![]() |
Poin I
Semua statement yang disampaikan ke public harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mempertanggungjawabkannya dengan cara menghadirkan refrensi akurat yang merujuk pada sumber-sumber aslinya. Dalam debat kali ini, terbukti Guru Gembul merujuk dan mengutip pendapat Al-Ghazali, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal untuk menguatkan pendapatnya, tetapi beliau tidak memberikan rujukan dan menghadirkan sumber referensinya. Gugem berbicara tanpa bukti.
Poin II
Harus berbicara sesuai kapasitas. Setiap orang yang berbicara di luar kepasitasnya, maka akan memunculkan banyak kejanggalan dan menuai banyak kontroversi, karena ia membicarakan sesuatu di luar kemampuannya. Setelah menyaksikan debat tadi, saya jadi paham bahwa Gugem berbicara hanya berdasarkan persepsi pribadi, hanya asumsi privat tanpa bukti yang jelas.
Poin III
Jangan meremehkan sesuatu yang nampaknya besar, yakni sesuatu yang berkaitan dengan siaran publik. Karena statement yang dilontarkan akan dibaca orang lain dan masuk ke kepala pembacanya. Tentu, menganggap remeh sesuatu yang dampaknya besar, itu akan merugikan banyak orang. Itu tidak baik.
Berbeda pendapat ketika debat dengan orang lain merupakan hal biasa. Tapi, ketika terbukti pendapat sendiri tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka harus mengakui hal tersebut. Jika menolak, maka itu merupakan hal yang luar biasa dan hal ini bukanlah sikap seorang pemberani.
Poin IV
Banyak hikmah lain di balik terealisasinya debat seputar, "Bisakah Kesahihan Akidah Islam Dibuktikan Secara Ilmiah" pada tanggal 9 Oktober 2024 ini, dengan menghadirkan narasumber hebat Ust Moh. Nuruddin dan Guru Gembul.
Semoga bermanfaat. Amin

Komentar