Langsung ke konten utama

Beda; Marah Allah & Manusia


Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli.

Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan. 

"Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan. 

Atau misalnya sifat rindu. Sifat rindu itu ada, tapi ngak berbentuk rupa, juga gambaran hakikatnya ngak ada, tapi sifat rindu itu ada. Atau misalnya merasa gembira, gembira itu ada, tapi ngak berupa fisik, juga gambaran hakikatnya ngak ada. Sama seperti, melaknat, sabar, kecewa dan lainnya. 

Hakikat marah adalah bergejolaknya hati karena hendak menuntut balas dendam. Sifat ini pasti ngak lepas dari kekurangan dan penderitaan. Nah, marah Allah itu ngak sama dengan marah makhlukNya. Sebab, Allah ngak punya hati, ngak ada darah, ngak ada organ tubuh lainnya. Lantas, ketika seseorang berkata: Allah murka, atau Allah rindu, atau Allah senang, maka ia pasti menghendaki pengertian adanya sifat lain yang muncul, yaitu sifat iradah (berkehendak). 

Artinya, jika dikatakan: Allah murka, maka maksudnya adalah Allah hendak menyiksa. Allah hendak menghukum. Allah senang, maksudnya adalah Allah hendak mencurahkan rahmat-Nya. Secara substansi, sifat marah ngak cocok dengan sifat iradah, tetapi cocok dalam salah satu sifat yang menyertainya. 

Manusia marah, artinya ia hendak memukul atau melukai. Manusia sabar, artinya ia menahan amarahnya untuk tidak melukai. Tentu, marah Allah dan manusia beda. 

Sifat marah Allah lebih terkait dengan sifat iradah (berkehendak) dari pada sifat marah itu sendiri. Sementara itu, manusia marah karena memiliki perasaan dan emosi yang berbeda dengan Allah.

Konsep wujud syabahi membantu memahami sifat-sifat Allah dan manusia dengan lebih baik, serta menghindari antropomorfisme yang tidak tepat dalam memahami sifat-sifat Allah.

Ref: Faishal At-Tafriqah 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...