Langsung ke konten utama

Jika Tuhan Ada, Mengapa Dia Tidak Bisa Dibuktikan Secara Ilmiah?

Gambar: ilustrasi perdebatan

Pertanyaan seperti ini sering diajukan oleh para penganut mazhab positivisme, saintisme, materialisme, naturalisme, empirisisme, dan mazhab-mazhab serupa lainnya. Mereka mengklaim bahwa sesuatu yang "wujud" hanyalah sesuatu yang berupa materi atau sesuatu yang keberadaannya bisa dibuktikan secara empirik, atau bisa dibuktikan secara inderawi.

Akibatnya, konsep-konsep seperti Tuhan, ruh, malaikat, jin, setan, surga, neraka, pahala, dosa, dan hal-hal yang bersifat metafisik ditiadakan.  Menurut mereka, semua itu hanyalah rekayasa budaya manusia. Bahkan, bagi mereka, yang disebut alam metafisik tidak pernah ada. Yang ada hanyalah alam fisik semata.

Namun, pandangan ini lahir dari kesempitan cara berpikir, karena mereka gagal memahami keterbatasan sains dan cakupan metode ilmiah. Untuk menjawabnya, mari kita bahas beberapa poin penting berikut.

1. Keterbatasan sains

Objek kajian sains hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik saja. Hal-hal yang bersifat non-fisik bukan objek kajian sains. Karena objek kajian sains hanya terbatas pada alam fisik, maka konsekuensinya adalah sains tidak punya wewenang untuk menentukan ada atau tidak adanya sesuatu yang bersifat metafisik.

Ketika sains tidak bisa menangkap dan mengobservasi keberadaan Tuhan, ruh atau malaikat, maka kenyataan itu harus kita pandang sebagai sesuatu yang wajar. Karena itu memang bukan wilayah sains. Sains memang tidak punya otoritas untuk menentukan ada atau tidak adanya Tuhan. Dan itu keterbatasan sains. Sains hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat fisik saja. Bukan metafisik.


2. Sesuatu yang wujud, tidak selalu bersifat empirik

Tidak semua yang ada harus bisa dibuktikan secara empirik. Banyak hal nyata yang kita yakini tanpa pembuktian sains. Misalnya:

Ketika kamu memegang korek dan kamu nyalakan pada rokok. Tentu rokok itu terbakar. Di situ ada sebab-akibat yang berlaku. Adanya rokok terbakar, disebabkan adanya api pada korek. Pertanyaannya, di mana keberadaan sebab dan akibat itu? Bisakah sebab-akibat itu dibuktikan secara empirik? Apakah keduanya merupakan wujud yang bersifat fisik? Apakah keduanya merupakan materi yang bisa dibuktikan melalui alam inderawi. Tentu tidak.

Kita tidak dapat menyaksikan keberadaan sebab-akibat itu. Yang kita saksikan adalah hanya korek yang mengeluarkan api, dan rokok yang terbakar disebabkan api. Tapi, yang disebut sebab-akibat itu sendiri benar-benar ada.

Di mana keberadaannya? Adanya sebab-akibat adalah konsep universal yang ditarik oleh nalar manusia ketika berdasarkan adanya dampak yang diberikan oleh sesuatu kepada sesuatu yang lain. Kita menyakini keberadaannya, meskipun ia sendiri dibuktikan secara inderawi.

Ada banyak sekali contoh untuk membuktikan bahwa sesuatu yang ada, tidak selalu bersifat empirik.


3. Konsep ilmiah tidak terbatas pada hal-hal inderawi

Ada tiga hal yang dapat mengantarkan seseorang pada ilmu atau pengetahuan ilmiah. 1). Indera yang sehat. 2). Khabar yang benar. 3). Akal

Sebab pengetahuan inderawi ada lima: pendengaran (as-sama'), penglihatan (al-bashar), penciuman (asy-syamm), pengecapan (adz-dzauq), dan sentuhan (al-lams).

Teh ini manis. Kok tahu? Karena dirasakan oleh pengecapan (dzauq). Minyak ini wangi. Kok tahu? Karena sudah dicium oleh penciuman (asy-syamm).

Khabar (informasi) yang benar ada dua:

Pertama, khabar mutawatir, yaitu informasi yang disampaikan secara lisan oleh sekelompok orang dan sudah dianggap valid. Kesepakatan untuk berbohong diantara mereka tak dimungkinkan, sehingga informasi tersebut menghasilkan pengetahuan yang pasti. Seperti, ilmu tentang raja-raja dari zaman lampau dan negeri terpencil.

Kedua, informasi yang bersumber dari Rasul (khabar ar-rasul) yang dikuatkan dengan mukjizat. Informasi ini memerlukan ilmu penalaran (ilmu istidlali). Ilmu tersebut sama dengan ilmu yang dapat dibuktikan secara adiscaya dalam hal kepastian dan ketetapannya.

Melalui akal, kita bisa memahami logika dan matematika.

Misalnya: 1+1 = 2 (satu tambah satu sama dengan dua). Kesimpulan dua dari pertanyaan satu tambah satu adalah benar. Kebenaran ini tidak bisa disangkal. Dan inilah kebenaran logika-matematik.

Keberadaan Tuhan memang tidak bisa dibuktikan secara sains, tapi bisa dibuktikan melalui akal sehat, logika rasional, dan wahyu. 


Ref:
Syarah Aqāid An-Nasafiyah, Imam At-Taftazani
Logical Fallacy, Moh. Nuruddin


Oleh: 
Moh Nurulloh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...