Langsung ke konten utama

Kenapa Hanya 50 Aqaid?


Jumlah 50 aqaid yang dirumuskan oleh para ulama Asy'ariah bukan bersifat membatasi. Konsep tersebut bukan berarti mencukupkan hanya 50 sifat dan menolak sifat-sifat yang lain. Ulama Ahlusunah Waljamaah menetapkan semua sifat yang datang dari Al-Quran dan hadis. Juga membenarkan semua sifat yang bersumber dari Allah dan rasulNya. 

Ulama Asy'ariah mencukupkan pembahasan 50 aqaid karena batas kemampuan akal manusia dalam rangka mengetahui Allah dan rasulNya. 50 sifat ini dianggap sudah cukup untuk membentengi akidah umat Islam. 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, dan 4 sifat wajib bagi para rasul, 4 sifat muhal bagi para rasul, 1 sifat jaiz bagi para rasul sudah dianggap cukup untuk membentengi akidah umat Islam dari pemahaman keliru tentang Allah dan rasulNya. 

Sebagaimana maklum, aliran-aliran menyimpang pada masa klasik, seperti Muktazilah, Mujassimah, Musyabbihah, Jabariah, Qadariah, Jahmiah dan lainnya yang menyifati Allah dengan sifat-sifat yang menodai kesucian Allah cukup marak berkembang. Maka, dengan memahami sifat-sifat tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang menyimpang tentang Allah. 

Misalnya, ketika Mujassimah mengkalim Allah bertempat di arasy, maka klaim ini dapat ditolak dengan salah satu sifat Allah, yaitu Qiyamuhu Binafsihi (Allah berdiri dengan Dzat sendiri). Atau ketika Musyabbihah menyamakan Allah dengan makhluk, maka klaim ini dapat ditolak dengan salah satu sifat Allah, yaitu Mukhalafatu Lilhawadits (Allah beda dengan makhluk). Atau ketika Muktazilah menafikan semua sifat bagi Allah, maka dapat ditolak dengan rumusan yang detail tentang sifat-sifat tersebut.

Secara sederhana, memahami sifat-sifat Allah yang dirumuskan oleh ulama dalam konsep "aqaid al-khamsin", umat Islam akan mendapatkan beberapa manfaat. Antara lain:

1. Dapat menghindari penyimpangan. Aliran-aliran di luar Ahlusunah Waljamaah, seperti Muktazilah, Mujassimah, Musyabbihah, Jabariah, Qadariah, Jahmiah, dan lainnya dapat dihindari dengan memahami sifat-sifat Allah dan rasulNya dengan pemahaman yang benar. 

2. Dapat menguatkan iman. Dengan memahami sifat-sifat Allah dan rasulNya yang benar, iman seseorang dapat menjadi lebih kuat dan ngak akan mudah goyah oleh keyakinan-keyakinan yang menyimpang. 

3. Membentengi akidah. 50 aqoid dapat menjadi benteng bagi akidah umat Islam, sehingga mereka dapat memahami Allah dan rasulNya dengan benar. 

4. Lebih mudah dihafal, diingat dan dipahami. Konsep aqaid 50 memudahkan umat Islam untuk menghafal, mengingat dan memahami. Dengan pembahasan yang disusun secara sistematis memudahkan umat Islam memahami konsep akidah dengan lebih baik. 

Mengetahui aqaid 50 adalah kewajiban bagi setiap muslim mukallaf. Setiap mukmin harus menyakini bahwa Allah wajib memiliki sifat kesempurnaan yang layak bagi keagunganNya, wajib meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagunganNya, dan meyakini bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin, seperti menghidupkan, mematikan dan lain-lain.

Kenapa wajib?

Ada beberapa alasan logis kenapa mengetahui aqaid 50 diwajibkan. 

1. Sebagai muslim tentu kita diwajibkan ma'rifat dan mengenal Allah sebagai Tuhan, sedangkan ma'rifat dan mengenal hakikat Allah jelas tidak mungkin terjadi kecuali oleh Allah sendiri. Sebab Allah bukan benda, Allah ngak berbentuk jisim, Allah ngak tersusun dari bagian-bagian tubuh. 

Nah, konsep aqaid 50 menjadi solusi mengantarkan seseorang ma'rifat dan mengenal Allah. Hakikat Allah ngak dapat diketahui, namun Allah bisa diketahui dengan sifat-sifatNya. 

2. Ulama membagi sifat khobariyah menjadi dua bagian: sifat adz-dzat dan sifat al-af'al. Sifat khobariyah adalah sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadis. Semua sifat yang disebutkan oleh Allah dan rasulNya.

Sifat adz-dzat adalah sifat-sifat yang ada dan melekat pada Allah, seperti sifat wajib dua puluh. 

Sifat al-af'al adalah sifat-sifat yang merupakan perbuatan Allah, seperti sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan), al-Mumit (Maha Mematikan), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rohim (Maha Penyayang), dan lainnya. 

Kedua sifat ini berbeda. Sifat adz-dzat menjadi syarat uluhiyah, menjadi syarat mutlak ketuhanan. Sifat ini wajib dimiliki Allah. Sehingga ketika Allah wajib bersifat baqa' misalnya, maka kebalikan dari sifat tersebut seperti sifat fana' adalah mustahil bagi Allah.

Adapun sifat al-af'al ngak menjadi syarat uluhiyah, ngak menjadi syarat mutlak ketuhanan. Ketika Allah memiliki salah satu sifat af'al, maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Allah. Seperti sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan) dan kebalikannya al-Mumit (Maha Mematikan). 

3. Orang yang ngak tahu aqaid 50 dengan argumentasinya, status orang tersebut diperselisihkan keimanannya oleh ulama. Orang itu dikatakan "muqallid" (pengikut). Tentang "muqallid" ulama ada yang menganggap imannya sah, ada juga yang mengatakan imannya ngak sah. (Akidah al-Awam).

Inilah beberapa alasan logis, kenapa aqaid hanya 50 kok ngak lebih, dan kenapa kita diwajibkan mengetahuinya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...