Langsung ke konten utama

Hukum Akal & Spesifikasi Aqaid 50


Mengetahui sifat 50 atau aqaid 50 membutuhkan tiga hal pokok: wajib aqli, muhal aqli, dan jaiz aqli. Mengetahui hukum akal yang tiga ini wajib bagi setiap mukallaf, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab 3 hukum akal ini merupakan kunci untuk memahami sifat 50. Dan sesuatu yang menjadi kunci untuk memahami sesuatu, hukumnya juga wajib.

Menurut Imam Haramain: "Memahami hukum akal yang tiga ini merupakan akal itu sendiri. Orang yang tidak paham ketiga hal ini, sama dengan orang yang tidak berakal." (Akidah al-Awam/3). Imam Haramain adalah gurunya Imam Ghazali. 

1. Wajib aqli adalah sesuatu yang wajib ada menurut akal, dan ketiadaannya dianggap tidak rasional. Adanya sesuatu tersebut hukumnya wajib, dan ketiadaannya hukumnya muhal. Misalnya begini: gelas bertempat hukumnya adalah wajib secara akal. Jika dikatakan: gelas ngak bertempat maka secara otomatis akal menolak, sebab hal demikian irasional, akal ngak bisa menangkapnya. Adanya gelas bertempat adalah kewajiban. 

Misalnya: Allah wajib bersifat baqa' (kekal), tentunya akal memahami bahwa keberadaan sifat baqa' bagi Allah adalah keharusan, dan ketiadaan sifat baqa' adalah kemustahilan. Samakan contoh ini dengan sifat-sifat yang lain.

2. Muhal aqli adalah sesuatu yang mustahil ada menurut akal, dan keberadaannya dianggap tidak rasional. Sifat muhal adalah kebalikan dari sifat wajib. Misalnya: sifat naqs (kekurangan) atau 'ajz (kelemahan) bagi Allah adalah mustahil secara akal, karena akal tidak bisa menerima bahwa Allah memiliki kekurangan atau kelemahan. 

3. Jaiz aqli adalah sesuatu yang mungkin ada atau tidak ada menurut akal, dan keberadaannya tidak dianggap sebagai keharusan atau kemustahilan. Misalnya: Allah dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada yang dapat menghalangi-Nya. 

Spesifikasi Aqaid 50

Sifat-sifat Allah 

1. Sifat wajib bagi Allah berjumlah 20. Kemudian 20 sifat ini dikerucutkan menjadi empat bagian: yaitu sifat nafsiyah, salbiyah, ma'ani dan maknawiyah. 

• Sifat nafsiyah adalah sifat diri. Sifat nafsiyah ini tidak memberikan makna lebih kepada dzat. Sifat nafsiyah adalah dzat itu sendiri. Sifat ini ada satu, yaitu "sifat wujud".

• Sifat salbiyah adalah sifat yang merusak dan meniadakan sifat-sifat yang tidak layak disematkan kepada Allah. Seperti sifat a'dam (ketiadaan) huduts (kebaruan) fana' (kehancuran) dan lainnya. Sifat salbiyah ada 5, yaitu qidam sampai wahdaniat.

• Sifat ma'ani adalah sifat yang benar-benar ada pada dzat. Seperti warna hitam yang ada pada batu. Hitam adalah sifat, dan batu adalah dzat. Sifat (hitam) berada dan melekat pada dzat (batu). Atau bersifat abadi seperti sifat qudrat bagi Allah. Qudrat adalah sifat, dan Allah adalah Dzat. Sifat qudrat berada dan melekat pada Allah. Sifat ma'ani ada 7, dari qudrat sampai kalam.

• Sifat maknawiyah adalah sifat yang tidak bisa dipisahkan dari sifat ma'ani. Sifat maknawiyah memperkokoh sifat ma'ani. Jika Allah kuasa, pasti Allah Mahakuasa. Jika Zaid jujur, pasti Zaid sosok yang jujur. Jika Zaid pintar, pasti Zaid sosok yang pintar. Adanya sifat maknawiyah sangat erat kaitannya dengan sifat ma'ani.  Sifat maknawiyah adalah kelanjutan logis dari sifat ma'ani. Sifat ini ada 7, dari qadiran sampai mutakaliman.

2. Sifat mustahil bagi Allah juga ada 20. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat wajib. Lebih mudahnya sifat wajib pasti dimiliki oleh Allah, sifat mustahil pasti tidak dimiliki oleh Allah. Seorang muslim di samping memahami sifat yang layak bagi Allah, juga harus memahami sifat yang tidak layak bagi Allah. 

3. Sifat jaiz hanya ada satu. Sifat jaiz ini diibaratkan hak wewenang Allah dalam bertindak. Allah berhak memberi kebaikan dan keburukan pada siapapun. Allah berhak menjadikan Zaid muslim, Allah juga berhak menjadikan Zaid kafir. Allah berhak memberi ilmu pada Zaid, juga berhak memberi kebodohan pada Zaid. 

Sifat-sifat Para Rasul 

1. Sifat wajib bagi para rasul ada empat. Pertama, shiddiq (jujur) dalam berbicara. Kedua, amanah, dalam arti para rasul terjaga dari melakukan perkara haram dan makruh. Ketiga, tabligh, artinya menyampaikan apa yang diwahyukan untuk disampaikan kepada makhluk. Keempat, fathanah atau cerdas.

2. Sifat mustahil bagi rasul juga ada empat. Pertama, dusta dalam berbicara. Kedua, khianat, dalam arti para rasul melakukan perkara haram atau makruh. Ketiga, kitman, menyembunyikan apa yang diperintah untuk disampaikan. Keempat, baladah (goblok). 

3. Sifat jaiz bagi para rasul ada satu. Sifat jaiz adalah kebolehan para rasul dalam melakukan perbuatan manusiawi yang tidak sampai mengurangi kemuliaan derajat mereka. Dengan sifat ini, para rasul juga memiliki sifat-sifat dasar manusiawi, seperti berjalan, makan, minum, nikah, tidur, sakit dan lain sebagainya. 

Inilah klasifikasi hukum akal dan spesifikasi akidah 50. Dengan memahami ini, seseorang dapat memahami sifat-sifat Allah dan rasulNya dengan lebih baik, serta dapat membedakan antara yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan rasulNya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...