Jika Tuhan Maha Kasih, mengapa ada banyak penderitaan?
Pertanyaan ini sering muncul dalam filsafat agama. Jika Tuhan Mahakasih, mengapa ada banyak penderitaan? Seperti kelaparan, pencurian, kecelakaan, kemiskinan, bunuh diri, virus corona, mati mendadak, dan lainnya.
Namun, jawabannya akan jelas bila kita memahami hakikat dunia. Penderitaan adalah bagian dari hikmah. Dunia ini tempat ujian, bukan surga dan bukan tempat balasan. Ujian tidak hanya di sekolah, tapi bisa saja dalam keluarga, rumah tangga, atau dalam sosial-masyarakat.
Bukti paling nyata bahwa dunia ini tempat ujian, bukan rumah balasan adalah para rasul sang kekasih Tuhan juga mengalami penderitaan. Bahkan penderitaan mereka lebih dahsyat ketimbang manusia biasa seperti kita.
Nabi Nuh dihina kaumnya, Nabi Ibrahim dibakar, Nabi Musa dikejar Fir'aun, Nabi Muhammad diusir, dilukai, dan dicaci-maki. Padahal, mereka adalah kekasih Tuhan. Mereka manusia terbaik. Jika penderitaan sebagai tanda kebencian, tentu para nabi tidak akan merasakan itu.
Selain itu, banyak kebaikan hanya bisa lahir karena pengalaman-pengalaman sulit. Kita mudah bersimpati pada orang lain, karena kita sendiri pernah berada di posisi sulit itu. Kita lebih tergerak membantu orang-orang yang menderita, karena kita sendiri pernah berada pada penderitaan itu.
Analoginya begini: seperti seorang dokter memberi obat pahit atau operasi yang menyakitkan demi kesembuhan pasien, demi kesembuhan penyakit yang dideritanya. Rasa sakit yang disebabkan oleh dokter bukan sebuah kebencian, tetapi jalan menuju kebaikan yang lebih besar.
Analogi lain: seorang siswa diuji dengan soal-soal sulit. Ujian terasa berat dan melelahkan, tapi justru itulah yang membuatnya naik kelas. Tanpa ujian, tidak ada peningkatan.
Jika Tuhan Esa, Kenapa Dia perlu malaikat?
Pertanyaan ini muncul dari kesalahpahaman, seolah-olah jika Tuhan menciptakan malaikat berarti Tuhan “butuh” mereka. Padahal, dalam akidah Islam, Allah Mahakuasa dan Maha Mandiri. Dia tidak memerlukan apapun, baik malaikat maupun makhluk lainnya.
Malaikat dicipta dan dikasih tugas bukan karena Tuhan tak mampu melakukan sendiri. Malaikat bekerja sesuai tugasnya bukan karena Tuhan butuh. Tanpa malaikat pun Tuhan mampu mengatur semua makhluk-Nya. Tujuan Tuhan menugasi malaikat untuk menunjukkan sistem dan keteraturan ciptaan-Nya.
Tuhan mencipta malaikat agar kita sebagai manusia melihat bahwa seluruh jagat raya berjalan dengan sistem dan keteraturan. Malaikat menjadi perantara dalam pengaturan alam semesta, sehingga manusia bisa memahami adanya hukum-hukum Tuhan (sunnatullah).
Dengan ditugasnya malaikat, manusia bisa belajar bahwa setiap perbuatan dicatat, setiap doa disampaikan, setiap rezeki diatur, dan lainnya. Hal ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran spiritual.
Analoginya begini: seorang presiden mampu memutuskan persoalan sendiri, mampu beroperasi sendiri, tapi tetap ada menteri dan pejabat yang membantu. Bukan karena presidennya lemah, tapi karena hikmah dan tatanan kenegaraan.
Property of:
Moh. Nurulloh

Komentar