Langsung ke konten utama

Apakah Tuhan Benar-Benar Ada?

Gambar: ilustrasi perdebatan 

Apakah Tuhan Benar-Benar Ada?

Iya, Tuhan benar-benar ada.

Apa bukti bahwa Tuhan ada?

Tuhan bisa dibuktikan dengan akal sehat, logika rasional, dan wahyu.

Saya tidak percaya Tuhan karena Dia tidak bisa dilihat!

Pernyataan ini tidak mendasar. Karena sesuatu yang tidak bisa dilihat belum tentu tidak ada. Sesuatu yang tidak bersifat fisikal, belum tentu tidak ada. Sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara empirik, belum tentu tidak ada. Banyak hal nyata dalam hidup yang tidak bisa dilihat, disentuh, atau difoto, tapi keberadaannya kita yakini.

Buktinya apa?

Ketika pipimu ditampar, pasti sakit. Dan rasa sakit itu tidak bisa ditampilkan secara nyata. Yang kamu lihat di pipimu adalah warna merah, memar, atau bekas luka. Rasa sakit itu sendiri tidak bisa dibuktikan secara inderawi, tidak bisa dibuktikan secara fisikal. Namun apakah karena tak terlihat lantas rasa sakit itu tidak ada? Tentu tidak. Rasa sakit itu jelas ada.

Bukti lain:

Waktu adalah sesuatu yang benar-benar ada. Namun keberadaan waktu itu bersifat non-fisik. Yang kita lihat di dinding adalah jam, bukan waktu. Yang kita lihat adalah jarum jam yang berputar, bukan waktu. Yang kita lihat adalah angka jam dari 1-12, bukan waktu. Ini adalah bukti bahwa wujud (ada) bukan hanya yang bersifat fisikal, tapi di sana ada juga wujud yang bersifat non-fisikal.

Pada dasarnya, konsep-konsep seperti, rasa sakit, rindu, cinta, marah, sabar, dan konsep-konsep universal lainnya, seperti meja, kursi, tanah, air, dan lainnya itu jelas ada. Tapi keberadaannya bersifat non-inderawi. Tidak bisa dijangkau oleh pancaindera. Namun, secara akal sehat konsep-konsep itu diyakini keberadaannya.

Maka, tidak logis menolak eksistensi sesuatu hanya karena ia tidak bisa dilihat.

Oke. Saya bisa menerima argumenmu. Tapi, menurut sains, seluruh alam semesta ini berjalan secara otomatis, tanpa harus melibatkan peran Tuhan. Coba perhatikan, alam semesta berjalan secara teratur, tanpa harus bantuan Tuhan?

Pernyataan ini keliru secara logika. 

Mana yang lebih logis, buku ini ada karena ada yang menulis, atau buku ini menulis dengan sendirinya tanpa ada orang yang menulis? Tentu lebih logis buku ini ada karena ada penulisnya. Buku sekecil ini, tidak bisa mengadakan dirinya sendiri, apalagi alam semesta sebesar ini?

Justru alam semesta yang memiliki hukum fisika yang teratur, itu menunjukkan adanya "Perancang Agung" di balik itu. Dan Dia adalah Tuhan.

Al-Quran mengajak kita berpikir lewat pertanyaan tajam:

أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (Ath-Thur:35)

Ini adalah dalil logika yang sederhana tapi sangat tajam: Jika tidak mungkin manusia menciptakan dirinya sendiri, dan mustahil ada dari ketiadaan secara spontan, maka pasti ada Pencipta Sejati, yaitu Tuhan.

Jadi, mengatakan Tuhan tidak ada karena tidak bisa dilihat adalah kesalahan berpikir. Banyak hal tak terlihat, tapi nyata. Alam semesta yang besar dan teratur adalah bukti kuat adanya Tuhan. Tuhan ada, meskipun tidak kasatmata, karena eksistensi-Nya bisa dibuktikan oleh akal, logika, dan tanda-tanda alam.


Oleh:

Moh Nurulloh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...