Langsung ke konten utama

Aswaja itu Siapa?

 


Ahlusunah Waljamaah (Aswaja) adalah Islam itu sendiri, konsistensi berislam ala Rasulullah dan para sahabatnya. Aswaja itu bukan paham yang baru muncul sebagai respons terhadap aliran-aliran sesat. Sebelum era Imam Abu Hasan Al-Asy'ari (w. 324 H) Aswaja itu sudah ada dengan para imamnya, dengan pemahaman Islam yang mengikuti kelompok mayoritas setiap masa.


Arti Aswaja 

Secara etimologi, istilah Ahlusunah wal Jamaah terdiri dari tiga kata. Ahlu, sunah, dan jamaah. Pertama "ahlu" memiliki arti: keluarga, penduduk, kekasih, golongan, dan pengikut. Dalam konteks Ahlusunah wal Jamaah kata "ahlu" dimaknai pengikut. 

Kedua, "as-sunah". Secara etimologis memiliki arti: thariqah (jalan dan perilaku). Jalan ada dua: jalan yang baik dan jalan yang buruk. Secara terminologi "sunah" mempunyai arti: jalan yang diridhai oleh Allah yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. (Risalah Ahlusunah wal Jamaah/hal. 5)

Ketiga, "al-jamaah". Secara etimologis berarti orang-orang yang memelihara kebersamaan dan kolektivitas dalam mencapai satu tujuan. Jamaah lawan dari kata firqah, yaitu orang-orang yang bercerai berai dan memisahkan diri dari golongannya. Sedangkan secara terminologis, kata al-jamaah adalah mayoritas umat Islam (as-sawad al-a'zham). (Trilogi Ahlusunah/hal. 16)

Kesimpulan: Arti Ahlusunah wal Jamaah adalah pengikut jalan yang diridhai oleh Allah yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ahlusunah wal Jamaah adalah golongan mayoritas umat Islam (as-sawad al-a'zham), karena golongan terbesar adalah yang paling aman. Mereka sudah mendapat garansi dari Rasulullah tidak akan terjerumus dalam kesesatan. 


Kapan Aswaja Muncul

Aswaja sebagai "sebuah organisasi" muncul pada abad ke-3 Hijriah. Kelahiran Aswaja merupakan respon atas munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama pada abad ke-3 H. 

Aswaja dipelopori oleh para tabiín (generasi pasca sahabat atau murid-murid sahabat) seperti Imam Hasan Al-Bashri, tabi' tabi'in (generasi pasca tabiín atau murid-murid tabiín) seperti Imam-imam mazhab empat, Imam Sufyan Tsauri, Imam Sufyan bin Uyainah dan lainnya.

Selepas tabi’ tabiín ajaran Aswaja diteruskan dan dikembangkan oleh murid-murid mereka dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya. Mulai dari Imam Abul Hasan Al-Asyári, Imam Abu Manshur Al-Maturidi, Imam Al-Haramain, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali dan seterusnya.

Adapun Aswaja sebagai "sebuah ajaran" bukanlah suatu hal yang baru melainkan ajaran yang diajarkan Nabi dan para sahabatnya. Paham Aswaja adalah paham yang dibawa oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Dalam memahami dalil-dalil Al-Quran dan hadis Aswaja mengikuti metodologi para sahabat, yakni metodologi jalan tengah (moderat), keseimbangan antara pengunaan teks suci dan akal. Menyikapi pendapat aliran-aliran ekstrem yang muncul kala itu Aswaja mengambil jalan tengah di antara pendapat-pendapat mereka.


Siapa yang Tergolong Aswaja

Dalam kitab, Ziyadah At-Ta'liqat, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan:

أما أهل السنة فهم أهل التفسير و الحديث و الفقه فإنهم المهتدون المتمسكون بسنة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين وهم الطائفة الناجية قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون والشافعيون و المالكيون والحنبليون

“Adapun Ahlusunah Waljamaah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli fikih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunah Nabi dan sunah khulafaurrasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat. Ulama mengatakan: sungguh kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat yaitu madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hanbali.”

Menurut Syaikh Abi Fadhl Tuban, dalam kitabnya Al-Kawakib al-Lamma'ah: "Yang dikatakan Ahlusunah Waljamaah (Aswaja) yaitu seseorang yang berpedoman terhadap sunah Nabi Muhammad dan sahabat dalam persoalan akidah keagamaan, dalam amal perbuatan serta akhlaq hati".

Dalam kajian akidah/ilmu kalam istilah Ahlusunah wal Jamaah dinisbatkan pada paham yang diusung oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, yang menentang paham Khawarij dan Jabariyah (yang cenderung tekstual) dan paham Qadariyah dan Muktazilah (yang cenderung liberal).

Dalam kajian fikih, istilah Ahlusunah wal Jamaah dinisbatkan pada paham sunni yaitu merujuk pada fikih empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) yang berbeda dengan paham fikih Syi’iy, Dzahiriy, Ja’fariy.

Dalam kajian tasawuf, pengertian Ahlusunah wal Jamaah mengikuti Imam Junaid al-Bagdadi (w. 297 H/ 910 M) dan Imam al-Ghazali at-Thusi (w. 505 H/ 1111M)


Kenapa Aswaja Dinisbatkan Kepada Al-Asy'ari dan Al-Maturidi?

Karena keduanya punya jasa besar dalam merumuskan ajaran-ajaran Ahlusunah Waljamaah. Keduanya berhasil meringkas dan menyusun ajaran Aswaja secara sistematis. Menyusun kerangka dan metodologi secara mendalam. Karenanya, Aswaja dinisbatkan kepada keduanya. 

Penisbatan ini sesuai dengan pernyataan Imam Az-Zabidi dalam kitab Ithaf Sadat Al-Muttaqin (syarah Ihya' Ulumiddin):

إذا أُطلِقَ أهلُ السنةِ والجماعةِ فالمرادُ به الأشاعرةُ والماترديةُ

"Apabila kata Ahlusunah wal Jamaah dikatakan maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan paham Abu Mansur Al-Maturidi." 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...