Langsung ke konten utama

Soal-soal Nakal, Seputar Tuhan #2

Jika Tuhan Maha Kasih, mengapa ada banyak penderitaan?

Pertanyaan ini sering muncul dalam filsafat agama. Jika Tuhan Mahakasih, mengapa ada banyak penderitaan? Seperti kelaparan, pencurian, kecelakaan, kemiskinan, bunuh diri, virus corona, mati mendadak, dan lainnya. 

Namun, jawabannya akan jelas bila kita memahami hakikat dunia. Penderitaan adalah bagian dari hikmah. Dunia ini tempat ujian, bukan surga dan bukan tempat balasan. Ujian tidak hanya di sekolah, tapi bisa saja dalam keluarga, rumah tangga, atau dalam sosial-masyarakat.

Bukti paling nyata bahwa dunia ini tempat ujian, bukan rumah balasan adalah para rasul sang kekasih Tuhan juga mengalami penderitaan. Bahkan penderitaan mereka lebih dahsyat ketimbang manusia biasa seperti kita. 

Nabi Nuh dihina kaumnya, Nabi Ibrahim dibakar, Nabi Musa dikejar Fir'aun, Nabi Muhammad diusir, dilukai, dan dicaci-maki. Padahal, mereka adalah kekasih Tuhan. Mereka manusia terbaik. Jika penderitaan sebagai tanda kebencian, tentu para nabi tidak akan merasakan itu. 

Selain itu, banyak kebaikan hanya bisa lahir karena pengalaman-pengalaman sulit. Kita mudah bersimpati pada orang lain, karena kita sendiri pernah berada di posisi sulit itu. Kita lebih tergerak membantu orang-orang yang menderita, karena kita sendiri pernah berada pada penderitaan itu. 

Analoginya begini: seperti seorang dokter memberi obat pahit atau operasi yang menyakitkan demi kesembuhan pasien, demi kesembuhan penyakit yang dideritanya. Rasa sakit yang disebabkan oleh dokter bukan sebuah kebencian, tetapi jalan menuju kebaikan yang lebih besar. 

Analogi lain: seorang siswa diuji dengan soal-soal sulit. Ujian terasa berat dan melelahkan, tapi justru itulah yang membuatnya naik kelas. Tanpa ujian, tidak ada peningkatan. 

Jika Tuhan Esa, Kenapa Dia perlu malaikat?

Pertanyaan ini muncul dari kesalahpahaman, seolah-olah jika Tuhan menciptakan malaikat berarti Tuhan “butuh” mereka. Padahal, dalam akidah Islam, Allah Mahakuasa dan Maha Mandiri. Dia tidak memerlukan apapun, baik malaikat maupun makhluk lainnya.

Malaikat dicipta dan dikasih tugas bukan karena Tuhan tak mampu melakukan sendiri. Malaikat bekerja sesuai tugasnya bukan karena Tuhan butuh. Tanpa malaikat pun Tuhan mampu mengatur semua makhluk-Nya. Tujuan Tuhan menugasi malaikat untuk menunjukkan sistem dan keteraturan ciptaan-Nya. 

Tuhan mencipta malaikat agar kita sebagai manusia melihat bahwa seluruh jagat raya berjalan dengan sistem dan keteraturan. Malaikat menjadi perantara dalam pengaturan alam semesta, sehingga manusia bisa memahami adanya hukum-hukum Tuhan (sunnatullah).

Dengan ditugasnya malaikat, manusia bisa belajar bahwa setiap perbuatan dicatat, setiap doa disampaikan, setiap rezeki diatur, dan lainnya. Hal ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran spiritual. 

Analoginya begini: seorang presiden mampu memutuskan persoalan sendiri, mampu beroperasi sendiri, tapi tetap ada menteri dan pejabat yang membantu. Bukan karena presidennya lemah, tapi karena hikmah dan tatanan kenegaraan. 

Property of:

Moh. Nurulloh

Komentar

Anonim mengatakan…
Izin nambah perbandingan yang soal nomer 2 ustadz ( bukannya raja tidak bisa menyiapkan hidangannya sendiri ketika mau makan, namun pelayanan seorang pembantu menunjukan sang raja berwibawa dan berkuasa) maaf kalo salah ustad๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...