayaan dunia sebagai anugerah. Qarun, Namrud dan Fir'aun juga diberikan kekayaan dunia sebagai istidraj. Kalau kekayaan dunia sebagai standar ukuran keistimewaan dan kemuliaan seseorang di sisi Allah, maka tidak ada bedanya antara Qarun dan Nabi Sulaiman, antara Namrud dan Zulkarnain! Nyatanya tidak, standar ukuran kemuliaan adalah seberapa besar ketakwaan seseorang kepada Allah. Orang yang paling takut kepadaNya, dialah orang paling mulia. Sing penting, harta dunia berada di tangan, bukan di hati. Harta dunia hanya kereta kehidupan, bukan esensi kehidupan. Harta dunia hanya wasilah untuk menuju Sang Mahakaya, bukan segalanya. Harta dunia hanya kebutuhan, bukan tujuan.  Memiliki kekayaan dunia tidak dicela dalam Islam. Justru, harta kekayaan yang pa...