Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Ikhtiar dan Takdir

Perihal perbuatan hamba, Imam Sa‘duddin at-Taftazani, seorang teolog Muslim abad ke-14 dari mazhab Maturidiyah, memberikan ulasan mendalam yang menyeimbangkan antara takdir Allah dan ikhtiar manusia. Keseimbangan ini menjadi pokok penting dalam teologi Islam, khususnya menurut pandangan Ahlusunah wal Jamaah (Asy‘ariyah–Maturidiyah). Imam At-Taftazani memberi permisalan: tanah yang kita pijak adalah milik Allah dalam hal penciptaan, namun milik manusia dalam hal pengelolaan. Demikian pula perbuatan hamba: secara hakikat adalah ciptaan Allah, namun secara kasb (perolehan usaha), menjadi milik manusia dalam melakukan dan mengupayakannya. Konsep ini berakar kuat dalam pemikiran kalam klasik. Imam Abul Hasan al-Asy‘ari, salah satu tokoh utama Ahlusunah Waljamaah, membagi perbuatan hamba menjadi dua bagian besar: perbuatan idhtirari dan perbuatan ikhtiyari. Perbuatan idhtirari adalah perbuatan di luar kehendak diri manusia. Perbuatan ini tidak disadari atau tidak dikontrol langsung oleh kehe...

Tragedi Karbala: Menegakkan Nilai-Nilai Agama dan Kemanusiaan

Gambar: hanya ilustrasi  Tragedi Karbala adalah peristiwa duka yang mendalam bagi umat Muslim. Kesyahidan Sayyid Husen cucu Nabi Muhammad bersama keluarga dan sahabatnya adalah luka sejarah yang tak pernah sirna dari hati umat Muslim yang mencintai kebenaran dan keadilan. Sebelum berangkat ke Kufah, Sayyid Husen sempat dilarang oleh beberapa sahabat untuk pergi ke sana. Salah satunya adalah oleh Abdullah bin Abbas, ia berusaha menghalanginya: "Kukira engkau akan dibunuh di antara istri dan anak-anak perempuanmu sebagaimana Usman dibunuh." Namun tampaknya Sayyid Husen tetap menunjukkan minatnya untuk pergi ke Kufah, Irak. Sayyid Husen tidak mengebris nasehat para sahabat itu. Abdullah bin Abbas menangis tersedu-sedu dan berkata: "Engkau menyenangkan hati Abdullah bin Zubair." Orang-orang Irak mengirim utusan yang membawa surat berisi permohonan agar Husen segera datang ke Irak. Dikatakan bahwa di wilayah ini banyak pendukung Ahlu Bait yang menunggu Husen untuk dibaia...

Jika Tuhan Satu: Kenapa Ada Banyak Agama?

Ini pertanyaan klasik namun tetap menarik untuk dikaji dan diperbincangkan. Pertanyaan serupa juga pernah diajukan oleh seseorang kepada Mahatma Gandhi, seperti pernah dituturkan Fischer dalam salah satu bukunya, "Jika memang hanya ada satu kebenaran (Tuhan), mengapa harus ada banyak agama?" Realitas yang ada, agama memang banyak, tapi yang kita sepakati adalah tuhan itu hanya satu, tidak lebih. Ini seakan-akan tampak kontradiktif: ada satu tuhan, tapi agama banyak? Tugas kita adalah menjabarkan secara detail dan rasional. Supaya tidak ada kesalahan persepsi dan kerancuan analogi. Baik, mari kita bahas.  Ada beberapa analogi untuk menjawab ini: Analogi pertama, dalam soal-soal ujian di sekolah, hanya ada satu jawaban yang benar, tapi di sana ditampilkan tiga atau empat jawaban. Kita disuruh memilih satu yang benar. Anggaplah jawaban yang benar adalah A, sedangkan lainnya salah. Namun, masing-masing peserta ujian ada yang mencontreng A, ada B, C dan D. Pertanyaan: apakah denga...

