Langsung ke konten utama

Salaf dan Khalaf


Generasi salaf adalah generasi abad pertama, kedua dan ketiga Hijriah, yakni masa sahabat, tabi'in dan tabiit tabi'in. Hal ini, sesuai dengan hadis Nabi. Generasi khalaf adalah generasi setelah salaf, yakni abad keempat, lima dan seterusnya. 

Ada kelompok yang menyatakan dirinya Salafi (pengikut salaf), atau kelompok yang mengikuti Manhaj Salaf. Pernyataan ini perlu dipertanyakan ulang. Mereka ikut salaf yang mana, karena salaf itu banyak. Salaf abad pertama atau generasi sahabat, salaf generasi tabi'in atau tabiit tabi'in?

Kenyataannya, kelompok ini tidak bermazhab atau tidak mengikuti mazhab yang empat, tidak mengikuti Imam Asy'ari, tidak mengikuti Al-Baghdadi, tetapi mereka mengikuti Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab, Ibnu Taimiyah, Syaikh Albani, yang mana semua ulama ini adalah generasi khalaf bukan salaf. 

Syaikh Ibnu Taimiyah lahir tanggal 10 Rabiul Awal 661-20 Dzul Qa'dah 728 H./22 Januari 1263-26 September 1328 M. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir tahun 1115-1206 H./1703-1792 M. di Uyainah, Najd. Syaikh Abdul Wahab berusia 88-89 tahun. Syaikh Albani lahir tahun 1332-1420 H./1914-1999 M. Tiga ulama ini adalah generasi khalaf.

Jadi, kelompok ini dengan sendirinya tidak bisa disebut Salafi (pengikut salaf). Sebab, mereka mengikuti ulama yang hidup pasca generasi salaf. Mereka selalu mendeklarasikan bahwa dirinya Salafi, padahal kenyataannya mereka bukan Salafi. Mereka "pengikut khalaf".

Kadang mereka berkata: "Kami mengikuti Nabi, sahabat dan tabi'in. Tidak seperti kalian, mengikuti As-Syafi'i. As-Syafi'i itu manusia biasa, bisa benar juga bisa salah. Nggak boleh ikut seorang imam, tapi langsung ke Quran-hadis."

Statement ini seakan-akan mengadu-domba antara Nabi dan As-Syafi'i. Mungkin mereka mengira As-Syafi'i itu tidak mengikuti Nabi, atau As-Syafi'i itu menyaingi Nabi dalam berpendapat. Padahal, As-Syafi'i nggak begitu. As-Syafi'i itu jauh lebih mengikuti Nabi ketimbang orang yang menuduhnya. As-Syafi'i itu jauh lebih mengerti sunah dan lebih mengamalkan sunah ketimbang orang yang menuduhnya. 

Lagi pula, pendapat As-Syafi'i bukan untuk menyaingi Nabi, tapi untuk menjelaskan hadis Nabi, menjelaskan ucapan sahabat dan tabi'in. Keberadaan As-Syafi'i adalah sebagai penolong sunah karena takut disalahpahami. As-Syafi'i ketika berpendapat tetap merujuk kepada Al-Quran dan hadis. Namun, ketika sebuah hukum tidak terdapat dalam keduanya, As-Syafi'i baru kemudian berijtihad untuk menemukan solusi dari sebuah masalah. Hal ini, telah dicontohkan oleh sahabat Mu'adz bin Jabal ketika diutus oleh Nabi.

Dengan demikian pernyataan: "kamu mau ikut Nabi atau ikut Syafi'i" adalah pernyataan tidak tepat. Sebab As-Syafi'i tetap merujuk kepada Al-Quran dan hadis. As-Syafi'i tetap mengikuti sunah. Dan saya kira beliaulah yang lebih paham terhadap hadis sunah Nabi.

Kedua, pernyataan: "kembali ke Quran dan hadis" adalah pernyataan yang diperuntukkan bagi orang atau kelompok yang keluar dari hadis. Kalau tuduhan itu disematkan kepada kita warga Nahdliyyin yang statusnya berpaham Aswaja kayaknya tidak cocok, tidak relevan, tidak pas. Karena pemahaman kita merujuk kepada Al-Quran dan hadis dan pendapat ulama. Artinya, kita melakukan amaliyah berdasarkan Al-Quran dan hadis serta pendapat ulama.

Pernyataan itu mungkin cocok untuk kelompok mereka sendiri. Karena memang mereka kadang tidak mengikuti hadis kadang mengikutinya. Artinya, mereka mengikuti hadis tapi tidak secara kafah, sempurna. Jadi, pernyataan itu diperuntukkan bagi kelompok mereka, bukan yang lain. Kata pepatah: "senjata makan tuan".

Ketiga, pernyataan: "ikut Al-Quran dan hadis" yang biasa mereka lontarkan adalah pernyataan dusta. Karena, secara tidak langsung ketika mereka memahami Al-Quran dan hadis pasti melalui guru atau ulama. Mereka memahami Al-Quran-hadis seperti pemahaman gurunya atau ulama'nya. Tidak mungkin mereka belajar otodidak tanpa guru. Guru lah yang mempengaruhi karakter berpikir setiap orang. 

Di samping itu, sekte ini terkadang mengutip pendapat empat mazhab, tapi yang cocok dengan selera mereka saja. Mereka menukilnya hanya untuk mendukung pendapat pribadi mereka. Jika sesuai dengan pendapatnya, mereka ambil, jika tidak sesuai mereka kemudian mengeluarkan jurus andalannya, yaitu "kembali pada Al-Quran dan hadis". 

Berbeda dengan kita (NU-Aswaja), kita pengikut empat mazhab, yakni Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali. Dalam bidang akidah, kita ikut Imam Asy'ari. Di bidang tasawuf, kita mengikuti Imam Junaid Al-Baghdadi. Semua ulama ini adalah generasi salaf. Mereka ada yang hidup di abad pertama, kedua dan ketiga. Lantas, siapa yang paling Salafi (pengikut salaf), kita atau mereka?

28/11/24
Lorong Jalan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...