Langsung ke konten utama

Kebutuhan Bukan Tujuan



Orang yang senang harta dunia dan orang yang tidak senang, sama-sama diberi oleh Allah. Tetapi Allah tidak memberi agama Islam, ilmu agama, amal saleh, kecuali kepada orang menyenanginya.

Nabi Sulaiman dan Zulkarnain diberikan seluruh kekayaan dunia sebagai anugerah. Qarun, Namrud dan Fir'aun juga diberikan kekayaan dunia sebagai istidraj.

Kalau kekayaan dunia sebagai standar ukuran keistimewaan dan kemuliaan seseorang di sisi Allah, maka tidak ada bedanya antara Qarun dan Nabi Sulaiman, antara Namrud dan Zulkarnain!

Nyatanya tidak, standar ukuran kemuliaan adalah seberapa besar ketakwaan seseorang kepada Allah. Orang yang paling takut kepadaNya, dialah orang paling mulia.

Sing penting, harta dunia berada di tangan, bukan di hati.

Harta dunia hanya kereta kehidupan, bukan esensi kehidupan. Harta dunia hanya wasilah untuk menuju Sang Mahakaya, bukan segalanya. Harta dunia hanya kebutuhan, bukan tujuan. 

Memiliki kekayaan dunia tidak dicela dalam Islam. Justru, harta kekayaan yang paling baik adalah ketika harta kekayaan tersebut berada di tangan orang soleh. Seperti Nabi Sulaiman dan Zulkarnain.

Memang betul, kekayaan dunia menjadikan hidup lebih nyaman dan makmur. Tapi, ada banyak hal yang tidak dapat ditukar dengan apapun termasuk dengan kekayaan dunia.

Kekayaan dunia bisa membeli obat, tapi tidak dengan sehat. Bisa membeli tempat tidur, tapi tidak dengan nyenyak tidur. Bisa membeli makanan, tapi tidak dengan nafsu makan. Bisa membeli jam, tapi tidak dengan waktu. Bisa membeli taman anak-anak, tapi tidak dengan anak. Bisa membeli mobil, tapi tidak dengan kaki. Bisa membeli kacamata, tapi tidak dengan mata. Bisa membeli penjilat, tapi tidak dengan teman sejati. 

Orang miskin dan kaya sama-sama memakai satu baju, tidak lebih. Sama-sama memakai satu sandal. Sama-sama makan sesuai dengan porsinya masing-masing. Bahkan, ada orang kaya yang kurus, hanya makan satu piring, karena penyakit yang diderita. Sedangkan orang miskin yang gemuk, bisa makan dua piring.

Jadikan harta dunia sebagai pelayan untukmu, bukan kamu yang menjadi pelayan untuk dunia. Jadikan harta dunia sebagai budak, bukan sebagai tuan. Jadikan harta dunia pengikutmu, bukan kamu yang mengikuti dunia.

Kekayaan dunia kalau diletakkan di bawah kaki, ia akan mengangkat pemiliknya. Tapi, kekayaan dunia kalau diletakkan di atas kepala, maka ia akan merendahkan pemiliknya.

Jalani hidupmu dengan harta dunia, dan jangan jadikan harta dunia sebagai tujuan utama dalam hidupmu.

Sumber: Rasail Min al-Quran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Gembul: Gendut Ngibul

Terus terang, saya sebenarnya malas mengomentari Gugem (Guru Gembul). Tapi masalahnya, ucapan Gugem ini sudah kelewat ngawur, ia sering nyerocos tanpa dasar data. Kadang pakai data, tapi datanya melenceng, tidak akurat, bahkan kabur sumbernya. Entah dari mana ia mendapatkannya, mungkin hanya hasil kira-kira sendiri. Geblek! Maka, sekadar untuk mengisi waktu luang, saya tanggapi sedikit saja. Saya komentari sekilas, tak banyak. Kali ini yang ingin saya soroti adalah ucapannya tentang "mondok" di pesantren. Guru Gembul berkata: “Mondok itu bukan ajaran agama Islam, bukan tradisi Islam. Mondok itu adalah tradisi masyarakat Nusantara. Jadi, kalau saya nggak mondok, nggak ada hubungannya dengan ngak belajar agama Islam. Kalau mondok berarti mengikuti tradisi Nusantara dalam mendidik. Nah, tradisi pesantren itu dari mana, ya dari tradisi Hindu dan Budha dulu, pra-Islam. Pas di zaman Majapahit." Klaim ini jelas tidak berdasar. Ia bukan hasil riset ilmiah, bukan pula kesimpulan ...

Aqaid 50: Siapa yang Merumuskan?

Gambar: hanya ilustrasi Konsep "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin" sangat masyhur di kalangan masyarakat Nusantara, terutama kalangan pesantren. Bahkan tak jarang kita dengar "aqaid 50" ini dijadikan zikir rutin selepas azan di kampung-kampung. Baik ba'da Zuhur, Ashar atau Maghrib.   Dalam literatur kitab karya Imam Abu Hasan Al-Asy'ari kita tidak menemukan pembahasan seputar "aqaid al-khamsin" secara utuh dan lengkap. Baik dalam Al-Ibanah, Maqalah Al-Islamiyin, atau kitab lainnya. Kita menemukan dalam kitab-kitab Al-Asy'ari namun hanya sekilas saja. Ngak lengkap 50 aqaid. Justru perincian "aqaid 50" kita temukan dalam kitab-kitab generasi setelah Al-Asy'ari. Generasi penerus Imam Asy'ari. Lantas, siapa perumus "aqaid 50" atau "aqaid al-khamsin?" Perlu kita bahas, bahwa konsep "aqaid 50" dirumuskan oleh beberapa ulama. Antara lain diprakarsai oleh Imam Sanusi dalam kitabnya Ummu Al-Barahi...

Beda; Marah Allah & Manusia

Dalam kitab Faishal At-Tafriqah, Imam Ghazali memasukkan sifat marah dalam hirarki wujud yang kelima, yaitu "wujud syabahi". Sifat rindu, gembira, sabar, kecewa dan lainnya masuk dalam katagori "wujud syabahi". Wujud syabahi adalah sebuah wujud (ada) yang tidak termasuk katagori wujud dzati, hissi, khayali, dan aqli. Wujud syabahi bersifat keserupaan dan kemiripan, wujud yang bersifat analogis. Dalam bahasa filsafat Yunani wujud syabahi dikenal dengan istilah "antropomorfisme". Adanya wujud ini tidak ada, juga tidak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam memori dan akal kita, melainkan adanya berada pada suatu lain yang menyerupai dalam salah satu kekhususan.  "Adanya wujud ini tidak ada" maksudnya adalah misalnya sifat marah itu ada, melekat pada seseorang, kadang melekat pada hewan, namun sifat marah itu ngak punya bentuk, juga ngak ada gambaran hakikatnya, terlebih dalam perasaan, memori dan akal kita, melainkan adanya sifat marah berada pada...