Langsung ke konten utama

Pemikiran Ngawur Ala Gugem


Dalam perdebatan nasab kemarin di Markaz Rabithah Alawiyah, Guru Gembul sempat menyinggung masalah ilmiah. Tampaknya ilmiah versi Guru Gembul dan versi Islam berbeda. Sebab perbedaan inilah, debat kemarin menjadi debat kusir tidak menemukan titik temu. Sebab, sejak awal standar ilmiahnya sudah berbeda.

Ilmiah versi Barat hanya bersandar pada dua, rasionalisme dan empirisisme. Semua hal yang sesuai dengan logika, masuk akal, dan bisa ditangkap oleh panca indera yang sehat, maka hal itu disebut ilmiah. 

Sebaliknya, apapun yang tidak masuk akal, di luar nalar akal sehat, dan tidak bisa ditangkap oleh panca indera yang sehat, maka apapun itu, dari manapun sumbernya, maka semuanya akan ditolak, termasuk khabar yang datang dari Al-Quran.

Karenanya, tidak heran jika orang-orang Barat tidak percaya hal-hal yang berbau metafisik, seperti jin, malaikat, ruh, wahyu dan alam akhirat. Sebab epistemologi mereka memang berbeda dengan Islam. 

Ilmiah versi Islam sebagaimana dipaparkan Imam An-Nasafi dalam kitab Matan Al-Aqaid An-Nasafiyah bermula pada tiga hal berikut: Pertama, panca indera dan hasil analisa, seperti potongan mangga menunjukkan adanya buah mangga, atau bau minyak misik menunjukkan adanya parfum misik, atau kotoran sapi menunjukkan adanya sapi. 

Kedua, logika. Maksudnya adalah, ketika ada berita kemudian logika akal membenarkan keberadaannya, maka hasilnya dapat diterima, dan tidak boleh satu pun kalangan yang menyangkalnya, seperti kesimpulan sembilan lebih banyak dari empat. 

Atau ketika ada orang ditanya satu tambah satu berapa, dengan yakin tanpa ragu dia pasti menjawab totalnya adalah dua. Jawaban ini tentu benar dan pasti disepakati oleh siapapun, akal sehat pasti membenarkan dan tidak bisa menyangkalnya. 

Allah mengaruniai kemampuan akal untuk menerima ilmu atau kebenaran mutlak. Kebenaran mutlak ini tidak bisa disanggah oleh siapapun. Tidak terbantahkan dan tidak bisa dibantah. Juga tidak bisa ditolak oleh akal sehat. Akal sehat justru menolak jika hal itu dikatakan tidak benar secara mutlak atau ragu-ragu tentangnya. 

Ketiga, sebuah informasi yang diwahyukan oleh Allah kepada seorang utusan melalui Malaikat Jibril. Khabar shadiq ini terbagi menjadi dua, yaitu informasi yang sudah mutawatir meliputi Al-Quran dan hadis nabi yang populer di kalangan ulama, dan sebuah informasi yang disampaikan oleh seorang utusan yang diperkuat dengan sebuah mukjizat.

Tiga langkah ini merupakan sarana untuk sampai kepada ilmu atau kebenaran, merupakan sumber data yang hasilnya diyakini sebagai sebuah ilmu atau kebenaran. 

Ilmiah versi Barat memang berbeda dengan ilmiah versi Islam. Dari sini, kedua belah pihak antara Guru Gembul dengan Rabithah Alawiyah tidak akan menemukan titik terang, sebab sejak awal epistemologi mereka sudah berbeda. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...