Sebelum menjawab kata “nganggur”, kita analisis dulu kata “sebelum” dari pernyataan di atas. Sejak awal, pertanyaan: “apakah Tuhan nganggur sebelum mencipta alam” itu problematik. Di mana letak problemnya? Tepatnya pada kata “sebelum”.
Kata “sebelum” itu hanya bisa diletakkan pada sesuatu yang berwaktu. Karena, ke-sebelum-an itu sendiri merupakan konsep waktu. Sedangkan, kita semua tahu bahwa waktu itu adalah makhluk, bukan azali. Dalam pandangan teologi Islam, waktu itu tercipta bersamaan dengan makhluk.
Alam ini tidak diciptakan dalam waktu, tapi ketika alam tercipta, maka waktu juga tercipta. Artinya, waktu itu baru ada seiring dengan terciptanya alam. Siapa pencipta waktu dan alam? Jawabannya pasti Tuhan. Karena Tuhan yang menciptakan waktu, maka tidak logis jika Tuhan dikatakan sebagai sesuatu yang berwaktu. Sebab, waktu itu makhluk, Tuhan bukan makhluk.
Nah, Tuhan itu qadim (ada tanpa permulaan). Tuhan ada tanpa terikat oleh waktu, artinya Tuhan bukan makhluk. Bagaimana mungkin kata “sebelum” yang hanya bisa digunakan untuk sesuatu yang berwaktu, dikaitkan dengan Tuhan yang tidak berwaktu? Bukankah itu problematik?
Perlu dicatat, bahwa kata “sebelum” dan “sesudah” itu hanya berlaku bagi makhluk yang terikat oleh ruang dan waktu, bukan bagi Tuhan. Jadi, secara filosofis, pertayaan di atas itu bermasalah. Karena dia mengasumsikan keberwaktuan sesuatu yang tidak berwaktu.
Apakah Tuhan nganggur?
Tidak. Tuhan tidak nganggur. Tuhan itu selalu aktif melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Termasuk mengadakan alam semesta beserta waktu di dalamnya. Perbuatan Tuhan itu terkait dengan makhluk, sehingga dikatakan baru. Tapi sifat qudrah dan iradah Tuhan itu bersifat qadim (tak bermula).
Tuhan itu sempurna dengan Dzat-Nya sendiri, tidak membutuhkan makhluk untuk aktif dan berfungsi. Alam diciptakan bukan karena Tuhan butuh aktivitas, tapi karena kehendak dan hikmah-Nya. Lagipula, alam semesta dan seisinya diciptakan bukan karena Tuhan ada kepentingan. Tuhan tidak butuh kita. Kitalah yang butuh Tuhan.
Tuhan itu sejak azali memang berkuasa untuk mencipta, dan penciptaan terjadi ketika Tuhan berkehendak. Sebelum alam ada, Tuhan tetap dengan sifat-sifatNya. Tuhan hidup, Tuhan berilmu, berkuasa, berkehendak, dan sifat-sifat lainnya. Baru ketika Tuhan menghendaki, tampaklah penciptaan alam.
Sekarang, coba kita ilustrasikan dengan matahari dan cahaya. Matahari selalu memiliki sifat bersinar. Meskipun belum ada bumi dan bulan untuk menerima sinar itu, matahari tetap bersinar dengan dirinya sendiri. Baru ketika ada benda di hadapan matahari, sinar itu tampak mengenai benda tersebut.
Alhasil, Tuhan itu tidak nganggur. Tuhan selalu Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Hanya saja, makhluk baru tercipta saat Tuhan menghendakinya.
Oleh: Moh. Nurulloh

Komentar