Jika Tuhan Ada, Mengapa Dia Tidak Bisa Dibuktikan Secara Ilmiah?

Gambar: ilustrasi perdebatan Pertanyaan seperti ini sering diajukan oleh para penganut mazhab positivisme, saintisme, materialisme, naturalisme, empirisisme, dan mazhab-mazhab serupa lainnya. Mereka mengklaim bahwa sesuatu yang "wujud" hanyalah sesuatu yang berupa materi atau sesuatu yang keberadaannya bisa dibuktikan secara empirik, atau bisa dibuktikan secara inderawi. Akibatnya, konsep-konsep seperti Tuhan, ruh, malaikat, jin, setan, surga, neraka, pahala, dosa, dan hal-hal yang bersifat metafisik ditiadakan.  Menurut mereka, semua itu hanyalah rekayasa budaya manusia. Bahkan, bagi mereka, yang disebut alam metafisik tidak pernah ada. Yang ada hanyalah alam fisik semata. Namun, pandangan ini lahir dari kesempitan cara berpikir, karena mereka gagal memahami keterbatasan sains dan cakupan metode ilmiah. Untuk menjawabnya, mari kita bahas beberapa poin penting berikut. 1. Keterbatasan sains Objek kajian sains hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik saja. Hal-hal yang ...

Apakah Tuhan Benar-Benar Ada?

Gambar: ilustrasi perdebatan  Apakah Tuhan Benar-Benar Ada? Iya, Tuhan benar-benar ada. Apa bukti bahwa Tuhan ada? Tuhan bisa dibuktikan dengan akal sehat, logika rasional, dan wahyu. Saya tidak percaya Tuhan karena Dia tidak bisa dilihat! Pernyataan ini tidak mendasar. Karena sesuatu yang tidak bisa dilihat belum tentu tidak ada. Sesuatu yang tidak bersifat fisikal, belum tentu tidak ada. Sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara empirik, belum tentu tidak ada. Banyak hal nyata dalam hidup yang tidak bisa dilihat, disentuh, atau difoto, tapi keberadaannya kita yakini. Buktinya apa? Ketika pipimu ditampar, pasti sakit. Dan rasa sakit itu tidak bisa ditampilkan secara nyata. Yang kamu lihat di pipimu adalah warna merah, memar, atau bekas luka. Rasa sakit itu sendiri tidak bisa dibuktikan secara inderawi, tidak bisa dibuktikan secara fisikal. Namun apakah karena tak terlihat lantas rasa sakit itu tidak ada? Tentu tidak. Rasa sakit itu jelas ada. Bukti lain: Waktu adalah sesuatu yang ...

Sikap Aswaja Terhadap Eksekutor Pembunuhan di Karbala

Dalam menanggapi peristiwa-peristiwa kelam dalam sejarah Islam, seperti Perang Jamal, Perang Shiffin, dan tragedi pembunuhan cucu Nabi, Sayyid Husein di Karbala, ulama Ahlusunah Waljamaah mengambil sikap yang seimbang dan berlandaskan prinsip. Secara garis besar, ada "dua sikap" ulama Ahlusunah Waljamaah terhadap konflik internal yang pernah terjadi di masa lampau. Pertama, sikap terhadap sahabat, kedua, sikap terhadap selain sahabat (tabi'in). Tawāquf Terhadap Sahabat Ulama Ahlusunah Waljamaah mengambil sikap "tawāquf" (diam penuh hati-hati) ketika dihadapkan pada konflik internal yang pernah terjadi di antara para sahabat. Sikap ulama Aswaja tidak banyak berkomentar kecuali dengan komentar-komentar yang baik. Terutama berkaitan dengan konflik besar, seperti Perang Jamal, dan Perang Shiffin. Imam An-Nasafi, seorang teolog Maturidiyah abad ke-11 M, dalam Aqāid An-Nasafiyah menegaskan: وَيُكَفُّ عَنْ ذِكْرِ الصَّحَابَةِ إلا بِخَيْرٍ "Jangan menyebut para sah...