Langsung ke konten utama

Isra-mi'raj: Ruh dan Jasad atau Ruh Saja?

Gambar: hanya ilustrasi
Fenomena Isra-mi'raj terekam jelas dalam Al-Quran dan hadis. Jadi kebenarannya tidak perlu diragukan. Orang yang menolak kebenaran Isra-mi'raj apalagi sampai mengejek, maka sebenarnya ia sedang terjangkit penyakit kronis dalam bidang akidahnya, ia sedang terkena problem serius dalam keimanan kepada Allah, Al-Quran, malaikat, wahyu dan lainnya.

Perihal Isra-mi'raj wajib diimani kebenarannya oleh setiap Muslim. Adapun, aspek apakah Nabi Isra-mi'raj dengan ruh dan jasad atau ruhnya saja itu masalah lain yang bersifat furu'iyah. Sejak awal para sahabat dan sahabiyah sudah bersilang pendapat perihal cara Nabi dalam melakukan Isra-mi'raj.

Mayoritas ulama salaf dan khalaf berpendapat bahwa Nabi Isra-mi'raj dengan ruh dan jasadnya. Kelompok kedua berpendapat bahwa Nabi mengalami peristiwa itu dengan ruhnya saja. 

Imam Ibn Hajar As-Asqalani, dalam Syarah al-Bukhari mengatakan: "Isra-mi'raj terjadi dalam satu malam dalam keadaan sadar dan dengan jasad dan ruhnya." (Aqidah Al-Awam/107). Inilah pendapat mayoritas ulama hadis, fikih dan kalam. Pendapat ini sesuai dengan beberapa hadis sahih yang tidak perlu diragukan lagi keadilan perawinya.

Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menguraikan: "Apabila direnung bunyi ayat ini lebih dalam, dengan penuh iman akan kekuasaan Tuhan, tidak akan ragu lagi bahwa yang dimaksud dengan hambaNya itu adalah diri Muhammad. Muhammad yang hidup, yang terdiri dari tubuh dan nyawa. Sebab itu dia melakukan Isra-mi'raj pastilah dengan tubuh dan nyawa. Bukan mimpi dan bukan khayal. Apalagi kemudian beliau sendiri menjelaskan dengan buah tuturnya (hadis) apa yang beliau alami itu," (Jangan Kalah Sama Monyet/188).

Imam Ibn Katsir, menjelaskan bahwa berdasarkan sejumlah hadis Nabi, sangat jelas, Nabi Muhammad menjalani Isra-mi'raj dengan tubuh dan ruhnya dalam keadaan sadar, bukan dalam kondisi tidur seperti mimpi. Perjalanan Nabi dilakukan dengan kendaraan tertentu (buraq). Jika hanya ruh, maka tidak perlu kendaraan. Begitu juga makna surat An-Najm (53) ayat ke-18 bahwa Nabi telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang sangat agung. Melihat (ra'a) adalah aktivitas manusia. 

Inilah pendapat yang unggul (rajih) bahwa Nabi memang menjalani Isra-mi'raj dengan jasad dan ruh beliau. Juga dalam keadaan sadar, bukan setengah sadar. Bukan hanya mimpi dan bukan khayal. Karena itulah ayat ini diawali dengan kata "subhanalladzi" yang memang menunjukkan bahwa Isra-mi'raj adalah perkara besar, perkara agung, perkara spektakuler, perkara yang menakjubkan sehingga terekam dalam Al-Quran.

Terakhir, silang pendapat perihal cara Nabi dalam mengalami Isra-mi'raj ini bersifat furu'iyah yang tidak mengakibatkan penentangnya keluar dari Islam. Tapi, jika yang diingkari adalah hakikat/subtansi Isra-mi'rajnya, maka bisa menyebabkan kekafiran bagi orang yang mengingkari apalagi sambil mengejeknya.

Ref:
Aqidah Al-Awam/KH. Ihya Ulumiddin, Malang
Jangan Kalah Sama Monyet/Dr. Adian Husaini 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...