Langsung ke konten utama

Tafwidl dan Ta'wil

 


Terdapat banyak ayat atau hadis jika diartikan secara literal akan melahirkan kontradiktif. Ayat satu bertabrakan dengan ayat lainnya. Hadis satu bertentangan dengan hadis lainnya. Sehingga para ulama salaf dalam memahami ayat atau hadis menggunakan dua metode, pertama "metode tafwidl" kedua "metode ta'wil".


Tafwidl adalah tidak melakukan penafsiran apapun terhadap teks-teks tersebut, mencukupkan diri dengan penetapan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi Dzat-Nya, menyucikan Allah dari segala kekurangan dan penyerupaan terhadap hal-hal yang baru. (Mazhab Asy'ari, Benarkah Ahlusunah wal Jamaah?/208)


Ta'wil adalah mengalihkan pengertian teks-teks yang mutasyabihat dari makna literalnya dan meletakkan maksud-maksudnya dalam satu bingkai pengertian yang sejalan dan seiring dengan teks-teks muhkamat, yang memastikan kesucian Allah dari arah, tempat dan anggota tubuh seperti makhlukNya. (Mazhab Asy'ari, Benarkah Ahlusunah wal Jamaah?/12)


Dua metode ini digunakan oleh ulama Ahlusunah wal Jamaah untuk memahami ayat atau hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Berikut kami contohkan ayat sifat yang jika dimaknai secara tekstual akan menimbulkan kontradiksi antara ayat satu dengan ayat lainnya:


وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنتُمْ 

"..Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (Al-Hadid: 4)


Ayat ini menggambarkan seakan-akan Allah berada di mana-mana. Allah ada di masjid, di pasar, di lapangan, di kamar mandi, dll, karena Allah bersama kita. Namun ada ayat lain misalnya:


وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ

"Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (As-Shaffat: 99)


Ayat ini justru menjelaskan Allah berada di Palestina, karena Nabi Ibrahim berangkat menuju Palestina untuk menghadap kepada Allah. Ini kan kontradiktif. Atau ayat lain:


ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ 

"..lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy." (Al-A'raf: 54)


Ayat ini menjelaskan bahwa Allah berada di Arsy, bukan di Palestina. Ada juga ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah berada di Tursina, tempat Nabi Musa bermunajat kepada Allah.


وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ


Lalu mana yang benar, Allah bersama kita, Allah di Palestina, Allah berada di atas Arsy, atau Allah di Gunung Tursina?


Dalam memecahkan ini, ulama Ahlusunah wal Jamaah melakukan ta'wil sebagaimana diterangkan oleh Al-Ghazali, "Dia (Allah) bersamamu di manapun kamu berada" maksudnya adalah "pengetahuan Allah meliputi makhlukNya". Jadi, di manapun kita berada, Allah pasti mengetahui. Sebab ilmuNya meliputi semua hal.


"..lalu Dia bersemayam di atas Arsy" maksudnya adalah "Allah menguasai Arsy" bukan bertempat dan menetap di Arsy. Seandainya dibiarkan dengan makna menetap dan mengambil tempat, maka bermakna bahwa yang mengambil tempat adalah jisim (tubuh) yang menyentuh Arsy. Jika Allah dianggap punya tubuh, apakah tubuhNya lebih besar dari Arsy, lebih kecil atau sama ukurannya? Ini semua adalah mustahil. Apapun yang mengantarkan kepada sesuatu yang mustahil adalah mustahil. (Ihya' Ulumiddin/1/401-402)


Dalam memahami hadis, ulama juga menta'wil hadis berikut:


قلبُ المؤمنِ بين إِصْبِعَينِ من أصابع الرحمن 

"Hati orang mukmin itu berada di antara dua jari dari jari-jemari Tuhan Yang Maha Pengasih" maksudnya adalah "Hati orang mukmin berada di antara kekuasaan dan kekuatan Tuhan Yang Maha Pengasih", sebab jika hati orang mukmin dibelah dan diperiksa, kita tidak akan menemukan jari-jemari di sana. Maka bisa diketahui bahwa itu adalah kinayah (kiasan) tentang "kekuasaan" yang itu merupakan rahasia jari-jari dan ruhnya yang tersembunyi. (Ihya' Ulumiddin/1/397-381)


Ada juga hadis:


الحجر الأسود يمين الله في أرضه

"Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di muka bumi ini," maksudnya adalah Hajar Aswad itu dimuliakan dan diagungkan oleh Allah. (Ihya' Ulumiddin/1/401-402)

Komentar