Langsung ke konten utama

Benarkah Sifat Wajib Allah Terbatas 20?


Selain Muktazilah, ada juga kelompok sebelah yang mempersoalkan sifat wajib bagi Allah. Kata mereka, kenapa aqidah Asy'ariah-Maturidiah hanya mengakui 7 sifat (sama', bashar, kalam, qudrah, irodah, ilmu dan hayat) atau hanya menetapkan 20 sifat dan menolak keberadaan banyak sifat lainnya, seperti yad, wajh, 'ain dan sebagainya.

Anggapan demikian jelas tidak benar. Ahlusunah wal Jamaah tidak hanya mengakui 7 sifat atau hanya menetapkan 20 sifat dan menolak sifat-sifat yang lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan tiga hal berikut:

Pertama, Asy'ariah dikenal dengan ahlu itsbat. Dalam ilmu teologi Islam, ada dua klasifikasi sekte tentang sifat Allah, pertama ahlul itsbat ( kelompok yang menetapkan sifat bagi Allah), kedua ahlul ta'thil (sekte yang menafikan sifat bagi Allah). Asy'ariah termasuk golongan yang membela dan menetapkan sifat bagi Allah, ahlul itsbat. 

Kedua, Asy'ariah menetapkan semua sifat yang datang dari Allah dan rasulNya. Imam Abu Hasan al-As'ary sendiri menegaskan dalam kitabnya "Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah" bahwa beliau membenarkan semua sifat yang datang dari Allah dan rasulNya. 

Ketiga, semua kitab Asy'ariah memuat tentang keberadaan sifat khabariyah. Sifat khabariyah adalah sifat-sifat yang keberadaannya hanya bisa diketahui dari kabar wahyu saja tanpa bisa dijangkau oleh akal pikiran. Sifat khabariyah sepintas bermakna organ, seperti wajh, 'ain yad, jambun, 'anamil dan lainnya, serta sifat yang sepintas bermakna tindakan organ seperti yaqbidl, yanzil, ja'a, istawa, dan lainnya.

Penyebutan sifat wajib 20 bagi Allah bukan berarti membatasi hanya 20 sifat dan menolak banyak sifat yang lain. 

Dalam kitab-kitab literatur Ahlusunah wal Jamaah, ulama Asy'ariah tidak pernah membatasi sifat wajib bagi Allah hanya 20 sifat, sebagaimana anggapan kelompok sebelah. Hanya saja ulama Asy'ariah kontemporer mengklasifikasi atau membuat pemetaan seluruh sifat Allah menjadi empat kategori:

Pertama, ada sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh sosok Tuhan yang keberadaannya menjadi syarat ketuhanan. Kategori ini disebut sebagai sifat wajib dan jumlahnya ada 20.

Kedua, sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh sosok Tuhan. Bila ditemukan salah satu dari sifat ini maka pemiliknya dipastikan bukan Tuhan. Kategori ini disebut sifat mustahil dan jumlahnya juga 20. 

Ketiga, sifat yang bisa dimiliki dan bisa saja tidak dimiliki oleh Tuhan tanpa ada pengaruhnya pada sifat ketuhanan. Kategori ini disebut sifat jaiz yang jumlahnya tidak terhitung karena mencakup seluruh tindakan Tuhan.

Keempat, adalah sifat kesempurnaan yang tidak harus ada pada sosok Tuhan akan tetapi keberadaannya menjadi atribut kesempurnaan Tuhan. Jumlah sifat ini juga tidak terhitung.

Dari pemaparan di atas, jelas sekali bahwa ulama Asy'ariah tidak pernah menolak sifat yang shahih datang dari Allah dan rasulNya, sebagaimana anggapan mereka. Penyebutan sifat wajib bagi Allah hanya 20 itu bukan membatasi dan menolak sifat-sifat yang lain bagi Allah. 


Sumber: 

https://islam.nu.or.id/ilmu-tauhid/benarkah-asyariyah-menolak-banyak-sifat-allah-i-wZYUk

Al-Ibanah 'an Ushul ad-Diyanah, karya Al-As'ary

Al-Farqu Baina al-Firaq, karya al-Baghdadi 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...