Langsung ke konten utama

Soal-Soal Nakal, Seputar Tuhan #1

Segala sesuatu yang ada, pasti ada yang mengadakan. Lantas, siapa yang menciptakan Tuhan?

Sejak awal, pertanyaan ini sudah keliru. Di mana letak kekeliruannya? Dia menyamakan Tuhan (Pencipta) dengan makhluk (ciptaan). Jelas keduanya berbeda. Pencipta dan sesuatu yang diciptakan itu dua hal. Pencipta tidak bisa disebut ciptaan, dan ciptaan tidak bisa disebut pencipta. Itu dua hal yang berbeda.

Tuhan adalah wujud yang wajib adanya (wājib al-wujūd), keberadaan-Nya niscaya, tidak membutuhkan sebab. Sedangkan selain Tuhan (makhluk), itu wujud yang bersifat mumkin adanya (mumkin al-wujud). 

Tuhan itu harus ada, atau keberadaan-Nya adalah sebuah keniscayaan. Adapun makhluk itu bisa saja ada, bisa saja tidak ada. Tuhan penyebab awal, pencipta segala sesuatu. Makhluk, adanya bergantung pada kehendak Tuhan, sang pencipta sejati. 

Maka, pertanyaan yang benar adalah: “setiap sesuatu yang ada dari ketiadaan, pasti ada yang mengadakan”. Bukan: “segala sesuatu yang ada, pasti ada yang mengadakan”. 

Analoginya begini: bayangkan sebuah rantai sebab-akibat. Kalau ditarik terus, pasti harus berhenti pada satu titik pertama yang tidak bergantung pada apa pun. Itulah Tuhan. Tanpa adanya titik awal ini, rantai sebab-akibat tidak mungkin berjalan.


Jika Tuhan ada, apakah Dia menciptakan diri-Nya sendiri?

Tidak. Tuhan tidak menciptakan diri-Nya sendiri. Isi pertanyaan tersebut sebenarnya mengandung kontradiksi. Di mana letak kontradiksinya? Dia menanyakan keterciptaan sesuatu yang sudah ada. Padahal, sesuatu yang sudah ada, tak perlu diadakan. 

Kalau Dia sudah ada (tercipta), berarti Dia tidak perlu diciptakan. Kalau Dia belum ada, bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada bisa menciptakan dirinya sendiri?

Analoginya begini: seperti bertanya: “Bisakah bayangan berdiri sendiri tanpa benda yang menimbulkannya?” Tentu itu mustahil. 

Analogi lain: tidak mungkin bayi melahirkan dirinya sendiri. Kalau belum lahir, berarti dia tidak ada. Kalau sudah ada, berarti ia sudah lahir. 

Demikian pula pertanyaan: “apakah Tuhan menciptakan diriNya sendiri?” itu juga salah. Sebab Tuhan sudah ada, tak perlu dicipta. 


Jika Tuhan ada, sejak kapan Dia ada?

Kata “kapan” itu menunjuk pada waktu dan keberwaktuan. Sedangkan waktu baru ada ketika alam sudah ada. Sebelum alam ada, waktu belum ada. Beda halnya dengan Tuhan, Tuhan itu sudah ada sebelum alam ada. Tuhan tidak terikat dengan waktu, sedangkan waktu terikat dengan alam. 

Sebelum ada langit, bumi, peredaran matahari dan bulan, belum ada yang namanya “hari”, “jam”, atau “detik”. Jadi, waktu itu bagian dari ciptaan, bukan sesuatu yang azali. Beda dengan Tuhan. Tuhan sudah ada, sebelum hari, jam, dan detik itu ada. Dia bersifat qadim (tak ber-awal). 

Maka, kata “kapan” hanya cocok bagi makhluk, seperti waktu, alam, dan ciptaan yang lain. Dan tidak cocok bagi Tuhan. Karena Tuhan tidak terikat dengan waktu. Tuhan tidak butuh waktu. Dengan demikian, pertanyaan: “sejak kapan Tuhan ada” adalah keliru secara makna. 

Analoginya begini: jarum jam baru bergerak setelah jam selesai dirakit. Tapi pembuat jam itu tidak bergantung pada jarum jam untuk “ada”. Begitu pula, Tuhan tidak bergantung pada waktu untuk “ada”.

