Ada empat ciri utama cara berpikir Ahlusunah Waljamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya:
Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan, tidak liberal dan tidak pula radikal. Ini didasarkan pada firman Allah:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلٰى النَّاسِ
"Dan demikianlah Kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia.." (Qs. al-Baqarah: 143)
Sebagai contoh, perbedaan pendapat mengenai status pelaku dosa besar:
A. Khawarij berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir. Atau meninggalkan amaliah agama menyebabkan seorang mukmin menjadi kafir. Landasan mereka adalah karena amaliah termasuk bagian dari iman.
B. Muktazilah berpendapat bahwa pelaku dosa besar bukan Islam dan bukan pula kafir. Ia berada di antara iman dan kafir.
C. Murji'ah cenderung menetapkan sebagai mukmin sejati. Masalahnya keimanan tidak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan. Keselamatan manusia terletak pada keyakinannya semata. Murji'ah membuat konsep:
لا تضر مع الإيمان معصية كما لا تضر مع المعصية طاعة
"Maksiat seperti apapun tidak ada pengaruhnya kepada seseorang, jika ia beriman kepada Allah. Sebagaimana ketaatan tidak berguna, jika ia kufur kepada Allah."
D. Aswaja berbeda dengan tiga konsep ini. Aswaja berada di tengah-tengah di antara ketiga konsep di atas. Aswaja menyatakan bahwa Amaliah adalah kewajiban, tapi orang yang meninggalkannya tidak sampai kafir. Dia hanya disebut mukmin yang fasik. Pandangan ini adalah pandangan paling moderat.
Kedua, pokok ajaran Aswaja adalah at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (dalil yang bersumber dari al-Quran dan hadis). Hal ini juga didasarkan pada firman Allah:
وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ
"..dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Qs. al-Hadid: 25)
Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Tidak bengkok ke kanan atau ke kiri. Dalam al-Quran Allah berfirman:
ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
"Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Qs. al-Ma'idah: 8)
Keempat, at-tasamuh atau toleransi. Aswaja juga menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup berbeda. Namun, bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda dengan Aswaja.
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
"..maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa dan Harun) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (Qs. Taha: 44)
_______
Rujukan:
Al-Ibanah, karya Abu Hasan al-As'ary
Al-Milal wan Nihal, karya As-Sahratstani
Al-Farqu Bainal Firaq, karya al-Baghdadi
Trilogi Ahlusunah
Buku Pintar Aswaja

Komentar