Langsung ke konten utama

Fiksi, Fiktif dan Kitab Suci

 

Dalam KBBI, kata “fiksi” adalah kata benda yang dipakai untuk menyebut sejenis karya, seperti novel, cerpen atau drama. Makna “fiksi” adalah cerita rekaan atau hasil khayalan dan tidak berdasarkan kenyataan. 

Misalnya, novel Harry Potter adalah karya fiksi. Fiksi disini menunjuk jenis karya, bukan sifat benar atau salahnya isi cerita. Contoh lain; Farhan lebih suka baca fiksi daripada buku sejarah. Fiksi disini menunjuk kategori buku bacaan, bukan sifat. 

Adapun “fiktif” adalah kata sifat yang sering dipakai untuk menerangkan sifat sesuatu, dan sering berkonotasi palsu atau tidak benar. Makna “fiktif” adalah bersifat khayalan atau hanya ada dalam imajinasi. 

Misalnya, tokoh dalam cerita itu adalah fiktif. Artinya, tokohnya tidak nyata, hanya rekaan atau hasil dari imajinasi. Contoh lain; Toni membuat alamat fiktif saat mengisi formulir. Dalam artian, alamatnya direkayasa, tidak ada.

Dari pengertian KBBI ini, tampak sama antara fiksi dan fiktif, keduanya memiliki makna yang sama. Perbedaannya adalah hanya terletak pada fiksi sebagai kata benda, dan fiktif sebagai kata sifat.

Ust. Adi Hidayat punya definisi berbeda perihal “fiksi” dan “fiktif”. Menurutnya, “fiksi” adalah imajinasi tentang sesuatu yang nyata, real adanya, atau sesuai dengan realita. Sebaliknya, “fiktif” adalah kata sifat yang menggambarkan sesuatu yang palsu, dibuat-buat, atau tidak nyata.

Misalnya, novel sejarah tentang Perang Diponegoro adalah nyata, atau real adanya. Tapi, dialog dan detail ceritanya dalam buku itu hasil imajinasi. Atau cerita fiksi tentang kehidupan di akhirat. Akhirat itu nyata, real adanya. Tapi, gambaran naratifnya adalah upaya imajinasi manusia. Jadi, fiksi disini bukan akhiratnya, tapi cerita orang tentang akhirat.

Sekilas, definisi Ust. Adi Hidayat tampak memiliki kemiripan dengan penjelasan Rocky Gerung. Menurut Rocky, yang dimaksud fiksi bersifat imajinasi, dan bersifat positif. Sementara yang memiliki makna negatif, bagi Rocky, adalah fiktif yang memiliki arti kebohongan dan kacau.

Dalam sebuah diskusi publik, Rocky Gerung mengatakan bahwa adanya perbedaan pemahaman secara keliru oleh masyarakat yang menganggap bahwa fiksi adalah rekaan dan khayalan. Ia menjelaskan bahwa fiksi itu beda dengan fiktif, lawan kata fiksi bukan faktual.

Saat di ILC, Rocky menjelaskan: “orang seperti Anda, sering salah kaprah menyandingkan kata fiksi dengan kata fakta. Padahal fiksi itu sandingannya dengan realita. Sesuatu dalam karya fiksi yang belum menjadi realita saat ini, bukan berarti itu bohong. Bisa jadi akan benar-benar terjadi di masa depan. Sedangkan kata fakta itu lawannya fiktif.”

“Fiksi itu baik, lanjut Rocky, yang buruk itu fiktif. Kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, saya besok bisa dipenjara itu. Tapi kalau itu dibilang fiksi, saya punya argumen karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci.”

Sontak ucapan Rocky Gerung yang mengatakan Kitab Suci adalah fiksi langsung pecah dan menuai pro-kontra di khalayak publik, terutama di sosial media. Nah, pernyataan kontroversi inilah yang akan dijadikan bahan diskusi kali ini. 