Analogi lain: bayangan selalu muncul setelah ada cahaya dan benda. Tapi “cahaya” itu sendiri tidak butuh “bayangan” untuk ada. Sama halnya dengan Tuhan: waktu lahir dari ciptaan-Nya, sedangkan Dia tetap ada tanpa butuh waktu.


Jika Tuhan ada, mengapa Dia tak terlihat? 

Karena indera mata kita terbatas. Sedangkan Tuhan tak terbatas. Tuhan Maha sempurna. Banyak sekali hal yang tidak bisa ditangkap dengan indera mata secara langsung. 

Analoginya begini: kita tidak bisa melihat angin, tapi merasakan hembusannya. Kita tidak bisa melihat waktu, tapi kita hidup bersama waktu. Jam tangan yang kita lihat, itu benda-benda yang bergerak dengan teratur. Bukan waktu sendiri. Adapun hakikat waktu, itu tidak kasat mata. Namun ia nyata keberadaannya. 


Jika Tuhan Esa, kenapa Dia memiliki banyak sifat?

Sifat dan dzat itu beda. Dzat satu hal, sifat hal lain lagi. Satu dzat bisa memiliki banyak sifat, satu sifat tidak bisa memiliki banyak dzat. Dan sifat itu berada di luar dzat. Setiap sifat pasti melekat pada dzat. Tidak mungkin sifat itu berdiri sendiri tanpa adanya dzat. 

Dzat Tuhan itu Esa. Tapi sifat Tuhan itu banyak. Dan banyaknya sifat Tuhan, tidak mempengaruhi banyaknya dzat Tuhan. Tuhan itu Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf, dan lainnya. Itu semua adalah sifat yang dimiliki oleh satu Tuhan. 

Analoginya begini: satu orang bisa memiliki banyak sifat. Dia bisa disebut pemaaf, penyabar, pelit, boros, dan lainnya. Semua sifat itu bisa ada pada satu orang. Dan banyaknya sifat itu tidak mempengaruhi dzatnya. Dia tetap satu. Tidak lebih. 


Apakah konsep itu sama dengan konsep Tuhan Kristen?

Tidak. Konsep Tuhan dalam agama Kristen berbeda jauh dengan konsep Tuhan dalam Islam. Dalam Islam, Tuhan itu satu dzat, satu esensi, dan satu wujud. Tidak terbagi, tidak tersusun, dan tidak berbilang. Tauhid adalah keyakinan bahwa Allah itu Esa secara mutlak.

Sedangkan dalam Kristen, dikenal dengan konsep Trinitas: tiga dzat dianggap satu: Bapa (Allah), Anak (Yesus), dan Roh Kudus. Dan ketiga pribadi ini dianggap sebagai Tuhan. Padahal, tiga pribadi ini berbeda-beda, tapi tetap dianggap satu.

Mereka meyakini bahwa Tuhan mereka adalah esa, satu. Padahal secara hakiki, itu tiga dzat yang dianggap esa, satu. Itu kontradiktif. Logika manapun tidak akan membenarkan bahwa “tiga” dikatakan “satu”. Tiga ya tetap tiga, satu ya tetap satu. Tiga tidak bisa dikatakan satu, satu tidak bisa dikatakan tiga. 

Analoginya begini: sebagian orang Kristen mengibaratkan Trinitas seperti air: bisa menjadi cair, es, dan uap. Namun, kelemahan analogi ini jelas. Cair, es, dan uap bukanlah satu wujud yang sama; mereka adalah bentuk-bentuk yang berbeda. Kalau air sedang jadi es, ia bukan lagi cair; kalau sedang jadi uap, ia bukan es. Jadi hakikatnya bukan “satu yang tiga”, melainkan “tiga bentuk yang berbeda”.

Analogi lain: bayangkan ada tiga orang yang bekerja dalam satu tim. Mereka bisa disebut “satu tim”, tapi mereka tetap tiga orang yang berbeda. Begitu pula, Trinitas adalah tiga pribadi, bukan satu hakikat. 

Property of: 

Moh. Nurulloh 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...