Langsung ke konten utama

Jika Tuhan Satu: Kenapa Ada Banyak Agama?

Ini pertanyaan klasik namun tetap menarik untuk dikaji dan diperbincangkan. Pertanyaan serupa juga pernah diajukan oleh seseorang kepada Mahatma Gandhi, seperti pernah dituturkan Fischer dalam salah satu bukunya, "Jika memang hanya ada satu kebenaran (Tuhan), mengapa harus ada banyak agama?"

Realitas yang ada, agama memang banyak, tapi yang kita sepakati adalah tuhan itu hanya satu, tidak lebih. Ini seakan-akan tampak kontradiktif: ada satu tuhan, tapi agama banyak? Tugas kita adalah menjabarkan secara detail dan rasional. Supaya tidak ada kesalahan persepsi dan kerancuan analogi. Baik, mari kita bahas. 

Ada beberapa analogi untuk menjawab ini:

Analogi pertama, dalam soal-soal ujian di sekolah, hanya ada satu jawaban yang benar, tapi di sana ditampilkan tiga atau empat jawaban. Kita disuruh memilih satu yang benar. Anggaplah jawaban yang benar adalah A, sedangkan lainnya salah. Namun, masing-masing peserta ujian ada yang mencontreng A, ada B, C dan D. Pertanyaan: apakah dengan berbeda-bedanya jawaban siswa, semua jawaban dianggap benar? Tidak kan! Tetap yang benar hanya satu jawaban. 

Agama-agama adalah realitas, dan kita harus memilih satu agama di antara sekian banyak agama. Tidak mungkin satu orang menganut dua agama. Sama seperti peserta ujian, harus memilih 1 jawaban di antara 3 atau 4 jawaban. Orang yang memilih semua jawaban, maka pasti salah. Sama seperti orang yang memilih semua agama, maka juga pasti salah.

Analogi kedua, dalam satu pohon ada banyak ranting, ada banyak cabang, dan ada banyak daun. Adanya banyak ranting, cabang, dan daun tidak mengharuskan adanya banyak pohon. Satu pohon kadang memunculkan banyak ranting, cabang dan daun. 

Artinya apa?. Adanya banyak agama tidak meniscayakan adanya banyak tuhan. Adanya banyak agama adalah sunnatulloh, kehendak Alloh. Tapi Alloh hanya membenarkan satu agama, Alloh hanya menerima satu agama, yaitu Islam. Selain Islam, tidak dibenarkan oleh Alloh. 

Analogi ketiga, ada satu ular cobra di sawah, orang sekitar yang melihat ular itu berkomentar: "biarkan saja, jangan dibunuh." Satunya lagi berkomentar: "bunuh saja, nanti ular itu memakan korban." Satunya juga berkomentar: "pukul sampai mati, lalu buang ke sungai." Pertanyaannya, apakah banyaknya komentar tentang ular tersebut menyebabkan yang dikomentari juga banyak? Tidak kan? Ular itu hanya satu. Namun komentatornya banyak.

Artinya Tuhan itu hanya satu, namun persepsi tentang Tuhanlah yang banyak. Jangan hanya karena pemahaman dan gambaran tentang Tuhan itu banyak, lantas berkesimpulan tuhan juga banyak. Yang banyak adalah persepsi tentang tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Selain itu, kita perlu membedakan mana Tuhan sebagai Tuhan yang maha kuasa dan mana Tuhan yang menjadi sesembahan manusia. Tuhan pertama adalah Tuhan yang benar-benar Tuhan. Apa buktinya? Dia memiliki sifat-sifat ketuhanan, seperti wujud, qidam, baqa', mukhalafatu lil hawaditsi, dan 20 sifat lainnya. Akal kita ngak bisa menerima, ngak rasional, ngak membenarkan, kalau Tuhan ngak memiliki sifat-sifat tersebut. 

Sedangkan Tuhan yang menjadi sesembahan manusia, atau Tuhan yang dipilih untuk disembah belum tentu benar-benar Tuhan yang hakiki. Kadang bukan Tuhan, tapi dituhankan oleh manusia. Beda: antara Tuhan Yang Mahakuasa dengan "Tuhan jadi-jadian". Bisa jadi dia itu hanya bernama Tuhan, tapi saat diuji kebenarannya, ternyata tidak cocok.

Misalnya begini: ada yang menyembah harta, tahta, dan kuasa, lalu harta, tahta dan kuasa diberi gelar tuhan. Pertanyaannya: mana bentuk kekuasaannya? Mana sifat keabadiannya? Bukankah tuhan itu harus mahakuasa? Tuhan itu harus maha abadi? Ini menunjukkan, bahwa harta, tahta dan kuasa hanya dianggap sebagai tuhan, bukan tuhan yang hakiki. 

Dalam hal ini, kami menyakini dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikitpun bahwa Tuhan yang berhak disembah adalah Alloh SWT, dan agama yang paling benar adalah Islam. 

Kami, bukan pengikut pluralisme agama, yang menganggap semua agama sama-sama benar. Karena pada dasarnya, pluralisme agama adalah ketidakmungkinan yang dijejali dan dicekoki kepada umat beragama.


Oleh:

Moh Nurulloh

Komentar