Langsung ke konten utama

Al-Ghazali & Qanun At-Ta'wil

 


Al-Ghazali adalah salah satu ulama besar yang diakui kedalaman dan keluasan ilmunya. Kontribusinya besar terhadap keilmuan Islam. Buah pemikirannya banyak dikaji dan pandangannya dijadikan rujukan oleh ulama sezaman maupun setelahnya. Para ulama menyematkannya gelar "Hujjatul-Islam" kepadanya karena jasa pemikiran dan pengaruhnya yang luas. Ulama juga sepakat bahwa Al-Ghazali adalah "mujaddid" abad kelima Hijriah.

Pemikiran Al-Ghazali dalam segala bidang keilmuan ngak diragukan lagi. Di bidang ushul fiqh Al-Ghazali adalah imamnya. Di bidang ilmu kalam, mantiq dan filsafat Al-Ghazali adalah pakarnya. Di bidang tasawuf, pendidikan, dan psikologi Al-Ghazali adalah guru besarnya.

Buah karya Al-Ghazali juga melimpah. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, dari bahasa Latin dan Inggris, Jerman dan Perancis, hingga bahasa Belanda dan Indonesia. Karena kedalaman dan keluasan ilmunya, Al-Ghazali seringkali ditanya tentang berbagai hal, termasuk bagaimana memahami Al-Quran atau hadis yang sulit dipahami.

Dalam memberikan jawaban, Al-Ghazali tidak hanya menjawab secara singkat dengan ucapan, namun tidak sedikit yang beliau tulis untuk kemudian dijadikan pedoman dalam memahami Al-Quran dan hadis. Salah satu kitab yang ditulis Al-Ghazali adalah Qanun At-Ta'wil atau Al-Qanun Al-Kulli.

Kitab Qanun At-Ta'wil ditulis Al-Ghazali untuk menjawab pertanyaan dari muridnya, Imam Qadhi Abu Bakr Ibn Arabi (seorang ahli hadis bukan Ibn Arabi ahli filsafat). Sosok Ibn Arabi dikenal ahli hadis. Dalam bidang hadis Ibn Arabi punya karya Aridhat Al-Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi. Ibn Arabi belajar kepada Al-Ghazali dan bersahabat selama dua tahun. Ibn Arabi juga termasuk murid yang meriwayatkan kitab Ihya' Ulumiddin langsung dari Al-Ghazali dan menyebarkannya di negeri-negeri Barat.

Suatu waktu, Ibn Arabi bertanya kepada Al-Ghazali tentang hadis-hadis yang bersifat metafisik. Misalnya: "setan itu berjalan menyusuri kalian lewat pembuluh darah/tempat darah mengalir" Apakah menyatunya setan dan darah itu seperti menyatunya air dan air, atau seperti menyatunya kayu dengan air?

"Apakah setan itu masuk ke sel-sel darah yang dialirkan ke hati, atau setan langsung masuk ke subtansi hati?"

"Setan ketika mendengar azan, lari terbirit-birit hingga mengeluarkan kentut besar. Kentut setan itu bau apa ngak sih?"

"Setan itu tidak tersusun dari jisim/bagian-bagian. Ia makhluk halus. Bagaimana mungkin makhluk halus bisa makan, yang katanya bahan makanannya adalah "tulang-belulang"? Apakah setan hanya mencium "tulang-belulang" itu atau gimana. Sedangkan setan sendiri tidak berupa bentuk, jadi ngak mungkin mencium itu?"

"Bagaimana hakikat alam barzakh. Setan itu masuk golongan mana, surga atau neraka. Soalnya di barzakh ngak ada tempat kecuali surga dan neraka?

"Barzakh itu diibaratkan seperti pagar yang memiliki pintu. Di dalam pintu ada rahmat, di luarnya ada siksa. Klaim itu benar apa ngak sih?"

"Orang yang kerasukan setan bicaranya galur-gedul, ngak jelas, itu ucapan setan atau orang yang kerasukan?"

Juga banyak lagi pertanyaan Ibn Arabi kepada Al-Ghazali yang bersifat metafisik. Semua pertanyaan itu tampak rumit, tidak mudah untuk menjawabnya. Perlu kajian mendalam. Akhirnya, Al-Ghazali berinisiatif untuk menulis kitab untuk menjawab pertanyaan muridnya itu. Lahirlah kemudian kitab Qanun At-Ta'wil sebagai respons dan panduan memahami teks-teks yang rumit.

Dalam kitab itu Al-Ghazali tidak hanya sekedar menjelaskan maknanya, tapi juga memberikan metode pemahaman yang benar. Al-Ghazali juga memaparkan secara detail di antara lima kelompok. Kelompok yang dianggap benar oleh Al-Ghazali adalah kelompok kelima, kelompok yang moderat. Mereka adalah kelompok yang mampu memadukan antara dalil-dalil agama dan rasional. Antara ma'qul dan manqul. Antara naql dan aqli.

#resumkitab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...