Langsung ke konten utama

Soal-soal Nakal, Seputar Tuhan #4

Jika Tuhan Mahakasih, Mengapa Ada Banyak Orang Gila? 

Pertanyaan ini menyinggung soal kebijaksanaan Tuhan di balik penciptaan manusia yang beragam kondisi fisik dan mentalnya. Jawabannya tidak hanya sebatas logika sempit manusia: “jika Tuhan Mahakasih, maka harus tidak ada kecacatan”. Sebab, kasih Tuhan mencakup hikmah yang lebih luas dari sekadar apa yang kita lihat di permukaan. 

Kemahakasihan Tuhan tak bisa diukur oleh logika manusia. Logika manusia bersifat terbatas. Kasih sayang Tuhan tak terbatas. Memang betul dalam logika manusia, jika ada orang gila, tak waras, akalnya hilang, dianggap sebagai penderitaan, hukuman, kecaman, kemurkaan atasnya. 

Tapi, dalam logika Tuhan sendiri, “ketidaksempurnaan fisik dan mental” bukan berarti itu penderitaan, hukuman, kecaman, dan kemurkaan. Bisa saja di dalam “ketidaksempurnaan fisik dan mental” itu ada hikmah dan ancang-ancang Tuhan yang indah. 

Kegilaan bukan hukuman. Tapi bagian dari takdir. Tidak semua orang gila adalah bentuk hukuman. Dalam banyak kasus, orang gila tidak dibebani taklif (tanggung jawab syariat). Dia tidak dibebani kewajiban shalat, puasa, zakat, dan lainnya. 

Dalam artian, orang gila tidak berdosa dan tidak disiksa jika meninggalkan kewajiban-kewajiban agama. Justru dalam rahmat-Nya, ia sedang dibebaskan dari tanggung jawab yang berat. Ini menunjukkan kasih-sayang Tuhan dalam bentuk yang mungkin tidak kita sadari.

Kegilaan juga menjadi ujian bagi orang lain. Orang gila bisa menjadi ujian kasih-sayang dan empati bagi manusia lain. Apakah manusia akan memperlakukan mereka yang lemah, cacat, dan tak berdaya dengan baik, atau justru acuh terhadap mereka? Tanpa adanya orang gila, orang miskin, orang sakit, manusia yang sehat tak akan teruji kasih-sayang dan kepeduliannya. 

Dalam hal ini, Al-Quran menginginkan:

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ

"Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?" (Al-Furqan: 20)

Bisa jadi “kegilaan” menjadi bentuk kasih yang tersembunyi. Ada orang yang selamat dari dosa besar karena dia gila. Ada juga yang hidupnya tanpa beban karena tidak memiliki kesadaran seperti manusia normal. Dalam hal ini, kegilaan bisa menjadi rahmat terselubung.

Akal yang sehat memang nikmat, tapi akal juga menjadi sumber ujian besar: dengan akal, manusia bisa kufur, sombong, atau menolak Tuhan. Sedangkan orang gila tidak punya beban dosa semacam itu.

Logikanya begini: seorang guru yang membagikan ujian berbeda kepada murid-muridnya. Ada yang diberi soal sulit, ada yang diberi soal mudah, ada pula yang dibebaskan dari ujian -dalam arti tak diikutkan ujian- karena tidak mampu. 

Apakah yang tak diikutkan ujian itu dizalimi? Tidak. Justru itu bentuk kasih dan kebijaksanaan guru. Begitu pula dengan Tuhan. Setiap makhluk diberi takdir sesuai hikmah dan kemampuan masing-masing.

Kalau begitu, di mana letak keadilan Tuhan, jika di dunia ini banyak orang gila, tak waras, dan hilang akalnya?

Keadilan Tuhan tak harus seragam, tak harus sama. Harus sama sehatnya, sama warasnya, sama fisiknya, sama bahagianya, tak harus sama begitu. Tapi, bentuk keadilan Tuhan terletak pada penempatan sesuatu sesuai dengan tempatnya. 

Orang gila tidak diberi beban taklif (tanggung jawab syariat), dia tak wajib shalat, puasa, zakat dan lainnya. Dan ia juga tidak disiksa karena meninggalkan semua kewajiban itu. Maka di situ ada keadilan Tuhan, dan tidak ada kezaliman.  

Logika adil: uang saku anak SD tentu lebih kecil ketimbang uang saku anak SMA. Jika uang saku keduanya harus sama, maka ada ketidakadilan di sana. Sebab, kebutuhan anak SMA jauh lebih besar ketimbang anak SD. 

Maka, sekali lagi, adil tidak harus sama rata, adil adalah menakar sesuatu sesuai porsinya atau menempatkan sesuatu sesuai kelayakan. 


Salam:

Moh. Nurulloh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...