Bahasa Arab adalah bahasa manusia. Ia termasuk dalam kategori makhluk (diciptakan), baru (ḥādits), dan memiliki sejarah perkembangan. Bahasa Arab, sebagaimana bahasa-bahasa lain, lahir dalam periode tertentu dan dipergunakan oleh suatu komunitas tertentu.
Umur bahasa Arab yang kita kenal diperkirakan sekitar 2.000–2.500 tahun. Ia berkembang dari rumpun bahasa Semitik bersama bahasa Ibrani, Suryani, dan Aram. Maka jelas bahwa bahasa Arab bukanlah qadīm, melainkan sesuatu yang bermula dan berubah seiring waktu.
Adapun tentang sejak kapan bahasa Arab itu mulai digunakan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, itu menjadi perdebatan di kalangan ahli. Terlepas dari aneka ragam pendapat itu, semua sepakat bahwa bahasa Arab itu bermula dari satu periode ke periode tertentu.
Tentunya, jika bahasa Arab dikatakan sebagai bahasa Tuhan, maka secara otomatis kalam Allah adalah baru. Sebab, bahasa Arab adalah baru. Dan itu mustahil terjadi. Lantas gimana pemahaman yang benar tentang kalam Allah? Dan bagaimana dengan Al-Quran yang berbahasa Arab? Berikut kami uraikan mengenai hal ini secara ringkas.
Kalam Allah versi Asy’ariah-Maturidiyah bisa dilihat dari dua sisi: kalam nafsi dan kalam lafdzi.
Kalam nafsi adalah sifat qadim yang melekat pada Dzat Allah. Kalam nafsi ini bersifat qadim, terdahulu. Kalam ini tidak berupa huruf, suara, atau bahasa tertentu, karena huruf dan suara adalah makhluk. Kalam Nafsi inilah yang dimaksud sebagai kalam qadīm, yang tidak bermula, tidak berubah, dan tidak sama dengan kalam makhluk.
Sedangkan kalam lafdzi adalah kalam yang berupa huruf, kata-kata, dan terwujud dalam bahasa tertentu. Kalam lafdzi adalah ungkapan dari kalam nafsi dalam bentuk lafaz, bahasa, suara.
Adapun kalam Allah versi Muktazilah hanya ada satu, yaitu kalam lafdzi. Bagi Muktazilah, tidak ada yang namanya kalam nafsi. Mereka membatasi kalam hanya pada kalam lafdzi saja. Maka secara konsekuen, menurut mereka Al-Quran adalah makhluk, karena berupa rangkaian huruf dan suara.
Kendati demikian, dua kelompok itu tidak ada perselisihan bahwa Allah Berbicara. Dan Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah kalam Allah.
Mengenai kalam lafdzi antara Asy'ariah-Maturidiyah dan Muktazilah semuanya sepakat bahwa ia adalah sesuatu yang hadits (baru) dan diciptakan (makhluk). Bedanya Asy'ariah-Maturidiyah tidak membatasi kalam hanya pada kalam yang berbentuk lafadz saja. Sementara Muktazilah membatasi kalam hanya pada kalam lafdzi.
Jika Tuhan tidak berbahasa Arab lantas kenapa Al-Quran berbahasa Arab? Dan mengapa Al-Quran dikatakan kalam Allah, bukan kalam Nabi? Katanya bahasa Arab itu baru, dan kalam Allah bukan sesuatu yang baru?
Pertama, kenapa Al-Quran berbahasa Arab? Karena peserta pertama Al-Quran adalah orang-orang Arab. Bukan orang China atau Indonesia. Andaikan audiens pertama Al-Quran adalah orang-orang China, mungkin Al-Quran berbahasa China. Tetapi, karena audiens pertama Al-Quran adalah orang-orang Arab, maka rasional jika Al-Quran diturunkan mengunakan bahasa Arab.
Kedua, kenapa Al-Quran yang berbahasavitu dikatakan kalam Allah, bukan kalam Nabi? Karena Al-Quran itu lafadz dan maknanya dari Allah, bukan dari Nabi. Nabi tidak merangkai Al-Quran itu secara mandiri. Tetapi, Nabi hanya bertugas sebagai penyampai saja atas kalam Allah itu.
Ketiga, iya betul bahasa Arab itu baru, dan kalam bukan sesuatu yang baru. Karena bahasa Arab itu bermula (hadits), sedangkan Al-Quran bukan hadits.
Al-Quran yang kita lihat berupa teks adalah baru. Al-Quran yang kita dengar berupa suara adalah baru. Al-Quran yang kita baca dengan bahasa tertentu, termasuk bahasa Arab adalah baru. Sebab, itu semua berupa suara, huruf, dan bahasa tertentu. Dan kalam Allah suci dari itu semua.
Kalam Allah yang qadim ada pada Dzat Allah. Ia tidak berupa huruf, suara, atau bahasa tertentu.
Waallahu 'a'lam

Komentar