Langsung ke konten utama

Benarkah Allah Punya Tangan?


Pertanyaan:

Sesi tanya-jawab tadi malam ada santri tanya begini, "saya minta dalil rasional tentang "yad Allah", soalnya Salafi meyakini Allah punya tangan tapi tidak sama dengan tangan makhluknya. Ketidaksamaan antara tangan Allah dan tangan makhluk di situ sudah ada sifat "mukhalafatu lil-hawaditsi", artinya tangan Allah tidak sama dengan makhluknya". Apakah pernyataan Salafi ini bisa dibenarkan?

Jawaban:

Konsep "mukhalafatu lil-hawaditsi" yang diajukan Salafi itu tidak bersifat mutlak, masih ada celahnya. Tidak seratus persen. Mereka kelompok Salafi mengajukan perbedaan namun masih ada sisi persamaan. Sisi persamaannya di mana, yaitu "sama-sama memiliki tangan".

Konsep "mukhalafatu lil-hawaditsi" yang benar adalah tidak ada persamaan sama sekali antara Allah dan makhluknya. Jika mengajukan konsep tersebut namun masih menyimpan sisi kesamaan, maka di situ tidak bisa disebut "mukhalafatu lil-hawaditsi".

Saya analogikan begini, saya punya peternak lele, sampean juga punya peternak lele, peternak lele saya tidak sama dengan peternak lele sampean. Namun persamaannya antara saya dengan sampean adalah "sama-sama memiliki peternak lele". Peternak lele saya dan sampean berbeda bentuknya, tapi persamaannya adalah saya dan sampean sama-sama punya peternak lele meskipun bentuknya berbeda.

Kami Ahlusunah wal Jamaah mengajukan konsep yang bener-bener mensucikan Allah dari sifat kekurangan. Artinya, Allah tidak sama dengan makhluknya. Kami memaknai kata "yad" bukan secara literal, bukan bermakna tangan. Kata "yad" diartikan dengan makna "kekuasaan". Karena makna tangan meskipun tangan kita tidak sama dengan Allah, tapi di situ tetap ada persamaan, yaitu "sama-sama memiliki tangan".

Memaknai kata "yad" dengan arti "kekuasaan" lebih tepat dan lebih mensucikan Allah dari sifat kekurangan. Karena kata "yad" disebutkan berkali-kali dalam Al-Quran. Ada yang berbentuk mufrod (satu tangan), tatsniyah (dua tangan), jama' (banyak tangan). Jika mengartikan kata "yad" secara literal, maka ada ketidakpastian dan ketidak konsistenan, apakah tangan Allah satu, dua atau tiga atau bahkan banyak?

Kedua, pernyataan bahwa Allah memiliki tangan juga tidak bisa dibenarkan. Sebab pernyataan tersebut akan menetapkan Allah memiliki beberapa bagian, Allah bertangan, berkaki, berwajah, dan lainnya. Pemahaman ini mengantarkan kita bahwa Allah itu tidak satu, Allah terdiri dari beberapa bagian. Ada bagian kaki, bagian tangan, wajah, dan lainnya.

Ada banyak ayat dalam Al-Quran jika diartikan secara tekstual, maka terimplementasi pada kesalahan fatal. Menjurus pada pemahaman bahwa Allah tidak Esa, karena sudah terdiri dari beberapa anggota.

Hal ini diperjelas oleh seorang ulama kontemporer Syaikh Muhammad Salim Abu Ashi dalam kitabnya, Asy'ariyun Ana, beliau mengatakan bahwa pernyataan Allah memiliki tangan, wajah, jari-jari, adalah pernyataan yang dapat menetapkan Allah memiliki beberapa bagian, artinya Allah tidak satu, tidak Esa, karena sudah terdiri dari beberapa juz atau bagian. Pernyataan demikian sungguh fatal.

Maka, pernyataan Salafi di atas tidak bisa dibenarkan. Ungkapan paling tepat adalah "yad" diartikan "kekuasaan" bukan tangan. Oke

Ngaji Aqidah

07/12/24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...