![]() |
Ada dua respon dalam menyikapi peristiwa spektakuler, Isra-mi'raj. Tidak sedikit orang yang percaya, pun tidak sedikit orang yang menolak. Bagaimana tidak, Isra (dari Mekkah ke Masjid al-Aqsha) jarak yang biasa ditempuh sekitar 40-hari dengan berjalan kaki atau unta, hanya ditempuh dalam satu malam. Ditambah lagi Mi'raj (dari Masjid al-Aqsha ke Sidrah al-Muntaha) yang jaraknya tidak dapat diukur secara pasti. Ini jelas tidak lazim, menyalahi kebiasaan (khariq al-'adah). Tentu banyak kejadian luar biasa yang sulit dijangkau akal.
Sebagian orang berkomentar bahwa Isra-mi'raj adalah peristiwa yang hanya diterima dengan iman dan tidak bisa diterima dengan akal. Artinya, hanya sebatas dogma dan iman. Sebagian lagi berkomentar bahwa Isra-mi'raj adalah peristiwa yang harus diimani kebenarannya sekaligus bisa diterima oleh akal. Artinya, kejadian Isra-mi'raj bersifat rasional.
Pro-kontra dalam merespon peristiwa Isra-mi'raj sudah terjadi sejak awal, pasca Nabi menceritakan kejadian itu kekepada kaumnya. Kelompok kontra, setelah mendengar berita tentang kejadian Isra-mi'raj, mereka melihat peluang untuk menyerang Nabi, terutama Abu Jahal. Abu Jahal meminta Nabi untuk menjelaskan kepada kaumnya. Nabi pun menyetujui dan menjelaskan secara terbuka peristiwa besar yang beliau alami. Setelah menjelaskan, banyak yang menolak kebenaran Isra-mi'raj, mengikuti Abu Jahal. Namun, banyak pula yang menyakini kebenaran peristiwa itu karena Nabi tidak mungkin berdusta.
Abu Jahal dan kelompok kontra melihat peristiwa itu irasional (tidak masuk akal). Karena tidak rasional, Abu Jahal menolak kebenaran Isra-mi'raj. Sebaliknya, Abu Bakar dan kelompok yang pro, bisa menerima kebenaran Isra-mi'raj. Penolakan Abu Jahal dan kafir Quraisy tidak membuat ragu keimanan Abu Bakar. Abu Bakar hanya berlogika sederhana: "Kalau yang menyampaikan berita itu adalah Muhammad, pasti cerita itu benar adanya." Lebih dahsyat dari peristiwa Isra-mi'raj itu, Abu Bakar akan percaya. Jadi, Isra-mi'raj sangat masuk pada akal Abu Bakar As-Shiddiq, dan tidak masuk pada akal Abu Jahal.
Pro-kontra atas peristiwa itu tetap berlanjut sampai hari ini. Para ilmuwan sekuler memandang Isra-mi'raj sebagai peristiwa yang irasional. Karena dianggap irasional, ilmuwan sekuler menganggap pengetahuan tentang hal-hal ghaib atau sesuatu di luar akal "bukan ilmu". Mereka membatasi "ilmiah" hanya pada sesuatu yang bersifat inderawi saja. Sesuatu yang bersifat empiris belaka. Selain itu, bukan disebut ilmu, atau tidak bersifat "ilmiah".
Jika hal-hal ghaib atau sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh inderawi dianggap bukan "ilmu", maka akan banyak informasi dalam Islam yang ditolak kebenarannya. Seperti informasi tentang Allah, alam akhirat, surga-neraka, pahala-dosa, prihal barokah dan lainnya. Khabar tentang Nabi Muhammad menerima wahyu juga bersifat non-inderawi. Semua itu merupakan -hal-hal ghaib- yang jika tidak dimasukkan ke dalam "ilmiah", atau tidak disebut ilmu, maka akan banyak informasi yang ditolak dalam ajaran Islam.
Isra-mi'raj Rasional
Peristiwa Isra-mi'raj bersifat rasional. Peristiwa itu hanya tidak biasa terjadi, tetapi secara akal mungkin saja terjadi. Dalam buku "Liberalisme di Sekitar Kita" Ust. Moh. Achyat Ahmad menguraikan: "Mengatakan Isra-mi'raj irasional (tidak masuk akal) hanya karena ia tidak melihat peristiwa itu dalam pengalamannya sendiri, sama dengan orang Badui yang mengatakan "mustahil" jika diberitahu bahwa ada kereta bisa beroperasi tanpa ditarik oleh binatang, hanya karena orang Badui tidak pernah melihat fenomena itu sepanjang hidupnya."
