Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

Tafwidl dan Ta'wil

  Terdapat banyak ayat atau hadis jika diartikan secara literal akan melahirkan kontradiktif. Ayat satu bertabrakan dengan ayat lainnya. Hadis satu bertentangan dengan hadis lainnya. Sehingga para ulama salaf dalam memahami ayat atau hadis menggunakan dua metode, pertama "metode tafwidl" kedua "metode ta'wil". Tafwidl adalah tidak melakukan penafsiran apapun terhadap teks-teks tersebut, mencukupkan diri dengan penetapan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi Dzat-Nya, menyucikan Allah dari segala kekurangan dan penyerupaan terhadap hal-hal yang baru. (Mazhab Asy'ari, Benarkah Ahlusunah wal Jamaah?/208) Ta'wil adalah mengalihkan pengertian teks-teks yang mutasyabihat dari makna literalnya dan meletakkan maksud-maksudnya dalam satu bingkai pengertian yang sejalan dan seiring dengan teks-teks muhkamat, yang memastikan kesucian Allah dari arah, tempat dan anggota tubuh seperti makhlukNya. (Mazhab Asy'ari, Benarkah Ahlusunah wal Jamaah?/12) Dua metode...

Takfir Otomatis Kafir?

  Ada banyak hadis yang menjelaskan: apabila seseorang melontarkan tuduhan "kafir" kepada saudaranya yang muslim, maka tuduhan itu otomatis kembali kepada yang menuduh. Apa maksud hadis tersebut secara detail, benarkah mentakfir orang lain otomatis kembali kepada dirinya sendiri? Jawaban: Memang ada banyak hadis yang menjelaskan berkenan dengan masalah takfirisme kepada orang lain. Salah satunya di dalam kitab Faishal At-Tafriqah Bainal Islam waz Zandaqah karya Imam Ghazali: إذا قذف أحدُ المسلمين صاحبَه بالكفر فقد باءَ به احدُهما  "..Jika seseorang menuduh kafir kepada seorang muslim, maka tuduhan kafir itu otomatis kembali kepadanya." (Dar Al-Minhaj/111-112) Terkait hadis ini, Al-Ghazali memahaminya lebih dalam. Tidak tekstualis. Al-Ghazali menguraikan bahwa makna hadis ini berlaku bagi orang yang mengkafirkan sesama muslim, padahal dia mengetahui keislaman saudaranya itu. Jika ada seseorang yang diketahui bahwa dia membenarkan Rasulullah lalu dituduh sebagai kafir...

Al-Ghazali: Mahaguru Pluralis?

Gambar: hanya ilustrasi Tahun 2011, terbit satu buku yang cukup menggelikan bertajuk "Mengaji Pluralisme Kepada Mahaguru Pencerahan" yang ditulis seorang tokoh "feminis" KH. Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Darut-Tauhid Arjawinangun Cirebon. KH. Husein trending sebagai aktivis gender, pluralisme, dan HAM. Mahaguru yang dimaksud dalam bukunya adalah Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Arabi, Husein Manshur al-Hallaj, dan Fakhruddin Ar-Rozi.  Istilah pluralisme agama adalah sebuah paham yang menganggap semua agama sama-sama benar dan semua penganut agama akan masuk surga. Baik penganut agama Yahudi, Nasrani, Hindu, dan lainnya.  KH. Husein dalam bukunya tampak mendukung paham pluralisme agama. Bisa kita perhatikan petikan peryataan beliau: "Sikap pasrah hanya kepada Tuhan adalah Islam, apapun nama dan sebutan agamanya." (Mengaji Pluralisme/10) Beliau juga menulis: "Jadi, kepercayaan para pemeluk agama-agama kepada Tuhan sebagai satu-satunya Eksistensi ...