Langsung ke konten utama

Salafi & Dahi Hitam


Apa hukum membuat dahi hitam seperti yang dilakukan tokoh-tokoh Wahabi, apakah perbuatan itu ada dalilnya?

Jawaban

Ngak ada dalilnya. Perbuatan Salafi menghitamkan dahi itu merupakan akibat gagal paham terhadap ayat Al-Quran surat Al-Fath ayat 29. Entah mereka menggunakan tafsir apa untuk membenarkan perbuatan mereka. 

Dalam kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma'tsur karya Imam Suyuthi, dari Ubay bin Ka'ab berkata, Rasulullah bersabda tentang firman Allah:
 
(سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ) 
قال: النور يوم القيامة

"..tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (Qs.Al-Fath: 29) Maksudnya adalah cahaya di wajah pada hari kiamat. (Ad-Durr Al-Mantsur/519)

Dari sini jelas, bahwa maksud ayat di atas adalah wajah mereka orang-orang mukmin bercahaya kelak di hari kiamat karena bekas sujud. Adapun membuat dahi hitam di dunia itu tidak ada sangkut-pautnya dengan ayat di atas. Bahkan, menghitamkan dahi dengan sengaja justru tidak dibenarkan. 

Dari Ju'aid bin Abdurrahman berkata: ketika saya bersama Saib bin Yazid tiba-tiba datang seorang lelaki dan di wajahnya hitam karena bekas sujud, lalu Saib bin Yazid berkata: "Ini merusak wajahnya. Bukan ini maksud firman Allah dalam Qur'an surat Al-Fath ayat 29. Saya shalat 80 tahun tapi ngak hitam seperti ini." (Ad-Durr Al-Mantsur/520)

Artinya, sengaja menghitamkan dahi itu tidak bagus, tidak dianjurkan. Adapun yang dilakukan temen-temen Salafi itu tidak dianjurkan dalam Islam.

Sekian, terimakasih!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...