Langsung ke konten utama

72 Sekte Selamat, 1 Celaka


Menarik, saya kemarin baca kitab Faishal At-Tafriqah Bainal Islam waz Zandaqah karya Imam Ghazali kemudian menemukan keterangan bahwa yang selamat dari 73 sekte dalam Islam adalah 72 sedangkan yang celaka hanya satu, yaitu orang-orang zindiq. 

Keterangan ini seakan-akan bertabrakan dengan kitab al-Milal wan Nihal karya Imam Syahrastani dan kitab Iljamul Awam 'an Ilmil Kalam karya Imam Ghazali yang menyebutkan hadis prediksi Rasulullah bahwa akan ada perpecahan umat dan yang selamat adalah satu sekte, yaitu Ahlusunah wal Jamaah. 

Kata Imam Ghazali, kedua riwayat tadi mungkin saja sahih. Dan ternyata betul, riwayat yang mengatakan yang selamat 72 sekte itu disahihkan oleh Imam Hakim. Dan riwayat yang mengatakan bahwa yang celaka 72 sekte juga sahih!

Lalu mana yang benar?

Ternyata dua hadis yang seolah-olah bertentangan itu dijawab secara rinci oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Faishal At-Tafriqah. Dua hadis itu bisa dikompromikan. Al-Ghazali menguraikan dan mengklasifikasi bahwa maksud hadis "yang celaka satu" adalah kaum zindiq, kaum zindiq akan kekal di neraka. Adapun maksud hadis lain "yang selamat satu" adalah kaum muslimin yang masuk surga tanpa hisab.

Menurutnya, hadis tentang 72 sekte yang selamat perlu diartikan kembali untuk persatuan umat Islam. Bahwa seluruh umat Islam masuk surga. Adapun yang akidahnya salah, maka akan masuk neraka dulu namun kemudian masuk surga. “Adapun yang masuk neraka selamanya itu adalah satu golongan, yaitu kaum zindiq. Zindiq adalah mereka yang menampakkan keimanan tapi dalam hatinya kufur."

Latar belakang lahirnya kitab Faishal At-Tafriqah ini karena Al-Ghazali dikafirkan oleh kelompok yang tidak sependapat dengan beliau. Ini menunjukkan bahwa kitab tersebut merupakan hasil refleksi Imam Ghazali tentang pentingnya memahami ajaran Islam dengan benar dan menghindari perpecahan sesama muslim.

Al-Ghazali menekankan untuk tidak mudah menuduh kelompok lain kafir hanya karena perbedaan pendapat. Karena hal itu akan menimbulkan perpecahan sesama umat Islam. Al-Ghazali berusaha menutup rapat-rapat pintu "takfir" (mengkafirkan orang lain) dan mengingatkan pentingnya memahami Islam dengan benar. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...