Kata "mukjizat", menurut beliau, tidak memiliki makna esensial, kata mukjizat bersifat nisbi (relatif) belaka. Sebab jika keajaiban dalam mukjizat terjadi secara terus-menerus, maka kita tidak menganggap lagi sebagai mukjizat. Padahal hakikatnya, segala sesuatu di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri, semuanya adalah mukjizat. Hal luar biasa yang tidak satupun makhluk bisa menciptakan hal yang sama. Seperti akal, ruh, DNA dan sebagainya. Bahkan penciptaan alam semesta dari ketiadaan adalah mukjizat yang jauh lebih hebat ketimbang Isra-mi'raj.
Kesimpulannya, jika seseorang yakin bahwa Allah Mahakuasa dalam segala hal, bagaimana mungkin secara akal dia ragu terhadap kekuasaan Allah dalam memperjalankan hambaNya dalam waktu sesingkat itu?
Isra-mi'raj Ilmiah
Secara epistemologi Islam, fenomena Isra-mi'raj juga bersifat "ilmiah". Karena peristiwa itu tertuang dalam khabar yang valid dan disepakati kebenarannya (Al-Quran). Sudah maklum, epistemologi dalam Islam ada tiga: panca indera, khabar shadiq, dan akal. Dalam buku, "Jangan Kalah Sama Monyet", Dr. Adian Husaini memaparkan bahwa khabar atau informasi tentang hal-hal ghaib adalah "ilmu dan masuk akal". Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasi adalah pasti (khabar shadiq), maka nilai informasi itu pun menjadi pasti pula.
Berbeda dengan Sekularisme
Dua sudut pandang itu, tentu bertolak belakang dengan epistemologi sekuler yang membatasi "ilmiah" hanya pada hal-hal yang bisa diindera dan rasional. Sampai kapanpun keilmuan versi sekuler tidak akan bertemu dengan keilmuan versi Islam.
Ref:
Akidah Al-Awam, karya KH. Ihya Ulumiddin, Malang
Aqaid Annasafiyah, karya Imam An-Nasafi
Ada dua respon dalam menyikapi peristiwa spektakuler, Isra-mi'raj. Tidak sedikit orang yang percaya, pun tidak sedikit orang yang menolak. Bagaimana tidak, Isra (dari Mekkah ke Masjid al-Aqsha) jarak yang biasa ditempuh sekitar 40-hari dengan berjalan kaki atau unta, hanya ditempuh dalam satu malam. Ditambah lagi Mi'raj (dari Masjid al-Aqsha ke Sidrah al-Muntaha) yang jaraknya tidak dapat diukur secara pasti. Ini jelas tidak lazim, menyalahi kebiasaan (khariq al-'adah). Tentu banyak kejadian luar biasa yang sulit dijangkau akal.
Sebagian orang berkomentar bahwa Isra-mi'raj adalah peristiwa yang hanya diterima dengan iman dan tidak bisa diterima dengan akal. Artinya, hanya sebatas dogma dan iman. Sebagian lagi berkomentar bahwa Isra-mi'raj adalah peristiwa yang harus diimani kebenarannya sekaligus bisa diterima oleh akal. Artinya, kejadian Isra-mi'raj bersifat rasional.
Pro-kontra dalam merespon peristiwa Isra-mi'raj sudah terjadi sejak awal, pasca Nabi menceritakan kejadian itu kekepada kaumnya. Kelompok kontra, setelah mendengar berita tentang kejadian Isra-mi'raj, mereka melihat peluang untuk menyerang Nabi, terutama Abu Jahal. Abu Jahal meminta Nabi untuk menjelaskan kepada kaumnya. Nabi pun menyetujui dan menjelaskan secara terbuka peristiwa besar yang beliau alami. Setelah menjelaskan, banyak yang menolak kebenaran Isra-mi'raj, mengikuti Abu Jahal. Namun, banyak pula yang menyakini kebenaran peristiwa itu karena Nabi tidak mungkin berdusta.
