![]() |
Jawaban
Redaksi "kun" (jadilah) adalah bentuk fi'il amar, menunjukkan arti perintah. Secara logika, orang yang memerintah pasti ada objek yang diperintah. Orang yang berbicara pasti ada lawan bicara. Orang yang menyuruh pasti ada objek yang disuruh. Orang yang mengadakan pasti ada sesuatu yang diadakan.
Jika Allah berfirman terhadap sesuatu, sedangkan sesuatu tersebut belum ada, itu mustahil, sebab Allah berfirman terhadap dirinya sendiri tanpa ada objek yang difirmani. Dan sesuatu yang belum ada, tidak mungkin paham terhadap firman Allah itu.
Jika Allah berfirman terhadap sesuatu yang sudah ada, itu juga mustahil, sebab tidak mungkin Allah mengadakan sesuatu yang sudah nyata-nyata ada. Untuk apa Allah berfirman "kun", jika sesuatu itu sudah jadi. Maka untuk memahami redaksi "kun" dalam Al-Quran, kita harus mengungkapnya berdasarkan dalil aqli dan syar'i, seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali.
Menurut Imam Ghazali, redaksi "kun" dalam Al-Quran adalah bahasa kinayah (metafora) tentang kekuasaan dan kemampuan Allah dalam menciptakan sesuatu dengan sekejap. Menurutnya, kata "kun" ini lebih memberikan pengaruh terhadap jiwa seseorang dalam memberi pemahaman tentang puncak kekuasaan dan kemampuan. Maka digunakanlah bahasa metafora "kun" (jadilah). (Ihya' Ulumiddin/I/379-381)
Secara logika, kata "kun" digunakan untuk menggambarkan proses penciptaan yang cepat tanpa hambatan. Namun, dalam penciptaan langit dan bumi, Allah menciptakan selama enam hari, bukan secepat kilat. Ini menunjukkan kata "kun" tidak selalu berarti penciptaan yang instan, tetapi lebih kepada proses penciptaan yang kompleks dan memerlukan waktu.
Jadi, redaksi "kun" itu artinya adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah akan terjadi, sebab Allah Maha Mampu, tetapi tidak selalu proses penciptaan itu secepat kilat.
Contoh lain, dalam hadis di bawah ini:
أمَا يَخشٰى الذي يَرفع رأسَه قبل الإمام أن يُحوِّلَ اللهُ رأسَه رأسَ حمارٍ؟
"Apakah makmum yang mengangkat kepalanya sebelum imam itu tidak takut jika Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?"
Menurut Imam Ghazali, jika dilihat kepada makmum yang melakukan itu, maka tidak berubah kepalanya menjadi kepala keledai. Hanya secara makna, sifat keledai itu ada pada diri orang tersebut. Maksud dari bahasa metafora dalam hadis itu adalah bodoh dan dungu. Alasannya, karena orang tadi menggabungkan dua hal yang bertentangan, yaitu mengikuti dan mendahului. (Ihya' Ulumiddin/I/379-381)

Komentar