Langsung ke konten utama

Membaca Al-Quran Meningkatkan Kecerdasan


Saya bukan pengikut liberalis yang beranggapan bahwa al-Quran adalah Kalam Allah sekaligus Kalam Rasulullah. Tidak ada yang sakral di dunia ini termasuk al-Quran. Al-Quran layaknya buku-buku sejarah pada umumnya. 

Saya juga bukan pengikut Syi'ah Rafidhah yang beranggapan bahwa al-Quran yang ada sekarang adalah palsu. Al-Quran yang asli akan turun nanti sebelum hari kiamat tiba dan tebalnya dua kali lipat dari Al-Qur'an yang sekarang. 

Saya adalah pengikut ulama Asy'ariah yang menyakini bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah bukan Kalam Rasulullah. Al-Quran adalah mukjizat paling sakral dan mulia. Dan Al-Quran yang sekarang adalah asli, bukan kawe alias palsu. 

Al-Quran adalah salah satu kitab samawi yang tetap utuh sampai sekarang, tidak berkurang satu huruf pun. Tidak ada seorangpun yang bisa menandingi kehebatannya. Bahkan al-Quran sendiri yang mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa menandingi kehebatan al-Quran, baik kalangan manusia atau jin.

Al-Quran juga merupakan mukjizat teragung Nabi Mohammad. Banyak manfaat bagi mereka yang senantiasa membacanya. Selain mendapat pahala berlipat ganda, ada manfaat tersendiri yang kembali pada para pembaca. 

Dilansir dari berbagai sumber bahwa membaca al-Quran setelah Maghrib dan Subuh dapat meningkatkan kercerdasan otak hingga 80%, hal ini karena pada waktu tersebut merupakan pergantian dari siang ke malam dan dari malam ke siang. 

Di samping itu, ada tiga aktivitas sekaligus yang dilakukan yaitu membaca, melihat dan mendengar.

Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang itu kuat ingatan atau hafalannya diantaranya:

1. Menyedikitkan makan

2. Membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam

3. Membaca al-Quran sambil melihat kepada mushaf

Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat manusia, dan juga memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca dengan Kitab Suci al-Quran.

Dokter ahli jiwa, Dr. Al-Qadhi melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat (AS) berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Quran, maka seorang Muslim itu baik mereka yang biasa berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan sebagai berikut:

• Fisiologis yang sangat besar

• Penurunan Depresi kesedihan

• Memperoleh ketenangan jiwa

• Menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya.

Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.

Dari hasil ujicobanya, ia menyimpulkan bahwa membaca al-Quran berpengaruh besar hingga 97% melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. 

Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1994 disebutkan al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang hanya mendengarkannya. 

Dengan demikian, terbukti bahwa Al-Quran mukjizat paling sakral dan agung. Al-Quran mampu mencerdaskan, mendatangkan ketenangan jiwa, menjadi obat dan lainnya. 

Wahai kaum muslimin, bacalah al-Quran, di manapun kamu berada. Sesibuk apapun dirimu, luangkan sejenak untuk membacanya, luangkan waktu sebisa mungkin untuk bisa berinteraksi dengannya. Semoga kita mendapatkan manfaatnya. Sesuai firman Allah dalam Al-Quran. Amin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...