Langsung ke konten utama

Jika Allah Bisa Dilihat, Apakah Allah Punya Bentuk?


Pertanyaan:

"Ahlusunah menyakini bahwa Allah jaiz atau bisa dilihat di dunia dan akhirat. Kalau Allah jaiz dilihat dengan mata, apakah Allah itu punya bentuk, atau apakah Allah mempunyai rupa? Secara logika: kalau ada orang yang melihat, tentu ada objek atau sesuatu yang dilihat?"

Jawaban:

Benar sekali, dalam pandangan Asy'ariyah Allah jaiz dilihat di dunia. Secara hukum akal, Allah boleh-boleh saja dilihat oleh manusia, karena Allah itu wujud, dan setiap yang wujud secara akal bisa dan mungkin dilihat. Hal ini, berdasarkan permintaan Nabi Musa kepada Allah untuk bisa melihat-Nya secara langsung. Kalau Allah mustahil bisa dilihat di dunia, berarti Nabi Musa meminta sesuatu yang mustahil. Dan seorang Nabi tidak mungkin meminta sesuatu yang mustahil terlaksana.

Hal ini, juga berdasarkan riwayat yang menceritakan Nabi Muhammad bertemu dan bermunajat kepada Allah di Sidratul Muntaha pada malam isra'-mi'raj. Nabi Muhammad melihat Allah secara nyata. Dalam keadaan sadar bukan dalam keadaan pingsan atau setengah pingsan.

Kemudian, prihal melihat Allah di akhirat, ulama Asy'ariyah juga sepakat bahwa orang-orang mukmin jaiz atau bisa melihat Allah. Berbeda dengan Muktazilah yang berpandangan bahwa Allah tidak bisa dilihat di dunia dan akhirat. Sebab makna dari kata "nazhirah" adalah menunggu bukan melihat.

Kalau Ahlusunah sepakat Allah bisa dilihat di dunia dan akhirat, apakah Allah berbentuk, atau apakah Allah mempunyai rupa. Karena logikanya: seseorang yang melihat, tentu ada objek yang dilihat?

Dalam menjawab hal ini, ada dua kemungkinan: pertama, disebutkan dalam kitab Jala' Al-Afham, bahwa Nabi Muhammad melihat Allah bukan dengan cara atau metode apapun (bila kaifin wala inhishar). Allah bisa dilihat tanpa perantara. Artinya, Allah bisa dilihat tapi bukan dengan perantara, termasuk tidak bisa dilihat dengan perantara mata. Karena Allah tidak punya bentuk dan tidak punya rupa.

Kedua, ada makna lain dari kata "ru'yah" (melihat). Ru'yah tidak hanya mempunyai arti melihat, tapi juga bisa bermakna "ziyadatul ilmi" (semakin mengenal Allah) atau bermakna idrak (lebih memahami dan mengenal Allah). Nabi Muhammad melihat Allah dalam artian Nabi Muhammad lebih memahami dan mengenal terhadap Allah, semakin tahu tentang Allah.

Selain itu, tujuan Nabi Muhammad di-mi'rajkan oleh Allah bukan semata-mata supaya Nabi melihat dan bermunajat kepada Allah, sebagaimana sangkaan sebagai orang, tetapi tujuan utama Nabi di-mi'rajkan adalah untuk menampakkan keajaiban kekuasaan Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang paling besar. Sebagaimana firman-Nya:

لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ
"...agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." (Al-Isra': 1)

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ
"Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (An-Najm: 18)


Data referensi:

Jala' Al-Afham Syarah Aqidah Al-Awam, karya KH. Ihya' Ulumuddin Malang.
Al-Iqtishad fi Al-Iqtiqad, karya Al-Ghazali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...