Abu Jahal dan kelompok kontra melihat peristiwa itu irasional (tidak masuk akal). Karena tidak rasional, Abu Jahal menolak kebenaran Isra-mi'raj. Sebaliknya, Abu Bakar dan kelompok yang pro, bisa menerima kebenaran Isra-mi'raj. Penolakan Abu Jahal dan kafir Quraisy tidak membuat ragu keimanan Abu Bakar. Abu Bakar hanya berlogika sederhana: "Kalau yang menyampaikan berita itu adalah Muhammad, pasti cerita itu benar adanya." Lebih dahsyat dari peristiwa Isra-mi'raj itu, Abu Bakar akan percaya. Jadi, Isra-mi'raj sangat masuk pada akal Abu Bakar As-Shiddiq, dan tidak masuk pada akal Abu Jahal.
Pro-kontra atas peristiwa itu tetap berlanjut sampai hari ini. Para ilmuwan sekuler memandang Isra-mi'raj sebagai peristiwa yang irasional. Karena dianggap irasional, ilmuwan sekuler menganggap pengetahuan tentang hal-hal ghaib atau sesuatu di luar akal "bukan ilmu". Mereka membatasi "ilmiah" hanya pada sesuatu yang bersifat inderawi saja. Sesuatu yang bersifat empiris belaka. Selain itu, bukan disebut ilmu, atau tidak bersifat "ilmiah".
Jika hal-hal ghaib atau sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh inderawi dianggap bukan "ilmu", maka akan banyak informasi dalam Islam yang ditolak kebenarannya. Seperti informasi tentang Allah, alam akhirat, surga-neraka, pahala-dosa, prihal barokah dan lainnya. Khabar tentang Nabi Muhammad menerima wahyu juga bersifat non-inderawi. Semua itu merupakan -hal-hal ghaib- yang jika tidak dimasukkan ke dalam "ilmiah", atau tidak disebut ilmu, maka akan banyak informasi yang ditolak dalam ajaran Islam.
Isra-mi'raj Rasional
Peristiwa Isra-mi'raj bersifat rasional. Peristiwa itu hanya tidak biasa terjadi, tetapi secara akal mungkin saja terjadi. Dalam buku "Liberalisme di Sekitar Kita" Ust. Moh. Achyat Ahmad menguraikan: "Mengatakan Isra-mi'raj irasional (tidak masuk akal) hanya karena ia tidak melihat peristiwa itu dalam pengalamannya sendiri, sama dengan orang Badui yang mengatakan "mustahil" jika diberitahu bahwa ada kereta bisa beroperasi tanpa ditarik oleh binatang, hanya karena orang Badui tidak pernah melihat fenomena itu sepanjang hidupnya."
Kata "mukjizat", menurut beliau, tidak memiliki makna esensial, kata mukjizat bersifat nisbi (relatif) belaka. Sebab jika keajaiban dalam mukjizat terjadi secara terus-menerus, maka kita tidak menganggap lagi sebagai mukjizat. Padahal hakikatnya, segala sesuatu di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri, semuanya adalah mukjizat. Hal luar biasa yang tidak satupun makhluk bisa menciptakan hal yang sama. Seperti akal, ruh, DNA dan sebagainya. Bahkan penciptaan alam semesta dari ketiadaan adalah mukjizat yang jauh lebih hebat ketimbang Isra-mi'raj.
Kesimpulannya, jika seseorang yakin bahwa Allah Mahakuasa dalam segala hal, bagaimana mungkin secara akal dia ragu terhadap kekuasaan Allah dalam memperjalankan hambaNya dalam waktu sesingkat itu?
Isra-mi'raj Ilmiah
Secara epistemologi Islam, fenomena Isra-mi'raj juga bersifat "ilmiah". Karena peristiwa itu tertuang dalam khabar yang valid dan disepakati kebenarannya (Al-Quran). Sudah maklum, epistemologi dalam Islam ada tiga: panca indera, khabar shadiq, dan akal. Dalam buku, "Jangan Kalah Sama Monyet", Dr. Adian Husaini memaparkan bahwa khabar atau informasi tentang hal-hal ghaib adalah "ilmu dan masuk akal". Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasi adalah pasti (khabar shadiq), maka nilai informasi itu pun menjadi pasti pula.
Berbeda dengan Sekularisme
Dua sudut pandang itu, tentu bertolak belakang dengan epistemologi sekuler yang membatasi "ilmiah" hanya pada hal-hal yang bisa diindera dan rasional. Sampai kapanpun keilmuan versi sekuler tidak akan bertemu dengan keilmuan versi Islam.
Ref:
Akidah Al-Awam, karya KH. Ihya Ulumiddin, Malang
Aqaid Annasafiyah, karya Imam An-Nasafi

Komentar