Pertama, soal Kitab Suci adalah fiksi menurut Rocky Gerung. Pernyataan yang tepat adalah bahwa Al-Quran itu bukan kitab fiksi apalagi fiktif. Al-Quran sebagai sebuah kitab adalah nyata, real adanya. Adapun yang fiksi adalah gambaran naratif manusia tentang Al-Quran itu sendiri.

Cerita-cerita dalam Al-Quran, seperti kisah para nabi, adanya surga-neraka, akhirat, dan lainnya adalah nyata atau real adanya. Jadi, yang fiksi disini bukan surga-neraka, akhirat dan lainnya, tapi cerita orang tentang surga-neraka dan akhirat. Statemen ini tidak terlampau sulit, jika sudah memahami definisi dan contoh di atas.

Al-Quran sendiri menolak jika dirinya disebut sebagai kitab karya imajinasi atau syair. Kata Al-Quran:

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ

“..dan Al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair..” (al-Haqqah: 41)

Ayat ini jelas dan sudah cukup menegaskan bahwa Al-Quran bukan hasil daya khayal, bukan narasi rekaan, dan bukan pula hasil produk kreativitas manusia. Tetapi, Al-Quran adalah wahyu yang membawa klaim kebenaran.

Selain itu, gambaran orang-orang tentang surga-neraka sebagai sebuah “fiksi” juga ditolak oleh hadis nabi. Kata nabi:

ما لا عَيْنٌ رَأَتْ، ولا أُذُنٌ سَمِعَتْ، ولا خَطَرَ علَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Surga itu tidak sama seperti yang kalian lihat di bumi, tidak sama seperti yang kalian dengar, dan tidak sama seperti imajinasi kalian semua.”

Hadis ini cukup menolak bahwa surga adalah “fiksi”. Imajinasi manusia tentang surga, adalah bukan surga itu sendiri. Surga yang diimajinasikan oleh manusia tidak akan sama dengan surga asli. Makanya dikatakan “tidak sama dengan imajinasi kalian”.

Adapun realitas yang dikabarkan Al-Quran, seperti surga, neraka, dan kehidupan akhirat, memang berada di luar jangkauan pengalaman indrawi manusia. Namun, keterbatasan indra dan imajinasi manusia tidak dapat dijadikan dasar untuk menyebutnya sebagai fiksi. Ini menunjukkan bahwa realitas wahyu melampaui imajinasi, bukan diciptakan oleh imajinasi.

Kedua, Rocky Gerung mengungkapkan itu di ruang publik. Menurut kami, itu tidak tepat. Jadi, konteksnya tidak tepat. Tidak semua orang sama definisinya dengan Rocky. Karena itulah, kekeliruan ini semakin bermasalah ketika diungkapkan di ruang publik, karena alasan definisi masing-masing orang yang berbeda.

Ketiga, kami setuju dengan ungkapan Rocky ini: “Padahal fiksi itu sandingannya dengan realita. Sesuatu dalam karya fiksi yang belum menjadi realita saat ini, bukan berarti itu bohong. Bisa jadi akan benar-benar terjadi di masa depan. Sedangkan kata fakta itu lawannya fiktif.”

Keempat, kami juga setuju perkataan Rocky bahwa “Al-Quran itu mengaktifkan imajinasi. Karena fungsi Al-Quran dapat menghidupkan orang untuk berimajinasi, entah itu berimajinasi tentang surga-neraka, akhirat dan lainnya.”

Klaim Rocky yang tidak kami sepakati adalah bahwa Al-Quran itu kitab fiksi. Walaupun Al-Quran dapat mengaktifkan imajinasi, tidak serta-merta Al-Quran disebut kitab fiksi. Al-Quran itu satu hal, dan sesuatu yang ditimbulkan dari Al-Quran–berupa mengaktifkan imajinasi–adalah hal yang lain lagi.

Al-Quran sebagai kitab suci, dan sesuatu yang ditimbulkan dari Al-Quran berupa mengaktifkan imajinasi adalah dua hal yang berbeda. Keduanya tidak sama. Jadi, tidak tepat ketika dikatakan bahwa Al-Quran kitab fiksi hanya karena mengaktifkan imajinasi.


Salam;

Moh. Nurulloh




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...