Langsung ke konten utama

Kata "Kun" fil Quran


Dalam Al-Quran ketika Allah hendak mengadakan sesuatu cukup berfirman "kun" (jadilah). Pertanyaannya, apakah sesuatu yang hendak Allah ciptakan sudah siap, setengah siap, atau langsung selesai ketika Allah berfirman "kun". Tetapi dalam pengadaan langit dan bumi Allah malah menciptakan selama enam hari. Jadi, gimana sebenarnya untuk memahami redaksi "kun" dalam Al-Quran tersebut?

Jawaban

Redaksi "kun" (jadilah) adalah bentuk fi'il amar, menunjukkan arti perintah. Secara logika, orang yang memerintah pasti ada objek yang diperintah. Orang yang berbicara pasti ada lawan bicara. Orang yang menyuruh pasti ada objek yang disuruh. Orang yang mengadakan pasti ada sesuatu yang diadakan. 

Jika Allah berfirman terhadap sesuatu, sedangkan sesuatu tersebut belum ada, itu mustahil, sebab Allah berfirman terhadap dirinya sendiri tanpa ada objek yang difirmani. Dan sesuatu yang belum ada, tidak mungkin paham terhadap firman Allah itu. 

Jika Allah berfirman terhadap sesuatu yang sudah ada, itu juga mustahil, sebab tidak mungkin Allah mengadakan sesuatu yang sudah nyata-nyata ada. Untuk apa Allah berfirman "kun", jika sesuatu itu sudah jadi. Maka untuk memahami redaksi "kun" dalam Al-Quran, kita harus mengungkapnya berdasarkan dalil aqli dan syar'i, seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali. 

Menurut Imam Ghazali, redaksi "kun" dalam Al-Quran adalah bahasa kinayah (metafora) tentang kekuasaan dan kemampuan Allah dalam menciptakan sesuatu dengan sekejap. Menurutnya, kata "kun" ini lebih memberikan pengaruh terhadap jiwa seseorang dalam memberi pemahaman tentang puncak kekuasaan dan kemampuan. Maka digunakanlah bahasa metafora "kun" (jadilah). (Ihya' Ulumiddin/I/379-381)

Secara logika, kata "kun" digunakan untuk menggambarkan proses penciptaan yang cepat tanpa hambatan. Namun, dalam penciptaan langit dan bumi, Allah menciptakan selama enam hari, bukan secepat kilat. Ini menunjukkan kata "kun" tidak selalu berarti penciptaan yang instan, tetapi lebih kepada proses penciptaan yang kompleks dan memerlukan waktu. 

Jadi, redaksi "kun" itu artinya adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah akan terjadi, sebab Allah Maha Mampu, tetapi tidak selalu proses penciptaan itu secepat kilat. 

Contoh lain, dalam hadis di bawah ini: 

أمَا يَخشٰى الذي يَرفع رأسَه قبل الإمام أن يُحوِّلَ اللهُ رأسَه رأسَ حمارٍ؟

"Apakah makmum yang mengangkat kepalanya sebelum imam itu tidak takut jika Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?"

Menurut Imam Ghazali, jika dilihat kepada makmum yang melakukan itu, maka tidak berubah kepalanya menjadi kepala keledai. Hanya secara makna, sifat keledai itu ada pada diri orang tersebut. Maksud dari bahasa metafora dalam hadis itu adalah bodoh dan dungu. Alasannya, karena orang tadi menggabungkan dua hal yang bertentangan, yaitu mengikuti dan mendahului. (Ihya' Ulumiddin/I/379-381)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...