Sebelum al-As'ary dan al-Maturidi muncul, banyak ulama salaf yang tetap konsisten membela akidah yang benar. Mereka tetap berpegang teguh dan menolak aliran-aliran menyimpang kala itu. Seperti Imam Malik bin Anas (sahabat nabi), Imam Ahmad bin Hanbal, Sofyan ats-Tsauri, Daud bin Ali al-Ashfihani, dan orang yang mengikuti mereka dari belakang seperti Abdullah bin Said al-Kilabi, Abu Abbas al-Qalanisi, dan Harits al-Muhasibi.
Mereka yang namanya disebutkan di atas termasuk di antara ulama salaf yang banyak terlibat dalam kepenulisan ilmu kalam. Dalam mempertahankan akidah, mereka mengunakan argumentasi yang biasanya dipergunakan ahli Ushul Fikih. Banyak di antara mereka yang menulis buku-buku khusus untuk mempertahankan akidah ulama salaf dan membuka pengajian-pengajian untuk menyebarkan akidah salaf.
Dalam kitab, al-Milal wa an-Nihal , karya as-Syahrastani disebutkan bahwa ada empat mazhab di kalangan umat muslim. Pertama, Syi'ah, Qadariyah, Shifatiyah dan Khawarij. Kemudian aliran-aliran yang lain digabungkan ke dalam empat mazhab tersebut.
Setiap mazhab mencabang lagi menjadi sekian banyak sekte hingga jumlahnya mencapai tujuh puluh tiga sekte. Hal ini sesuai dengan sabda nabi yang menyatakan bahwa umat muslim akan terpecah menjadi 73 sekte.
Al-As'ary sendiri adalah pelopor mazhab Shifatiyah. Mazhab ini berdiri secara tegas menolak mazhab Qadariyah atau Muktazilah yang menafikan sifat kepada Allah (Allah tidak punya sifat). Abu Hasan al-As'ary mendebat gurunya sekaligus ayah tirinya Ali al-Jubba'i tentang masalah baik (shalah) dan lebih baik (ashlah).
Dalam perdebatan yang cukup seru itu tampaknya al-As'ary melihat argumentasi gurunya lemah, sehingga al-As'ary menyatakan keluar dari kelompok al-Jubba'i. Al-As'ary telah berpindah dari mazhab Muktazilah ke mazhab Shifatiyah.
Al-As'ary dan al-Maturidi mengarang banyak kitab yang mengunakan argumentasi ilmu kalam. Setelah keduanya wafat, murid-murid al-As'ary dan al-Maturidi mengecek dan mengkaji karya-karya beliau berdua, sehingga dari penelitian tersebut lahirlah mazhab baru bernama Ahlusunah Waljamaah yang disematkan kepada keduanya.
Dengan demikian, istilah Ahlusunah Waljamaah tidak ditemukan di zaman Abu Hasan al-As'ary dan Abu Mansur al-Maturidi, tetapi muncul belakangan yang oleh murid-murid beliau dinisbatkan kepada keduanya.
Karenanya, Syaikh Murtadho az-Zabidi dalam kitab Ittihafu Sadati al-Muttaqin menegaskan:
إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد به الأشاعرة والماتردية
"Ketika disebutkan nama Ahlusunah Waljamaah, maka maksudnya adalah pengikut Abu Hasan al-As'ary dan Abu Mansur al-Maturidi."
Kenapa predikat Ahlusunah Waljamaah disematkan kepada beliau berdua?
Karena keduanya penyelamat akidah ulama salaf dari aliran-aliran menyimpang kala itu. Keduanya menggunakan dalil naqli (al-Quran dan hadis) dan aqli (dalil akal) dalam membela akidah murni ulama salaf. Keduanya juga merupakan perumus akidah ulama salaf. Karenanya, predikat Ahlusunah Waljamaah dinisbatkan kepada beliau, Imam Abu Hasan al-As'ary dan Abu Mansur al-Maturidi.
Refrensi:
Al-Milal wa an-Nihal, karya As-Syahrastani
Al-Farqu Baina al-Firaq, karya al-Baghdadi
Ittihafu Sadati al-Muttaqin, karya Az-Zabidi

Komentar