Islam adalah agama monoteis. Keyakinannya hanya percaya pada satu Tuhan. Tuhan yang Esa. Tuhan yang tak berbilang. Tuhan yang tak tersusun dari bagian-bagian. Dalam istilah ilmu kalam, Tuhan itu disebut dzat atau esensi. Bukan aksiden atau sifat. Tapi dzat Tuhan memiliki banyak aksiden.
Apa itu dzat? Dzat itu esensi, atau keberadaan sesuatu itu sendiri. Sebagian mutakallimin ada yang mendefinisikan dzat sebagai sesuatu yang memiliki aksiden. Jika ada yang bertanya, Tuhan itu dzat atau aksiden? Tuhan itu dzat, atau diri Tuhan itu sendiri. Jadi, ketika disebut “dzat” Tuhan, maka maksudnya adalah dirinya Tuhan, atau Tuhan itu sendiri.
Apa itu aksiden? Aksiden itu sifat atau predikat yang melekat pada dzat, tapi bukan dzat itu sendiri. Aksiden berada di luar dzat, bukan bagian dari dzat. Aksiden itu tidak bisa lepas dari dzat. Aksiden tidak bisa berdiri tanpa dzat. Hubungan dzat dan sifat juga saling terkait. Di mana ada dzat, di situ ada sifat; dan sifat selalu menunjuk kepada dzat.
Apa itu sesuatu? Menurut Imam Sibawaih, kata “sesuatu” (syai’un) secara etimologi bermakna, segala yang bisa diketahui dan dikabarkan, baik ada maupun tidak ada. Secara terminologi, kata syai’un adalah wujud yang riil di dunia nyata.
الشيء: في اللغة هو ما يصلح أن يعلم ويخبر عنه، عند سيبويه، وقيل الشيء عبارة عن الوجود، وهو اسم لجميع المكونات، عرضًا كان أو جوهرًا، ويصح أن يعلم ويخبر عنه. وفي الاصطلاح: هو الموجود الثابت المتحقق في الخارج.
(التعريفات، للإمام الجرجاني)
Syaikh Raghib al-Asfahani, dalam kitabnya, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, mendefinisikan syai’un sebagai berikut:
الشَّيْءُ قيل: هو الذي يصحّ أن يعلم ويخبر عنه، وعند كثير من المتكلّمين هو اسم مشترك المعنى إذ استعمل في الله وفي غيره، ويقع على الموجود والمعدوم. وعند بعضهم: الشَّيْءُ عبارة عن الموجود.
“Dikatakan, bahwa syai’un dimaknai sebagai apa yang sah diketahui atau diceritakan. Menurut sebagian mutakallimin, ia adalah kata yang homonim ketika digunakan untuk Allah dan untuk selain Allah. Dan, kata ini merujuk pada apa yang ada dan apa yang tidak ada. Menurut sebagian mutakallimin, syai’un bermakna wujud.”
Bila merujuk pada keterangan di atas, dapat diketahui bahwa kata “syai'un” adalah segala apapun yang bisa diketahui dan dikabarkan, baik ada maupun tidak ada.
Nah, jika ada yang bertanya: bisakah Tuhan disebut sesuatu? Jawabannya adalah bisa, tapi dengan beberapa catatan. Pertama, karena Tuhan benar-benar ada. Kedua, karena manusia bisa mengetahui Tuhan, meski bersifat terbatas. Ketiga, karena Al-Quran sendiri menyebut Allah sebagai sesuatu.
Imam Ar-Razi, salah satu tokoh sentral dalam mazhab Asy'ari, mengatakan bahwa Tuhan bisa disebut sesuatu. Maksud Imam Ar-Razi, bahwa Allah itu sesuatu adalah dengan cara dimaknai Allah itu ada (maujud). Tidak kurang, tidak lebih. Dengan demikian, makna “sesuatu” itu adalah ada. Tuhan itu ada.
Jika makna yang dimaksud oleh Imam Ar-Razi adalah demikian, saya kira orang-orang beriman akan menerima. Tidak akan ada yang menolak. Karena memang Allah itu benar-benar ada. Allah itu sesuatu. Apa maksudnya? Maksudnya adalah Allah itu ada. Jadi, penyebutan ini hanya bermakna penegasan wujud Allah.
Jika Tuhan bisa disebut sesuatu, apakah Dia sama dengan makhluk? Jelas tidak sama. Kamu ada, Tuhan juga ada. Apakah keberadaan kamu dan Tuhan sama? Jelas tidak sama. Tuhan ada, tapi Dia berbeda dengan segala yang ada. Sebagaimana Tuhan itu sesuatu, tapi Dia berbeda dengan segala sesuatu.
Al-Quran sendiri menyebut Allah sebagai sesuatu.
قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَٰدَةً قُلِ ٱللَّهُ
“Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". (Al-An’am:19). Di penggalang ayat di atas ada kata “syai'in”, lalu dijawab: Allah.
Di ayat lain, Allah juga disebut sesuatu.
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,” (Asy-Syura:11).
Di sana kata “syai'un” dimiliki makhluk, yang tidak sama dengan syai'un yang dimiliki Tuhan. Jadi, ada perbedaan mutlak antara “sesuatu” yang bermakna makhluk dan “sesuatu” yang menunjuk Allah.
Ayat lain yang dijadikan dalil oleh Imam Ar-Razi adalah surat Al-Qashash, ayat 88.
كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.”
Semua syai’un (selain Allah) fana (musnah), sementara Allah kekal.
Kendatipun, Tuhan disebut sebagai sesuatu, Dia tidak masuk ke dalam sesuatu yang Dia ciptakan itu. Sebab, sesuatu yang diciptakan itu namanya makhluk. Dan Allah adalah sesuatu yang bukan makhluk, melainkan Sang Pencipta (Khaliq).
By:
Moh. Nurulloh

Komentar