Kami berusaha menampilkan argumen-argumen Aqaid 50 secara ringkas yang diambil dari dalil-dalil naqli (Al-Quran-hadis), atau akal (dalil rasional). Dimulai dari:
Argumen wujud (eksistensi Allah)
1. Argumen naqli (Al-Quran):
إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku," (Thoha:14)
Ayat ini secara tegas menyatakan keberadaan Allah dan kewajiban menyembahNya sebagai satu-satunya Tuhan yang benar.
2. Argumen aqli (rasional):
Allah itu ada apa ngak?
Allah itu ada!
Apa buktinya?
Adanya makhluk (ciptaan Allah)!
a). Argumen kausalitas (sebab-akibat)
Kenapa adanya makhluk menjadi bukti adanya Allah?
Karena makhluk ngak mungkin mengadakan dirinya sendiri. Baju yang kita pakai ngak mungkin menjahit sendiri, pasti ada orang yang menjahit. Sarung yang kita pakai ngak mungkin menjahit sendiri, pasti ada yang menjahit. Begitu juga celana, kaos, jas, kopiah dan lainnya.
Analogi sederhana:
- Adanya kotoran ayam menunjukkan adanya ayam.
- Adanya kotoran sapi menunjukkan adanya sapi.
- Adanya kotoran unta menunjukkan adanya unta.
- Mustahil ada kotoran, tanpa ada yang mengotori.
Jadi, adanya makhluk adalah bukti jelas adanya Pencipta, yaitu Allah SWT. Keberadaan Allah sebagai Pencipta adalah sebuah kewajiban “wajib al-wujud”.
b). Argumen huduts (kebaruan alam)
Selain itu, apa bukti Allah ada?
Barunya alam!
Apa maksud alam itu baru?
Maksudnya, alam ini ada dari ketiadaan. Awalnya ngak ada kemudian ada!
Kenapa barunya alam menjadi bukti adanya Allah?
Karena mustahil secara akal sesuatu yang baru tidak ada yang memperbarui. Tidak mungkin sesuatu yang awalnya tidak ada kemudian menjadi ada tanpa sebab.
Alam sebelum dicipta, ketiadaan dan keberadaan alam sama saja. Ngak ada yang mengungguli satu sama lain. Ketika alam benar-benar dicipta, maka jelas bahwa “keberadaan alam mengungguli ketiadaannya”.
Analoginya begini:
- Zaid sebelum dicipta, atau Zaid sebelum dilahirkan, antara ada dan ketiadaan Zaid sama saja. Ngak ada yang mengungguli satu sama lain.
- Ketika Zaid benar-benar dicipta, atau ketika Zaid benar-benar dilahirkan, tentu adanya Zaid mengungguli ketiadaannya.
- Pertanyaan: siapa yang “mengunggulkan”? Tentu adalah “murajjih” (sang pengunggul), yaitu pencipta.
Analogi lain:
- Sebuah timbangan kosong: tentu dua sisi (kanan-kiri) timbangan masih seimbang. Belum ada yang mengungguli.
- Setelah diberi beban dan diletakkan barang, satu sisi lebih berat. Timbangan yang kanan mengungguli yang kiri.
- Siapa yang menjadikan satu sisi lebih berat? Tentu karena ada “murajjih”. Begitu pula dengan alam: ada murajjih yang menjadikan “ada” lebih unggul dari “tiada”. Dialah Allah SWT.
Kesimpulan:
Alam ini baru, artinya alam ini ada dari ketiadaan. Setiap sesuatu yang ada dari ketiadaan, pasti yang mengadakan. Tidak mungkin alam mengadakan dengan sendirinya. Konklusinya, alam ini ada yang menciptakan. Dan pencipta sejati adalah Allah SWT.
Komentar