Langsung ke konten utama

Selamat Milad Al-Murtadlo


Allah menyucikan akalnya. Menyucikan pandangannya. Menyucikan hatinya. Menyucikan ketinggian namanya. Menyucikan pengajarnya. Menyucikan kasih sayangnya. Menyucikannya dari segala celah dan cacat. 

Allah Menjaganya dari sesat. Menjaganya dari dusta. Menjaganya dari berpaling dari yang hak. Menjaga kelapangan hatinya. Menghilangkan bebannya. Dan puncaknya adalah akhlaknya yang begitu memesona. Akhlaknya yang begitu epik. Akhlaknya yang begitu indah nan jelita.

Manusia yang tak seperti manusia. Cahayanya berada di atas cahaya. Ia suci dari dosa, tak seperti kita. Malaikat pun kagum dengan akhlaknya. Arsypun berguncang karena senang dengan kehadirannya. Seluruh makhluk menyambutnya dengan penuh gembira. Dialah Sang Influencer dunia, Sang Organisator Ulung, Sang Revolusioner dunia. 

Hari ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia bergembira dengan kehadiran Rabi'ul Awal, bulan kelahirannya. Umat Islam mulai memperingati, mengenalkan akhlaknya kepada dunia. Sebab kalau bukan beliau, siapa lagi yang pantas dikenalkan kepada semesta. Semesta ini pun ada karenanya. Selamat Milad Al-Murtadlo.

Simaklah pujian Al-Quran tentangnya!

Allah menyucikan akal Nabi Muhammad, Dia berfirman:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

"...kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru." (An-Najm 53:2)

Allah menyucikan pandangannya, Dia berfirman:

مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (An-Najm 53:17)

Allah menyucikan hatinya, Dia berfirman:

مَا كَذَبَ ٱلْفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ

"Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya." (An-Najm 53:11)

Allah menyucikan dadanya, Dia berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?," (Alam-Nasyrah 94:1)

Allah menyucikan ketinggian namanya, Dia berfirman:

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

"dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu," (Alam-Nasyrah 94:4)

Allah menghilangkan bebannya, Dia berfirman:

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

"dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,"(Alam-Nasyrah 94:2) 

Allah menyucikan pengajarnya, Dia berfirman:

عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلْقُوَىٰ

"..yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat." (An-Najm 53:5)

Allah menyucikan kasih sayangnya, Dia berfirman:

بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

"..belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (At-Taubah 9:128)

Kemudian Allah menyucikan Nabi Muhammad Saw secara keseluruhan, Dia berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam 68:4)


Sumber: dinarasikan ulang dari ceramah, Syaikh Dr. Mohammad Hasan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...