Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Soal-soal Nakal, Seputar Tuhan #4

Jika Tuhan Mahakasih, Mengapa Ada Banyak Orang Gila?  Pertanyaan ini menyinggung soal kebijaksanaan Tuhan di balik penciptaan manusia yang beragam kondisi fisik dan mentalnya. Jawabannya tidak hanya sebatas logika sempit manusia: “jika Tuhan Mahakasih, maka harus tidak ada kecacatan”. Sebab, kasih Tuhan mencakup hikmah yang lebih luas dari sekadar apa yang kita lihat di permukaan.  Kemahakasihan Tuhan tak bisa diukur oleh logika manusia. Logika manusia bersifat terbatas. Kasih sayang Tuhan tak terbatas. Memang betul dalam logika manusia, jika ada orang gila, tak waras, akalnya hilang, dianggap sebagai penderitaan, hukuman, kecaman, kemurkaan atasnya.  Tapi, dalam logika Tuhan sendiri, “ketidaksempurnaan fisik dan mental” bukan berarti itu penderitaan, hukuman, kecaman, dan kemurkaan. Bisa saja di dalam “ketidaksempurnaan fisik dan mental” itu ada hikmah dan ancang-ancang Tuhan yang indah.  Kegilaan bukan hukuman. Tapi bagian dari takdir. Tidak semua orang gila adalah...

Soal-soal Nakal, Seputar Tuhan #3

Kenapa Kuasa Tuhan Hanya Terkait Dengan Hal yang Mungkin, Tidak Terkait Dengan Hal yang Wajib dan Mustahil?  Definisi kuasa (qudrah) dalam teologi Islam, adalah kuasa Tuhan untuk “mengadakan” (al-ijad) dan “meniadakan” (al-i'dam) sesuatu. Dengan demikian, jika dikatakan “Tuhan berkuasa atas segala sesuatu”, itu artinya Tuhan berkuasa untuk mengadakan sesuatu yang mungkin ada, dan meniadakan sesuatu yang mungkin tiada.  Namun, “segala sesuatu” di sini tidak mencakup hal yang mustahil maupun hal yang wajib, karena dua kategori itu berada di luar ranah objek qudrah. Definisi “wajib” adalah sesuatu yang mesti ada, dan adanya sesuatu itu tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Ia ada dengan sendirinya. Tidak perlu dicipta dan diadakan. Sesuatu yang “wajib ada” ini hanya berlaku bagi Tuhan. Adapun selain Tuhan, bersifat “mungkin ada”.  Definisi “mustahil” adalah sesuatu yang mesti tidak ada, dan ketiadaan sesuatu tersebut tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Ia tidak ada d...

Soal-soal Nakal, Seputar Tuhan #2

Jika Tuhan Maha Kasih, mengapa ada banyak penderitaan? Pertanyaan ini sering muncul dalam filsafat agama. Jika Tuhan Mahakasih, mengapa ada banyak penderitaan? Seperti kelaparan, pencurian, kecelakaan, kemiskinan, bunuh diri, virus corona, mati mendadak, dan lainnya.  Namun, jawabannya akan jelas bila kita memahami hakikat dunia. Penderitaan adalah bagian dari hikmah. Dunia ini tempat ujian, bukan surga dan bukan tempat balasan. Ujian tidak hanya di sekolah, tapi bisa saja dalam keluarga, rumah tangga, atau dalam sosial-masyarakat. Bukti paling nyata bahwa dunia ini tempat ujian, bukan rumah balasan adalah para rasul sang kekasih Tuhan juga mengalami penderitaan. Bahkan penderitaan mereka lebih dahsyat ketimbang manusia biasa seperti kita.  Nabi Nuh dihina kaumnya, Nabi Ibrahim dibakar, Nabi Musa dikejar Fir'aun, Nabi Muhammad diusir, dilukai, dan dicaci-maki. Padahal, mereka adalah kekasih Tuhan. Mereka manusia terbaik. Jika penderitaan sebagai tanda kebencian, tentu para na...

Soal-Soal Nakal, Seputar Tuhan #1

Segala sesuatu yang ada, pasti ada yang mengadakan. Lantas, siapa yang menciptakan Tuhan? Sejak awal, pertanyaan ini sudah keliru. Di mana letak kekeliruannya? Dia menyamakan Tuhan (Pencipta) dengan makhluk (ciptaan). Jelas keduanya berbeda. Pencipta dan sesuatu yang diciptakan itu dua hal. Pencipta tidak bisa disebut ciptaan, dan ciptaan tidak bisa disebut pencipta. Itu dua hal yang berbeda. Tuhan adalah wujud yang wajib adanya (wājib al-wujūd), keberadaan-Nya niscaya, tidak membutuhkan sebab. Sedangkan selain Tuhan (makhluk), itu wujud yang bersifat mumkin adanya (mumkin al-wujud).  Tuhan itu harus ada, atau keberadaan-Nya adalah sebuah keniscayaan. Adapun makhluk itu bisa saja ada, bisa saja tidak ada. Tuhan penyebab awal, pencipta segala sesuatu. Makhluk, adanya bergantung pada kehendak Tuhan, sang pencipta sejati.  Maka, pertanyaan yang benar adalah: “setiap sesuatu yang ada dari ketiadaan, pasti ada yang mengadakan”. Bukan: “segala sesuatu yang ada, pasti ada yang mengad...

Tuhan & Sesuatu

Islam adalah agama monoteis. Keyakinannya hanya percaya pada satu Tuhan. Tuhan yang Esa. Tuhan yang tak berbilang. Tuhan yang tak tersusun dari bagian-bagian. Dalam istilah ilmu kalam, Tuhan itu disebut dzat atau esensi. Bukan aksiden atau sifat. Tapi dzat Tuhan memiliki banyak aksiden.  Apa itu dzat? Dzat itu esensi, atau keberadaan sesuatu itu sendiri. Sebagian mutakallimin ada yang mendefinisikan dzat sebagai sesuatu yang memiliki aksiden. Jika ada yang bertanya, Tuhan itu dzat atau aksiden? Tuhan itu dzat, atau diri Tuhan itu sendiri. Jadi, ketika disebut “dzat” Tuhan, maka maksudnya adalah dirinya Tuhan, atau Tuhan itu sendiri.  Apa itu aksiden? Aksiden itu sifat atau predikat yang melekat pada dzat, tapi bukan dzat itu sendiri. Aksiden berada di luar dzat, bukan bagian dari dzat. Aksiden itu tidak bisa lepas dari dzat. Aksiden tidak bisa berdiri tanpa dzat. Hubungan dzat dan sifat juga saling terkait. Di mana ada dzat, di situ ada sifat; dan sifat selalu menunjuk kepada ...