Langsung ke konten utama

Sejarah Kelam dan Karakteristik Salafi-Wahabi

 


Siapa Wahabi Itu? 

Wahabi merupakan sebutan bagi pengikut ajaran Muhammad bin Abdil Wahab (w. 1793 M), seorang tokoh yang diklaim oleh pengikutnya sebagai pemurni tauhid. Ia lahir di kampung Uyainah Najd sekitar 70 km arah barat laut kota Riyadl, sekarang disebut Arab Saudi. Banyak ulama Wahabi mengakui penisbatan Wahabiyah pada pengikut Muhammad bin Abdil Wahab bahkan membangga-banggakannya. 

Dewasa ini, kelompok Wahabi menolak penisbatan Wahabiyah kepada Muhammad bin Abdil Wahab. Kata mereka, Wahabi itu dinisbatkan kepada Muhammad bin Rustum yang memang Khawarij bukan Muhammad bin Abdil Wahab.

Padahal nisbat ini diambil dari nama ayahnya: Abdil Wahab, dan penisbatan seperti ini sudah masyhur di kancah sejarah Islam. Seperti pengikut Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i disebut Syafi'iyah atau Imam Ahmad bin Hanbal disebut Hanabilah atau Imam Nu'man bin Tsabit Al-Hanafi disebut Hanafiyah. 

KH. Abdul Muchit Muzadi mengatakan; NU didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Kubu pertama ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia, kedua ekstrim kiri yang sekuler dan diwakili oleh Mostofa Kemal Attatur di Turki. Tidak heran jika kelahiran NU tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut. 

Sosok Abdul Wahab sang ayah, harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah tahun 1726 M karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan. Sulaiman bin Abdil Wahab, kakak kandungnya sendiri mengkritik dan menolak pemikiran adiknya tersebut dan menulis sebuah kitab yang amat masyhur: As-Sawaiq Al-Ilahiyah fi Ar-Radd Al-Wahabiyah. 

Pemikiran keagamaan Wahabi ditopang oleh kekuasaan Ibnu Saud yang saat itu menjadi penguasa Najd. Sebelum bergabung dengan Ibnu Saud, Ibnu Abdil Wahab hanya membid'ahkan, mengkafirkan dan mensyirikkan orang lain di luar kelompok mereka. Setelah bergabung dengan Ibnu Saud ia sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. 

Tahun 1764 M, koalisi Ibnu Abdil Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang tidak sepaham dengan mereka tentang tauhid. 

Tak lama kemudian, Wahabi merebut kota Mekah tahun 1805 M. Dapat satu tahun berikutnya Wahabi pun menguasai Madinah. Di dua kota ini Wahabi mendudukinya selama 6 tahun setengah. 

Pada saat itu para ulama dipaksa mengikuti pendapat mereka, pembantaian demi pembantaian mulai dilakukan, pembakaran buku-buku sudah dibuka, dan melarang keras memiliki rokok apalagi sampai mengkonsumsinya. Memiliki saja ngak boleh apalagi menghisap.

Tercatat dalam sejarah, bahwa Wahabi selalu menggunakan jalan kekerasan baik secara doktrinal, kultural maupun sosial. Misalnya dalam penaklukan Jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih dari 400.000 (empat ratus ribu) umat Islam telah dibunuh dan dieksekusi secara publik. 

Dua tipologi Wahabi yang memaksa kehendak pemikirannya. Pertama, sebelum memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi hanya melakukan kekerasan secara doktrinal, intelektual dan psikologis. Kedua, dengan cara kekerasan fisik bahkan pembunuhan secara kejam setelah bergabung dengan Ibnu Saud. 


Karakteristik Salafi-Wahabi 

Banyak sekali ciri khas atau karakteristik dari aliran Salafi-Wahabi. Antara lain adalah percaya bahwa Allah berada di atas Arasy, di langit dan di luar dunia. Allah terkadang juga turun ke dunia. Allah memiliki tangan, jari-jari, kaki, mata, wajah dan lain-lain. Mereka terkadang tidak konsisten dalam berstatement. Terkadang mereka mengatakan Allah di atas Arasy kadang di langit, terus manakah yang paling tepat, di atas Arasy atau di langit?

Salah satu ciri khas kelompok Salafi-Wahabi juga memahami Al-Quran dan hadis secara literal. Secara temporal. Luarnya saja. Casingnya saja. Kulit tidak sampai isi.

Suka membid'ahkan praktek khilafiyah-furu'iyah bahkan terkadang sampai mengkafirkan dan mensyirikkan. 

Nggak mau tawasul, tabarruk (ngambil berkah), istighotsah, qasidah, tahlilan, talqin mayit, shalat tarawih 20 rakaat, anti wirid bersama baik setelah shalat atau ketika ada halaqah, anti Yasinan pada malam Jumat, ngak mau shalat sunah qobliyah Jumat, enggan menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran, pahala shodaqoh dan lainnya. 

Menuduh orang yang berkunjung ke kuburan sebagai jamaah kubur. Menolak acara ulang tahun bahkan mengucapkan ulang tahun adalah sesat. Karena itulah mereka mengharamkan perayaan Maulid Nabi di bulan Maulid.

Suka mengaku "pengikut salaf" dengan slogan andalannya "kembali ke jalan salaf" atau mereka lebih suka dipanggil "Salafi". Katanya pengikut salaf, tapi mengatakan Allah di atas Arasy kadang mengatakan Allah di langit. Gimana sih?

Menolak ulama kredibel dengan dalih "kembali pada Al-Quran dan hadis" atau dengan jurus andalannya "kalian mau ikut hadis atau Syafi'i?" Aneh banget. 

Suka merujuk pada Syaikh Utsaimin, Albani, Ibnu Taimiyah, Ibnu Baz, serta menolak pendapat ulama otoritatif yang dinilai tidak sama dengan pendapat mereka.

Menuduh Ahlusunah Waljamaah sebagai kelompok Syiah, Mu'tazilah dan Atheis. 

Bermusuhan dengan paham Asy'ariyah-Maturidiyah dan dengan siapapun yang tidak sepaham dengan mereka. 

Anti tasawuf dan memusuhi sufisme. 

Bagi mereka bid'ah hanya satu, yaitu dhalalah. Tidak ada bid'ah hasanah. Serta masih banyak lagi karakteristik Salafi-Wahabi.


Ref: 

Dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...