Langsung ke konten utama

Sekilas Tentang Sejarah Aswaja

Gambar: Daurah Annajah Ramadan 

Sebelum al-As'ary dan al-Maturidi muncul, banyak ulama salaf yang tetap konsisten membela akidah yang benar. Mereka tetap berpegang teguh dan menolak aliran-aliran menyimpang kala itu. Seperti Imam Malik bin Anas (sahabat nabi), Imam Ahmad bin Hanbal, Sofyan ats-Tsauri, Daud bin Ali al-Ashfihani, dan orang yang mengikuti mereka dari belakang seperti Abdullah bin Said al-Kilabi, Abu Abbas al-Qalanisi, dan Harits al-Muhasibi. 

Mereka yang namanya disebutkan di atas termasuk di antara ulama salaf yang banyak terlibat dalam kepenulisan ilmu kalam. Dalam mempertahankan akidah, mereka mengunakan argumentasi yang biasanya dipergunakan ahli Ushul Fikih. Banyak di antara mereka yang menulis buku-buku khusus untuk mempertahankan akidah ulama salaf dan membuka pengajian-pengajian untuk menyebarkan akidah salaf.

Dalam kitab, al-Milal wa an-Nihal , karya as-Syahrastani disebutkan bahwa ada empat mazhab di kalangan umat muslim. Pertama, Syi'ah, Qadariyah, Shifatiyah dan Khawarij. Kemudian aliran-aliran yang lain digabungkan ke dalam empat mazhab tersebut. 

Setiap mazhab mencabang lagi menjadi sekian banyak sekte hingga jumlahnya mencapai tujuh puluh tiga sekte. Hal ini sesuai dengan sabda nabi yang menyatakan bahwa umat muslim akan terpecah menjadi 73 sekte. 

Al-As'ary sendiri adalah pelopor mazhab Shifatiyah. Mazhab ini berdiri secara tegas menolak mazhab Qadariyah atau Muktazilah yang menafikan sifat kepada Allah (Allah tidak punya sifat). Abu Hasan al-As'ary mendebat gurunya sekaligus ayah tirinya Ali al-Jubba'i tentang masalah baik (shalah) dan lebih baik (ashlah). 

Dalam perdebatan yang cukup seru itu tampaknya al-As'ary melihat argumentasi gurunya lemah, sehingga al-As'ary menyatakan keluar dari kelompok al-Jubba'i. Al-As'ary telah berpindah dari mazhab Muktazilah ke mazhab Shifatiyah. 

Al-As'ary dan al-Maturidi mengarang banyak kitab yang mengunakan argumentasi ilmu kalam. Setelah keduanya wafat, murid-murid al-As'ary dan al-Maturidi mengecek dan mengkaji karya-karya beliau berdua, sehingga dari penelitian tersebut lahirlah mazhab baru bernama Ahlusunah Waljamaah yang disematkan kepada keduanya. 

Dengan demikian, istilah Ahlusunah Waljamaah tidak ditemukan di zaman Abu Hasan al-As'ary dan Abu Mansur al-Maturidi, tetapi muncul belakangan yang oleh murid-murid beliau dinisbatkan kepada keduanya. 

Karenanya, Syaikh Murtadho az-Zabidi dalam kitab Ittihafu Sadati al-Muttaqin menegaskan:

إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد به الأشاعرة والماتردية

"Ketika disebutkan nama Ahlusunah Waljamaah, maka maksudnya adalah pengikut Abu Hasan al-As'ary dan Abu Mansur al-Maturidi."

Kenapa predikat Ahlusunah Waljamaah disematkan kepada beliau berdua?

Karena keduanya penyelamat akidah ulama salaf dari aliran-aliran menyimpang kala itu. Keduanya menggunakan dalil naqli (al-Quran dan hadis) dan aqli (dalil akal) dalam membela akidah murni ulama salaf. Keduanya juga merupakan perumus akidah ulama salaf. Karenanya, predikat Ahlusunah Waljamaah dinisbatkan kepada beliau, Imam Abu Hasan al-As'ary dan Abu Mansur al-Maturidi.


Refrensi:

Al-Milal wa an-Nihal, karya As-Syahrastani 

Al-Farqu Baina al-Firaq, karya al-Baghdadi

Ittihafu Sadati al-Muttaqin, karya Az-Zabidi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...