Langsung ke konten utama

"Agama-agama Samawi" Istilah Ngak Relevan!


Banyak kita dengar ungkapan "agama-agama samawi" (Yahudi, Kristen, Islam) dari tokoh-tokoh agama, baik dari kalangan Muslim atau non-muslim yang kemudian diberi label bahwa tiga agama itu berasal dari Allah yang dibawa oleh para nabi utusan. Ungkapan ini, banyak kita jumpai di sosial media atau di beberapa buku tertentu. 

Ungkapan itu, seakan-akan menjustifikasi bahwa tiga agama tersebut dibawa oleh para nabi utusan, agama Yahudi dibawa Nabi Musa, Kristen dibawa Nabi Isa, Islam dibawa Nabi Muhammad. Statement semacam itu, tidaklah benar. Semua para nabi utusan, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, membawa satu agama, yaitu Islam. Mereka mengajarkan agama tauhid, menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukanNya.

Nabi Musa, diutus oleh Allah kepada Bangsa Israel dengan membawa agama Islam. Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ya'qub juga diutus oleh Allah dengan membawa agama Islam. Begitu juga Nabi Isa diutus oleh Allah kepada Bani Israel dengan membawa agama Islam. Dengan demikian, agama yang dibawa oleh seluruh para nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah agama yang sama, yaitu agama Islam. Hal ini, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran.

Lantas, agama Yahudi-Nasrani berasal dari mana? Menurut Islam, agama selain Islam itu sifatnya dilahirkan oleh manusia, bukan berasal dari Allah yang kemudian diajarkan oleh para nabi kepada kaumnya. Agama Yahudi-Nasrani menurut Islam adalah bukan berasal dari Allah, juga bukan berasal dari para nabi. Karena semua para nabi mengajarkan tauhid, menyembah hanya kepada Allah semata. Sedangkan dalam agama Kristen, sudah kita ketahui bersama di dalamnya mengajarkan tuhan trinitas, satu dalam tiga, atau tiga dalam satu. 

Ajaran tentang tuhan trinitas ini (satu dalam tiga atau tiga dalam satu), sangat ditentang oleh Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran. Allah sama sekali tidak mengajarkan dan tidak membenarkan demikian.

Lantas kenapa agama Yahudi-Nasrani disebutkan dalam Al-Quran? Menurut Islam, agama-agama memang diakui keberadaanya, tetapi sekaligus Allah tidak membenarkannya. Allah hanya membenarkan adanya satu agama, yaitu agama Islam. Sampai disini, sudah jelas bahwa seluruh nabi membawa agama yang sama, yaitu Islam. Dan Allah tidak membenarkan adanya agama di luar Islam. 

Dengan demikian, setelah mengetahui uraian di atas kami berkesimpulan bahwa istilah "agama-agama samawi" itu sebenarnya tidak relevan, bahkan istilah yang tidak benar, mengingat agama langit itu hanya satu, dan seluruh nabi mulai dari awal sampai akhir juga membawa agama yang satu, yaitu Islam. Jadi, istilah "agama-agama samawi" adalah istilah kolot yang sudah tidak relevan lagi. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...